Fenomena Akun Palsu dan Kedewasaan Demokrasi

15
Sumber Foto : Google

Oleh : Sya’ban Sartono Leky

Usai sudah rangkaian perhelatan besar negeri. Pesta Demokrasi di desain sebagai hajatan Rakyat. Tempat dan momen dimana rakyat mengekspresikan kegembiraannya, sekaligus menyampaikan keluh kesahnya, ekspresi dan caranya sangat beragam, diksi dan pilihan kata yang digunakanpun bervariasi, sesuai dengan tingkat kepekaan sosial seseorang. Akhlak bukan soal starata pendidikan, tapi soal kedewasaan demokrasi dan kepekaan sosia. Tidak memandang usia bahkan jenis kelamin.
Mulai dari Pilkada, Pilpres, sampai pada Pilkades punya cerita tersendiri. Banyak kenangan dan pelajaran berharga pada momen momen itu. Saling bersilang pendapat, pemahaman, bahkan visi misi dalam pembangunanpun kadang berbeda. Dan itulah proses demokrasi. Demokrasi sejatinya adalah penyatuan perbedaan hingga terbentuk 1 persepsi dalam membangun. Historis perjalanan bangsapun demikian adanya. Perdebatan panjang soal konsep negara mewarnai perjalanan menuju kemerdekaan. Tidak ada yang bim salabim
Akun Palsu atau Fack Acount mengambil bagian terpenting dari Demokrasi, dari desa sampai menasional, fenomena ini ditemukan. Sebut saja akun Facebook Annisa Madaniyah, Kata Kita dll. Di twitter Hulk Idn, Opposite 6890, di Instagram ada Mak Lambe Turah dan macam macam akun lainnya. Pesan yang disampaikannnya pun beragam, Annisa Madaniyah misalnya mengkritisi Jokowi dan asal usulnya, Hulk Idn dan Opposite 6890 seolah detektif atau Intelijen yang siap membongkar sesuatu yang hendak terjadi di negeri ini. Mak Lambe Turah dan Kata kita seolah di Posisi Jokowi dan Penguasa yang siap menyerang Oposisi.
Munculnya akun palsu ini cukup susah untuk dibendung. Bahkan negarapun berat mengambil tindakan represif terhadap akun akun itu. Meresahkan memang, cukup mengguncang dada tapi itulah demokrasi selalu memiliki bagian yang unik. Dan ketahuilah keunikan itu mendewasakan kontestan dan atau pemimpin, memberi pelajaran arti kedewasaan. So, jika kita bukan sebagai bagian dari topik yang ia bicarakan, maka sikapilah dengan kepala dingin. Terlepas dari itu, ada langkah hukum yang bisa ditempuh guna mendemokrasikan setiap elemen bangsa.

Fenomena ini juga memberikan Warning, bahwa Demokrasi kita sekarang lagi sedang tidak baik. Bisa jadi karna tertutupnya ruang kritis, atau di tersumbatnya media informasi dalam menyeimbangi sebuah narasi ataukah rusaknya Sumber Daya Manusia sebagai elemen penopang Bangsa yang kian hari kian dirongrong kerusakan yang sangat akut. Di negara negara Barat, Demokrasi sudah sampai pada kematangannya, bahkan menuju jatuhnya, sedangkan di negeri ini, baru dalam perjalanan kesana, dan pasti akan eksis di masanya dan sampai hilang hingga timbul konsep yang baru lagi. Itulah kehidupan.

Ketahuilah, setiap masa punya konsep tersendiri dalam pembangunan bangsanya, dan setiap bangsa pada dekade tertentu pasti ada Tokoh yang membawa perubahan itu. Itulah konsep keseimbangan alam. Tak satupun unsur dibiarkan berdiri sendiri, kebaikan, ada kejahatan yang terus mendampinginya. Ada Fir’aun, maka diutuslah Musa, ada Dajjal, maka diutuslah Almahdi, begitu sampai seterusnya. So, marilah Dewasa dalam Berdemokrasi.
Wallaahu A’lam Bishshowab….