Ikhlash itu Mudah, tapi Sulit

7

Oleh Derhana Bulan Dalimunthe Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Konsentrasi Hermeneutika Al-Qur’an Email: derhanabulan1995@gmail.com Setiap manusia mempunyai hati nurani dan tak ada pertemuan yang kebetulan. Dari pertemuan itu banyak pengalaman, pengalaman yangmengajarkan untuk tidak mudah jatuh dan mengalah. Sekeras apapun batu jika ditetesi dengan air satu titik saja dengan waktu yang cukup lama maka iya bisa terbelah juga. Pengalaman selalu mengajarkan kita untuk tetap sabar dan ikhlas dengan segala yang terjadi. Sudah sampai dimanakah tingkat keikhlasan kita? Apakah hati kita masih meminta pujian selainnya? Atau masihkah kita butuh balasan yang setimpal dengan yang kita lakukan atau apakah hati masih saja berkata, “Bisakah dia ucapkan terimakasih saja”. Manusia memang tempatnya salah dan lupa. Namun, tak boleh sampai disini karena manusia diberikan akal dan pikiran untuk menentukan jalan hidupnya. Masihkah kita betah di zona aman atau siap dengan tantangan yang tidak pernah terbayangkan. Memang tak mudah dan akan banyak hal yang mengucapkan salam padamu hingga engkau akan berkata, “sudahlah aku tak mampu lagi melangkah”. Pasrah, lelah, marah, sakit bahkan luka di atas luka itu semua yang akan bertemu denganmu jika engkau telah memilih jalan untuk zona tidak aman. Lalu apa yang engkau butuhkan setelah ini, tentunya hal ini tak lepas dari keikhlasan dan kesabaran. Hemmmm… ini terlalu simple kedengaran, dan untuk menjalaninya butuh ilmu dan waktu. “Ikhlas” kata ini hampir setiap hari terucap di sekeliling kita. Namun, sampai dimanakah ikhlas ini kita aplikasikan dalam hari-hari kita. Saat yang kita bayangkan tak sesuai dengan realita, maka kata ikhlas pun langsung terdengar dari sekitar kita. Hemmmm… simple memang kedengarannya, tapi untuk menjalaninya butuh kesiapan hati. Ketika hati masih saja merasa tak rela dengan apa yang allah takdirkan berarti ada yang salah. Pernahkah kita diam sejenak saja untuk mencari tau apa yang salah? mengapa begini? aku kan sudah begini, sudah kulakukan semuanya, atau bahkan tak ada lagi yang tidak aku beri lalu mengapa begini? Semua ini adalah perkara hati yang belum ikhlas walau mulut telah berkata aku telah ikhlas. Urusan hati memang tak semudah yang kita bayangkan. Berdamai dengan hati membutuhkan riyadhoh yang lama. Karena, bagaimana mungkin kita meminta berdamai dengan orang lain sedang kita belum juga berdamai dengan diri kita. Lho lho, ko gini? Emang ada ya orang berantam dengan dirinya sendiri? Hemmm… banyak bangat malah! Termasuk aku hehehe… hati yang tak bisa berdamai dengan dirinya adalah dia yang masih saja sibuk memikirkan orang lain, memikirkan hal yang sudah di jamin oleh Allah atau bahkan orang-orang yang masih saja berharap kepada selain-Nya. Lalu bagaimana caranya berdamai dengan hati? Riyadhoh untuk tidak berharap pada manusia dan kembalikan kepada niat awal yang kita buat hingga tak terucap kata-kata, “harusnya tak begini dan begitu”. Karena puncak kekecewaan ada pada pengharapan kepada selain-Nya. “Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit adalah berharap kepada manusia” (Ali bin Abi Thalib)