Anak Haram Ideologi?

8
Foto: Dok bidiknews.net

 
                                Tebet, 28/5/2019. By Munir

Negara adalah produk tertinggi politik. Dan agak aneh saja, jika Politik itu, hampa ideologi. Lah terus apa jadinya negara? Kan state behaviour itu tergantung pada apa ideologi negaranya? Jadi kalau state behaviour agak aneh-aneh, maka tentu ideologi negaranya abu-abu atau pseudo. Pseudo seperti jenis spesies yang memiliki banyak kaki bayangan.
Soekarno pernah memberikan jiwa Nasakom pada negara, Soeharto, pernah memberikan jiwa developmentalisme pada negara, Habibi pernah memberikan jiwa teknokratisme pada negara, Gusdur pernah memberikan jiwa pluralisme pada negara, Mega sebagaimana seolah-olah bapaknya, ingin memberikan Jiwa Marhaenisme pada negara, SBY, memberikan jiwa democratism pada negara, Jokowi? Wallahu’alam. Hanya dia dan Tuhan yang tahu jiwa apa yang diberikan pada negara.
Kalau kita ini negara demokrasi Pancasila, maka mestinya, state behaviour-nya berdasarkan ketuhanan (godhead), kemanusiaan (humanity), persatuan (unity), permusyawaratan (deliberation) dan keadilan sosial (social justice). Jadi;  state behaviour ada pada asas-asas fundamental demokrasi Pancasila.
Namun jika kita ini sosialis atau komunis, maka state behaviour -nya tertuju pada hilangnya kepemilikan individu terhadap sumber-sumber produksi ekonomi, dan dikukuhkanlah suatu kepemilikan bersama terhadap modal serta sumber-sumber produksi ekonomi yang dikontrol secara ketat oleh negara.
Demikianpun, jika kita ini negara kapitalis, maka state behaviour -nya tertuju pada terkikisnya peran negara, sementara sumber-sumber produksi ekonomi diserahkan pada mekanisme pasar bebas, dan setiap warga negara dibiarkan bertarung sesuai dengan kepemilikan modal masing-masing. Memang ini agak liar dan badung.
Lantas, kita ini negara apa?
Ya kita adalah negara sebagaimana behind of  ideology atau behind of  history dari ideologi negara. Dalam operasional teknis ekonomi, kita menganut juga sistem syari’ah dengan jurisprudence agama, sementara kita menjalankan asas-asas sosialis terhadap sumber-sumber ekonomi yang bersangkut dengan hajat hidup orang banyak. Sementara kita maniak kapitalis dalam sistem devisa bebas sesuai UU.
Jadi kita ini negara terbuka. Negara demokrasi Pancasila yang ramah terhadap berbagai macam ideologi. Ibarat kata asbak, puntung rokok apapun boleh masuk. Asalkan semua tetamu yang datang bisa merokok dengan bahagia.
Saya masih ingat tuh, di tahun 2001-2002, ketika masih di HMI komisariat. Disitu para senior HMI seperti bang Kasim Bapang dan Syarif Amaraja, bicaara soal konstelasi ideologi dunia. Jadi secara world view, dalam diagram, Pancasila itu, terlihat sebagai subordinasi dari sosialisme, komunisme dan kapitalisme. Dimana agama? Secara state behaviour, atau corak bernegara, agama pun adalah subordinasi dari sosialisme-komunisme dan kapitalisme.
Negara yang 100% Islam sekalipun, tidak taken for granted  terhadap Al quran sebagai Konstitusi negara. Bahkan Rasulullah sendiripun menjadikan Piagam Madinah sebagai konstitusi dalam mengatur kehidupan sosial masyarakat Madinah dan Al qur’an sebagai sumber utama inspirasinya.
Jadi dengan men-declare diri sebagai “paling Pancasila” juga percuma, karena dalam DNA ke-pancasila-an kita, ada juga DNA agama, sosialisme, komunisme dan kapitalisme. Kalau begitu, kita ini anak haram ideologi? Tidak juga, biar agak enak, begini saja, bahwa dalam tubuh ideologi kita sebagai warga negara, bersekutulah gairah agama, sosialisme, komunisme dan kapitalisme. Kita adalah tubuh ideologi yang di dalamnya bersekongkol beberapa ideologi dunia. Mau apa? Memang begitu adanya ! Wallahu’alam