Indonesia, Berkacalah pada Kerusuhan Makassar 97

3449

(Tulisan seorang etnis China di site kaskus)

Saya masih bermukim di kota Makassar ketika kerusuhan itu meletus. Masih di bangku kelas 1 SMA 05 Makassar. Ketika itu saya akan berangkat ke sekolah, dari kediaman saya di Jl. Sungai Saddang Baru.

Saya menunggu hampir 2 jam, tidak ada bus yang datang, saya heran kenapa jalanan sangat lengang. Tak lama sebuah panzer melintas, diiringi letusan senjata. Seorang tentara tiba-tiba menarik lengan saya sambil berkata; “Pulang, jangan keluar rumah”.

Advertise

Baca Juga

Saya kemudian balik arah, saya sangat ketakutan sambil terus-menerus bertanya, apa gerangan yang terjadi. Setiba di rumah, seorang pekerja PLN rekan bokap saya sudah berkumpul bersama keluarganya. Raut wajah mereka sangat ketakutan. Bokap cuma berpesan ; “Jangan bilang-bilang orang, “Acung” ada di rumah kita”.

Saya berusaha cari informasi apa yang telah terjadi. Dari radio RRI akhirnya saya mengetahuinya, Kota Makassar sedang rusuh, penjarahan terjadi di mana-mana. Etnis China melawan etnis Bugis Makassar.

Kejadian ini rupanya dipicu akibat terbunuhnya seorang anak dosen IAIN, Anni Mujahidah Rasuna, yang ditebas sebilah pedang oleh Benni seorang anak pengusaha China yang menyuplai botol kecap dan saos.

Kronologis kejadiannya sebagai berikut;
Pemicunya adalah Benny yang terkenal temperamen sering mengancam-ancam golok kepada pribumi yang tidak dia senangi. Tanggal 15 September 1997, dia keluar rumah membawa pedang sambil mengancam seorang pedagang tahu.

Pedagang itu kemudian dikejarnya. Tepat di taman Air Mancur Veteran Selatan, dia mengancam siapa saja yang melintas, dan nasib malang menimpa seorang bocah perempuan berusia 9 tahun. Anni ditebas hingga tewas.

Benny yang terkenal temperamen itu kemudian pulang setelah membunuh Anny. Namun, warga sadar diri, sehingga walaupun ketika itu mengganggu China dikala itu sama saja bunuh diri. Itu disebabkan saking dekatnya warga China yang kaya raya dengan aparat kepolisian.

Namun kasus pembacokan itu menyebar malam itu juga. Berita berhembus sampai ke Gowa, pusat suku Makassar. Kasus pembacokan juga bocor lewat radio hingga ke Maros. Tersentuhlah sentimen kesukuan pribumi.

Apalagi pembacokan tidak ada tindakan hukum oleh aparat. Malam itu juga sekitar pukul 00.00, massa pribumi merangsek ke Jl. Kumala. Benny rupanya punya juga rekan-rekan China yang merupakan geng China di Veteran Selatan.

Namun apa daya, massa pribumi lebih besar. Malam itu Benny terbunuh, 500 orang lebih warga China geng Benni terluka. Jutaan massa mulai melakukan perusakan rumah-rumah dan toko-toko warga keturunan di Jalan Kumala, Ratulangi, dan sekitarnya.

Massa kemudian bergerak ke Jalan Veteran, Penghibur, Nusantara, Timor, Sulawesi, Ahmad Yani dan Jalan Wahidin Sudirohusodo sambil melakukan pengrusakan, pelemparan dan pembakaran terhadap kendaraan dan rumah penduduk China. Hampir seluruh rumah penduduk China habis terbakar.

Aparat yang menjaga rumah-rumah dan pusat pertokoan China tidak luput dari amuk massa. Mereka juga ikut diserang karena dianggap ingin membela kelompok China.

Malam itu Makassar menjadi lautan Api. Keesokan harinya beredar selebaran berisikan tuliskan lontara; “Mana siri kita…, Mana Pabbulo Sibatangta…, Accera Sitongka-tongka?, Mana barambang bete-beteta?”.

Emosi warga semakin tersulut. Kerusuhan pun meletus selama 1 minggu. Polisi dan Tentara tidak sanggup meredakan emosi massa.
Beberapa rumah yang takut dijarah dan dirusak memasang tulisan “Milik Pribumi” atau sajadah yang ditempel di kaca jendela menjadi pemandangan baru di sana.

Bahkan, hotel milik Yusuf Kalla, bos Kalla Grup, memajang tulisan besar “Hotel Ini Milik Haji Kalla”. Ada juga yg ini: “Hotel Ini Milik Tanri Abeng/Pemda”. Ada lagi sebuah tempat karaoke bertuliskan “Ini Milik Kodam”.

Kodam VII Wirabuana kala itu, meminta tambahan pasukan dari Jakarta. Namun pasukan tambahan cuma bisa mencegah Matahari Dept. Store belaka menjadi sasaran amuk massa. Hari itu menjadi sangat panas, bantuan pasukan TNI dari Jawa justru memicu nyali warga Bugis Makassar untuk semakin amuk.

Perintah tembak di tempat ditanggapi panas oleh warga. Warga menantang tentara, waktu itu beredar semboyan; “1 orang Bugis Makassar ditembak, 4 Tentara mati !”. ini semakin kisruh. Akhirnya pasukan ditarik ke Jl. jend Sudirman saja mengamankan aset-aset pemerintahan.

Akhirnya waktu itu jalan terbaik meredakan masalah dan kerusuhan adalah lewat dialog. Warga Bugis Makassar adalah warga yang sebenarnya mudah diajak negosiasi.

Bencana ini menyebabkan kerugian sebesar Rp 117,5 milyar, 2000 rumah dan toko hancur, 80 mobil rusak, 150 sepeda motor ludes, lima orang tewas, 13 mahasiswa mengalami luka tembak. Kamis 18 September 1997, Pukul 08.00. Warga pribumi dan warga China berkumpul di Mapoltabes Ujungpandang.

Sementara Panglima Kodam VII Wirabuana Mayor Jenderal Agum Gumelar dan Walikota Ujungpandang Malik B. Masry memberikan pengarahan di depan ratusan warga keturunan di Jalan Penghibur dan Jalan Sulawesi.