Hukum Murtad Demi Menikah dengan Pria Non Muslim yang Menghamilinya

126

🔗Soal:
Bagaimana hukum menikahkan wanita Muslimah yang terlanjur Hamil diluar Nikah dengan pria Non muslim dan apakah Boleh Wanita itu Murtad dan menikah dengan lelaki Non muslim tersebut.?

✍Dijawab oleh:
Harianto Fernandes
[Mahasiswa Universitas Islam Madinah]

🔗Jawab:
Alhmdulillah wassholatu wassalamu alaa rosulullah wa ba’ad,

Advertise

Baca Juga

Diantara larangan yang menjadi perhatian khusus di dalam Al-Quran adalah larangan melakukan perbuatan zinah dan jalan-jalan yang mengarah kepada perbuatan tersebut, karena zinah adalah perbuatan tercela dan seburuk buruknya jalan, Allah berfirman:

وَلَا تَقۡرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰۤۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَـٰحِشَةࣰ وَسَاۤءَ سَبِیلࣰا

Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.
[Surah Al-Isra:32]

Dan yang lebih besar dari pada itu dan dari semua dosa yang ada di dalam agama islam, adalah dosa meninggalkan dan keluar dari agama islam (murtad),

karena sesungguhnya orang yang murtad dari agama islam, maka akan sia sialah semua amalannya dan kelak di hari kiamat ia akan kekal di neraka jahannam, Allah berfirman:

(وَقَدِمۡنَاۤ إِلَىٰ مَا عَمِلُوا۟ مِنۡ عَمَلࣲ فَجَعَلۡنَـٰهُ هَبَاۤءࣰ مَّنثُورًا)

“Dan kami datangkan kepada mereka (orang orang kafir) semua amalan amalan yang telah mereka lakukan, dan kami jadikan ia bagaikan debu yang beterbangan”
[Surat Al-Furqan 23]

Dalam kasus pertanyaan di atas, ada beberapa hukum yang harus di ketahui,

1⃣Pertama:

Tidak boleh bagi wanita tersebut untuk menggugurkan janinya meski janin tersebut adalah hasil dari hubungan di luar nikah, terlebih lagi apabila usia kehamilan sudah mencapai 4 bulan, yang mana dalam usia ini, hampir semua ulama sepakat keharaman menggugurkan janin apapun alasannya..

Hal ini berlandaskan kisah seorang “Ghamidiyyah” seorang wanita yang berzinah di zaman Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- yang mana Rasulullah -shallalahu alaihi wasallam- menunda menghukum wanita tersebut sampai ia melahirkan anaknya dan telah selesai menyusuinya. (Hr.Muslim/4406/4407).

2⃣Kedua:
Ketika anak tersebut telah lahir, maka ia disandarkan nasabnya kepada ibunya dan tidak di sandarkan nasabnya kepada orang yang berzinah dengan,

Hal ini sebagaimana di sebutkan dalam fatwa Lajnah Daimah (22/34):

أما ولد الزنا فيلحق نسبا بأمه ، وحكمه حكم سائر المسلمين إذا كانت أمه مسلمة ، ولا يؤاخذ ولا يعاب بجرم أمه ، ولا بجرم من زنا بها ، لقوله سبحانه : ( وَلاَ تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى ) ” انتهى .

“Adapun anak (hasil) zinah maka nasabnya di sandarkan kepada ibunya, dan hukumnya seperti hukum muslim yang lain apa bila ibunya seorang musliman, dan dia tidak di cela dengan perbuatan ibunya atau perbuatan orang yang berzinah dengannya, hal ini berdasarkan firman Allah: (Dan tidaklah seseorang menanggung dosa orang lainnya)
Qs.Fatir:18 -selesai-

3⃣Ketiga:

Seorang Wanita Muslimah Haram hukumnya menikah dengan seorang pria non muslim, sebagaiman firman Allah:

(فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلاَ تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ لاَهُنَّ حِلُُّ لَّهُمْ وَلاَهُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ)

“Maka Jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (Wanita Muslimah Benar-Benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada orang-orang kafir (suami-suami mereka). Mereka(Wanita Muslimah) tidak halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tidak halal bagi mereka(Wanita Muslimah).

(QS. Al-Mumtahanah: 10)

Oleh karena itu wanita dalam kasus ini tidak boleh menikahi pria non muslim yang telah ia berzinah dengannya, meskipun telah ada janin di dalamnya, kecuali bila pria tersebut bertaubat dan masuk islam setelahnya.

4⃣Keempat:

Tidak boleh bagi wanita tersebut untuk keluar (murtad) dari agama islam demi menikahi pria non muslim yang telah berzinah dengannya, meskipun telah ada janin di dalam rahimnya, hal ini karena sesungguhnya murtad adalah perbuatan yang sangat besar dosanya bahkan tidak diampuni bila orang tersebut mati dalam keadaan kafir kepada Allah.

5⃣Kelima:

Dan yang paling utama dalam kasus ini, hendaklah wanita tersebut bertaubat kepada Allah dan tidak berputus asa dari rahmat Allah, karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun atas segala dosa hambaNya,Allah berfirman:

( قُلۡ یَـٰعِبَادِیَ ٱلَّذِینَ أَسۡرَفُوا۟ عَلَىٰۤ أَنفُسِهِمۡ لَا تَقۡنَطُوا۟ مِن رَّحۡمَةِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ یَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِیعًاۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِیمُ)

“Katakanlah kepada hamba hambaKu yang melampaui batas atas dirinya sendiri, jangalan berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni segala dosa, dan sesungguhnya ia Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang”
[Surat Az-Zumar 53]

Sebagai penutup kami menasihatkan kepada para wanita Muslimah untuk senantiasa Menjaga diri dan agamanya dan mengingat bahwasanya segala kemulian hanya dari Allah ta’ala semata

مَن كَانَ یُرِیدُ ٱلۡعِزَّةَ فَلِلَّهِ ٱلۡعِزَّةُ جَمِیعًاۚ

Barangsiapa menghendaki kemuliaan,maka (ketahuilah) kemuliaan itu semuanya milik Allah.
[Surah Fatir:10]

Dan teruslah berusaha menjadi wanita Muslimah yg baik dan senantiasa berbuat baik karena kebaikan akan dibalas dengan kebaikan pula

هَلۡ جَزَاۤءُ ٱلۡإِحۡسَـٰنِ إِلَّا ٱلۡإِحۡسَـٰنُ

Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula).
[Surah Ar-Rahman:60]

Wallahu a’lam bisshowab