Aleksius Adu: Masalah Medi dan Kristin Hanya Miskomunikasi dan Misunderstanding

181

BIDIKNEWS.id, Mnggarai Timur– Aleksius Marianus Adu, SH, Kuasa hukum Sales Medi menyebutkan kejadian yang menimpa kliennya Sales Medi dan Kristin Karvallo merupakan sebuah kejadian miskomunikasi dan berujung misunderstanding.

Ditemui Bidik News diruang kerjanya, Jumat, (04/12/2020) mengatakan bahwa persoalan tersebut sebenarnya bukan sebuah perkara karena sifatnya situasional dan insidentil.

Aleks mengungkapkan, kejadian itu sangat situasional. “Coba dibayangkan bagaimana Klien kami berada di puskesmas Borong dari pukul 13.00 dan korban baru mendapatkan tindakan medis pada pukul 20.00 wita, dan terjadi miskomunikasi lantantaran korban baru mendapatkan fasilitas rawat inap pada pukul 00.50 wita,” ungkapnya.

Advertise

Baca Juga

Ia menjelaskan, bisa saja Sales Medi dan Keristin Carvallo sama-sama mengalami kelelahan, oleh karenanya situasinya tidak kondusif. Sehingga terjadi miskomunikasi dan menurutnya sangat manusiawi.

Berhubung ke dua belah pihak sudah saling melapor kepada pihak kepolisian, oleh karenanya dalam pemeriksaan materil/pidana harus berbasis pada Lokus dan Tempus delikti. Untuk itu, lanjutnya, pihak-pihak yang bukan merupakan saksi di tempat kejadian perkara (TKP) untuk tidak menggoreng-goreng situasi ini. Lanjutnya, kejadian ini harus dilihat secara obyektif dan proporsional.

Berhubung persoalan ini, ujar Marianus, belum menjadi sebuah perkara atau kasus karena masih level penyelidikan, untuk itu kami sambut baik keinginan maupun upaya-upaya positif dari PPNI Pusat maupun PPNI NTT yang sudah terkonfirmasi melalui pembicaraan video call dan pesan whatsapp bahwa beliau – bliau akan hadir pada hari Selasa Desember mendatang di Borong.

“Klien kami Medi dan Kristin adalah putra putri terbaik Manggarai timur yang sudah mendapat kepercayaan masyarakat untuk masuk ke ruang publik, guna mengemban tugas- tugas pelayanan kepada masyarakat. Melalui peristiwa ini akan ada perubahan dan perbaikan serta peningkatan mutu pelayanan, baik di DPR dan Kesehatan. Tugas moral dan profesional saya terletak pada bagaimana saya mengerti dan memahami keinginan masyarakat dan tidak sekedar menyangkut urusan bersifat teknis hukum,” ungkapnya.

Lanjutnya degan tegas, Kita ini orang Manggarai yang seharusnya menjunjung tinggi kearifan dan keluhuran budaya Manggarai. Hentikan! “neka pande ritak”, jangan bikin malu,” tuturnya.

Ia berharap, makna dari peristiwa tersebut dalam rangka perbaikan, mindset dan semangat membangun Manggarai Timur menuju perubahan.

Laporan: Biro NTT_Nardi Jaya