Eka Sila Adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, Bukan Gotong Royong

5

Oleh : Yusuf Blegur
Penulis adalah mantan Presidium GMNI dan aktif sebagai Pekerja Sosial Masyarakat (PSM).

BIDIKNEWS.id, Opini – Inti dari Panca Sila atau kalau mau disebut dengan Eka Sila, sebenarnya yang lebih tepat adalah Ketuhanan Yang Maha Esa (Tauhid). Bukan gotong royong.

Tidak ada rumusan persoalan teknis dalam kehidupan kemanusiaan yang mendahului keberadaan Tuhan. Prinsip-prinsip ketuhanan merupakan pemahaman paling fundamental yang menjadi sumber berkembangnya cara berpikir atau nalar manusia dalam tataran logika dan kejiwaan. Baik aspek ideal, spiritual maupun rasional materil.

Advertise

Baca Juga

Dalam sejarah pertumbuhan kebudayaan dan keagamaan di Indonesia sendiri. Praktek-praktek penyerahan diri dan pengakuan akan adanya kekuatan yang lebih besar diluar dirinya sudah ada kala itu. Hal ini Menandakan karakteristik masyarakat Indonesia bahkan sejak masih zaman kerajaan, kuat menganut ritual penyembahan dan pengorban.

Meski masih dalam bentuk kepercayaan, berupa animisme dan dinamisme dan beberapa pemahaman spiritual lainnya. Masyarakat Indonesia jauh sebelum kemerdekaan sudah melekat budaya dan tradisinya yang menyiratkan kebiasaan-kebiasan religiusitas.

Seiring waktu, lewat akulturasi dan penetrasi dalam berbagai kebudayaan dan tradisi yang dianut masyarakat Indonesia sebelumnya. Juga pesatnya perkembangan ilmu dan pengetahuan. Agama menjadi lebih dominan dan bisa diterima khalayak luas dengan damai dan harmonis tanpa kekerasan dan konflik.

Kemudian, cara berpikir dan bertindak serta kejiwaan mayarakat semakin dipengaruhi oleh agama. Dalam hal ini agama Islam menjadi agama yang begitu kuat menjadi “influencer” sekaligus menentukan arah perjalanan peradaban kebangsaan (lihat penentuan dasar negara setelah kemerdekaan dan polemik sekaligus konsensus penghilangan kata syariat Islam dalam sila Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Panca Sila).

Bukan hanya pada persoalan teknis dan strategis, ke-Islaman menjadi faktor utama yang melekatkan keberadaan NKRI, Panca Sila dan kebhinnekaan negara bangsa yang tetap harus bertumbuh pemaknaannya.

Seperti Soekarno dan banyak lagi perumus Panca Sila. Panca Sila yang digali dari buminya Indonesia, tentulah mengadopsi kebiasaan-kebiasan masyarakat yang tidak bisa lepas dari perlakuan terhadap dirinya sendiri, antar sesama, terhadap alam dan terkait hubungannya dengan Sang Pencipta yang berarti Tuhan yang bersemayam dalam lahir dan batinnya.

Oleh karena itu, menjadi lebih tepat dan berdasar, bahwasanya masyarakat Indonesia yang religus telah menempatkan prinsip-prinsip Ketuhanan yang menaungi tata pergaulan antar sesama dalam kehidupan bermasyarakat, beragama, bernegara dan berbangsa.

Kesadaran akan nilai-nilai itu menjadi relevan, saat Ketuhanan Yang Maha Esa itu menjadi salah satu sila dan ditempatkan sebagai sila utama dan inti dari keberadaan Panca Sila. Dalam persfektif itu, kehidupan ber-ke-Tuhanan menjadi landasan sekaligus panduan kehidupan antara sesama manusia dengan manusia dan antara manusia dengan Tuhannya.

Bukan gotong royong, karena nilai gotong royong tak ubahnya persoalan tata-laksana sistem yang sejatinya menjadi partikel-partikel keagamaan, atau tak bedanya soal pilihan suatu negara yang menganut sistem kapitalis atau komunis dalam menjalankan susunan ekonomi dan politiknya.

Editor : Redaktur Bidik News