Diduga Akibat Lintasan Eksavator dan Mobil Proyek PT.PP, Jalan Trans Pantar Rusak Parah

291

BIDIKNEWS.id, Alor - Infrastruktur jalan merupakan lokomotif untuk menggerakan pembangunan ekonomi, bukan hanya di perkotaan saja tetapi juga di wilayah pedesaan. Sekaligus sebagai salah satu indikator untuk menentukan kelancaran arus barang, jasa, manusia dan juga informasi dari satu tempat ke tempat lainnya.

Ketika kondisi ruas jalan mengalami kerusakan apalagi dengan waktu yang cukup lama, akan sangat menggangu bahkan bisa saja dapat menghentikan kelancaran arus barang, jasa, manusia dan juga informasi tersebut.

Khususnya di Kabupaten Alor, untuk menjawab kemudahan dalam mendukung program pemerintahan Bupati Drs. Amon Djobo dan Wakil Bupati Imran Duru, M.Pd., infrastuktur jalan sangat dibutuhkan guna mencapai Pilar "Alor Kenyang, Alor Pintar dan Alor Sehat".

Namun pada kenyataannya, begitu banyak ruas jalan rusak di Kabupaten Alor yang cukup lama belum disentuh oleh pemerintah Kabupaten, Provinsi maupun Pusat.

Hal itu bisa disaksikan di jalur Manatang-Warsalelang, Desa Mawar dan desa lain di wilayah Kecamatan Pantar Timur, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Terdapat sejumlah titik kerusakan jalan sepanjang kurang lebih 2 kilometer.

Informasi yang dihimpun Bidik News, kerusakan jalan ini diduga akibat dari eksavator dan kendaraan proyek milik PT.PP yang melintas di ruas jalan tersebut saat membawa muatan berat dari Bakalang (Desa Batu) ke Desa Bungabali, Desa Kaleb, Desa Nule dan lainnya.

Kerusakan jalan ini tentunya sangat meresahkan warga pejalan kaki maupun pengendara. Bukan hanya itu saja, kerusakan ini juga dapat mempengaruhi arus perekonomian pengendara roda dua maupun roda empat milik warga yang mengangkut penumpang melintasi jalur tersebut untuk mendapatkan pemasukan demi kehidupan sehari-hari.

"Ini jalan yang mulai dari Pustu Tuak Gimiming (Manatang) sampe turun di warsalelang ni Oto (mobil) proyek dong lewat dengan muatan berat terus jadi su hancur parah (rusak berat). sampe anak sekolah yang orang Manatang pagi (dan) siang (pergi) pulang sekolah (di Warsalelang) ni dong lipat kaki celana dan buka sepatu pegang di tangan baru mulai lewat masuk di air lumpur dong sampe kampung. Motor tu na kita tasalah (kurang fokus) jatuh berarti berenang (celup) di dalam kolam lumpur (bisa) langsung jatuh masuk kota (jurang). Oto (mobil) kecil tu na dia pu mesin mulai tatoki (kena) dari ujung sampe ujung (ruas jalan yang rusak)," kata sumber yang tidak ingin namanya dipublikasikan kepada Bidik News.

"Kita su ada kasitau (sampaikan) semua sopir (kendaraan proyek) kalau pulang (antar muatan) na tolong ko bikin (buat) baek tu jalan dulu, kita omong ulang-ulang ma (juga) tetap sama saja karena bilang dong (sopir kendaraan proyek) su ada kasitau (sampaikan) orang perusahan (PT.PP) ko pulang na isi tanah ma itu yang bilang orang perusahan dong ju hanya malas tau saja jadi," lanjut sumber itu.

Sementara itu, Kepala Desa Mawar, Jonathan Peni saat dikonfirmasi Bidik News, Minggu (20/2/2022), membenarkan kerusakan ruas jalan jalur Manatang-Warsalelang.

"Awalnya itu memang tidak seperti (kerusakan jalan) itu. Kebetulan ada eksavator pihak kontraktor (PT.PP) yang lewat sekitar jam 2 dini hari. Saya dapat telepon (informasi) dari RT/RW, saya bilang tahan, kalau pake ban Ok (lepas) itu. Ternyata ban yang dong pake rolling (lintasan eksavator) itu ada 5 ban. Jadi saya bilang untuk apa itu (5 buah) ban. Ban itu sekitar puluhan keatas baru bisa," ujarnya.

Jonathan mengungkapkan pasca kerusakan jalan tersebut, selalu mendapatkan pengaduan dari warganya baik masyarakat maupun anak sekolah.

"Kalau kita lewat di jalan itu pas mobil muat berat lewat kita harus menjauh dulu sampai mobil lewat baru kita jalan, kalau kita yang laki-laki na lipat naik kaki celana baru bisa. Yang paling parah lagi nih kita punya anak sekolah, jalan kaki dari sini (Manatang) sampai SMP Satap (Warsalelang). Begitu juga pulang," ujar Kepala Desa Mawar.

Lebih lanjut kata Jonathan, dirinya sempat didatangi pihak PT.PP, namun tidak bertemu. Karena dirinya kala itu tidak berada di Kantor Desa maupun Rumah Jabatan Kepala Desa Mawar.

"Satu kali itu ada orang dari (PT) PP datang disini (Kantor Desa maupun Rumah Jabatan Kepala Desa Mawar) datang tanya saya, tapi kebetulan waktu itu saya tidak ada disini. Ada tanya ini jalan bilang ada laporan," tandasnya.

"Ternyata kita punya masyarakat disini ada 4 orang yang kerja itu perumahan. Ada 4 rumah yang mereka kerja sampai dengan kemarin ini saja (PT.PP) belum bayar dong (masyarakat) punya upah," lanjutnya.

Sekedar diketahui, jalan Trans Pantar yang rusak parah ini masih berumur kurang lebih 3 tahun setelah selesai diaspal.

PT.PP kontraktor pelaksana perumahan rakyat dan bangunan lainnya di pulau pantar akibat Badai Siklon Tropis Seroja pada April 2021 lalu.

Hingga berita ini ditayangkan, Bidik News belum berhasil konfirmasi pihak PT.PP.

Laporan/Editor: Markus Kari