BEM UI dan Kegagalan Hegemoni Rezim

121

BIDIKNEWS.id, Nasional – Ditengah gempuran pandemi, kebijakan tanpa karakter menyebabkan kegamangan antara keselamatan rakyat dan pemulihan ekonomi. Prakteknya, ekonomi semakin merosot tajam, kesehatan dan keselamatan rakyat terancam seiring jatuhnya banyak korban dan semakin berlarutnya belenggu CoViD-19.

Konyolnya, Jokowi sendiri maupun pejabat-pejabatnya justru tidak konsisten bahkan melanggar aturan-aturan dan prokes yang dibuatnya sendiri. Rakyat tertawa menyaksikan langsung perangai buruk kekuasaan sambil sesak mengurut dada. Rakyat menyadari bahwa Jokowi memerintah dengan uang dan kekuasaan, bukan memanusiakan rakyatnya. Apalagi mewujudkan negara kesejahteraan.

Keterbelahan masyarakat semakin terus manajam sejak Jokowi memimpin pemerintahan. Sebagai presiden yang semata-mata dibentuk oleh citra dan daya dukung borjuis korporasi. Jokowi sempurna menjadi figur yang kenyataan dirinya jauh bertolak belakang dengan rekayasa dan topeng yang dipaksakan dan dibuat secara masal oleh para politisi, media dan relawan-relawan opportunisnya, terlebih buzzerRp.

Bekal calon kepresidenannya nyaris tidak ada yang istimewa bahkan minim prestasi. Saat menjadi presiden pada periode pertama, Jokowi praktis hanya bermodal Walikota Solo yang sepi dari karya dan kinerja fenomenal buat rakyat.

Hanya satu yang terdengar, saat seorang Jendral Bibit Waluyo yang gubernur Jawa Tengah mengkritik kepemimpinan Jokowi saat menjabat Walikota Solo. Waktu itu Gubernur Jawa tengah dianggap membully Jokowi karena menghambat investasi terkait penolakan perijinan pembangunan pusat kegiatan ekonomi di wilayahnya.

Media seolah-olah mengesankan Jokowi berpihak pada masyarakat kecil. Mirip ketika Taufik Kiemas (alm) mengatakan Jendral SBY seperti kekanak-kanakan jelang pilpres 2004, dan menimbulkan opini SBY terdzalimi dan semakin mendongkrak namanya.

Momen perseteruan Bibit Waluyo dan Jokowi itu terkesan memunculkan “play of victim” bagi Jokowi yang relatif hanya dikenal publik Solo. Dari sinilah skenario pencitraan besar-besaran seorang Jokowi dimulai. Tersirat Jokowi sudah disiapkan untuk tampil di panggung kekuasaan nasional. Tentu saja dengan dukungan relasi birokrat, bisnis, politisi, dan jendral yang juga kawan-kawan bisnis dekatnya.

Raja Citra

Jadilah Jokowi sosok media darling yang idol dan menyihir. Seperti barang dagangan, Jokowi tak ubahnya produk yang kemasannya didesain sebagus mungkin tanpa memedulikan kualitas isinya. Menariknya, apa yang dulu dibranding tentang kesederhanaan, kepedulian pada rakyat jelata dan kejujuran pada sosok Jokowi, semuanya palsu.

Seiring waktu dan proses kebijakan pemerintahannya, akhirnya rakyat mengetahui siapa Jokowi yang sesungguhnya. Sungguh terbalik sifat dan perangai asli dengan citra yang dibangun. Secara personal keluguannya semu, secara kebijakan jauh lebih bengis dari presiden-presiden RI sebelumnya.

Pun, memasuki periode kedua pencalonan presiden. Dengan segudang kegagalan janji dan proyek kontroversi beresiko dengan hutang meroket dan mengancam kedaulatan negara. Lagi-lagi Jokowi, melenggang ke kursi presiden dengan seolah tanpa beban dan tanpa dosa.

Periode keduanya ini semakin jelas dan nyata, betapa borjuasi korporasi dan relasi ekonomi politik Tiongkok mencengkram kuat Jokowi. Alhasil pemerintahan Jokowi dikuasai dan menjadi jongos mafia bisnis dan hukum.

Jokowi terus mengambil posisi yang memuncaki oligarki, anti demorasi dan super represif pada rakyatnya sendiri. Bahkan semua proyek mercusuar yang dibangga-banggakan seperti infrastruktur selain mendongkrak hutang negara, pengelolaannya terancam bangkrut dan sebagian sudah dijual ke asing.

Negara dibawah kekuasaan rezim Jokowi, seolah dikangkangi preman berseragam dan institusional serta sindikat Tiongkok internasional. Hingga salah satu media nasional mengilustrasikan Jokowi dengan Pinokio. Boneka yang manis dan lucu. Boneka buatan yang penurut tapi hidungnya memanjang saat berbohong.

Lucunya, dari periode pertama dan periode kedua yang belum juga usai. Irisan kekuasaan memunculkan wacana Jokowi untuk presiden tiga periode. Sungguh perbuatan yang sangat tidak tahu malu dan tidak beradab. Memang lisan Jokowi secara terbuka menyatakan menolak wacana itu. Tapi seperti biasa, Jokowi ahli dalam memainkan mimik, gimik dan gestur.

Apa yang dipikirkan dan dikatakannya, sesungguhnya kontradiksi dengan apa yang dilakukannya. Rakyat terlanjur mendengar dan merasakan Jokowi seorang presiden yang penuh dengan kebohongan. Seperti Kata aktifis mahasiswa lewat BEM UI, Jokowi “The King of Lip Service.”

Oleh : Yusuf Blegur
Pekerja sosial dan aktifis Yayasan Human Luhur Berdikari