Islam dan Solusi Problematika Kesehatan

35

Oleh : Imroatus Sholeha (Pemerhati Sosial)

BIDIKNEWS.id, Opini – Masuknya Rumah Sakit dan Tenaga medis asing ke tanah air, akhir akhir ini menjadi wacana yang juga hangat, melalui Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan, ikut memberi keterangan perihal akan masuknya Rumah Sakit dan Tenaga medis asing ke Indonesia.

Ditinjau dari kaca mata medis, rencana pemerintah menghadirkan RS dan tenaga medis asing mengandung nilai positif yakni menyediakan kualitas yang lebih baik. Baik dari segi pelayanan, sarana, prasarana maupun tenaga medis.

Advertise

Namun, di sisi lain, kita sadar akan dampaknya, bahwa biayanya juga cenderung lebih mahal, kehadiran tenaga medis asing juga bisa jadi ancaman bagi nakes lokal serta mengkerdilkan peran negara dalam bidang kesehatan.

Dalam sistem kapitalis, segala hal dijadikan ladang bisnis. Tak terkecuali kesehatan yang menjadi hak rakyatpun diperdagangkan. Pemerintah yang harusnya menjamin kesehatan rakyat seolah lepas tangan.

Dalam meningkatkan kinerja dunia medis, akan lebih baik jika pemerintah mengupayakan peningkatkan dan perbaikan kualitas layanan kesehatan baik sarana, prasarana dan para tenaga medis agar memenuhi standar internasional ketimbang bergantung pada asing.

Dalam pandangan Sosiologis Islam, kesehatan merupakan hal penting dan menjadi kebutuhan mendasar bagi rakyat, sehingga sudah seharusnya negara menyediakan layanan kesehatan yang berkualitas dan gratis, baik sarana, prasarana, maupun tenaga medis yang ahli dalam bidangnya.

Rakyat tak perlu ke luar negeri untuk berobat atau bergantung pada standar kesehatan asing. Semua itu tentunya didukung dengan prinsip dasar kesehatan dalam islam. Kesehatan telah ditetapkan Allah SWT sebagai kebutuhan pokok publik, juga telah ditegaskan dalam hadits Rasulullah SAW.

“Siapa saja yang memasuki pagi hari mendapati keadaan aman kelompoknya, sehat badannya, memiliki bahan pangan untuk hari itu, maka seolah-olah dunia telah menjadi miliknya.” (H.R Bukhari).

Maka dari itu, Pemimpin (Khalifah) sebagai pengurus rakyat yang telah diamanahi Allah, berkewajiban memenuhi kebutuhan masyarakat akan kesehatan dengan kualitas yang terbaik dan gratis baik untuk orang yang mampu ataupun yang kurang mampu, apapun pekerjaan dan warna kulitnya semua mendapatkan hak yang sama tanpa pengecualian.

Rasulullah SAW bersabda “Imam (Khalifah) yang menjadi pemimpin manusia, adalah (laksana) penggembala. Dan hanya dialah yang bertanggung jawab pada urusan rakyatnya” (H.R Bukhori)

Sebagai kepala negara, Rasulullah SAW telah memberikan keteladanan tentang jaminan pelayanan kesehatan seperti ketika beliau dihadiahi seorang dokter dari Muqauqis oleh raja mesir, beliau menjadikanya dokter umum untuk masyarakat. Sepeninggal Rasulullah SAW pun tanggung jawab pemenuhan layanan kesehatan rakyat dilanjutkan oleh para khalifah.

Umar Bin Khaththab juga menyediakan dokter gratis untuk mengobati aslam. Dalam islam jasa dokter, alat kesehatan, pemeriksaan penunjang, sarana dan prasarana disediakan secara gratis oleh negara dan haram diperdagangkan.

Hal ini bisa terwujud karena besarnya sumber pendapatan baitul mal sebagai kas negara. Dalam Islam, para Pemimpin/Khalifah berlomba-lomba memberikan Pelayanan yang terbaik hingga ada Pelayan dati Eropa yang berpura-pura sakit demi merasakan fasilitas pelayanan RS Khilafah.

Kesemua ini sulit terwujud dalam sistem kapitalis yang berbasis materi. Segala hal diperdagangkan termasuk kesehatah rakyat, rakyat harus membayar mahal jika menginginkan Kesehatan yang berkualitas, fasilitas dan layanan kesehatan tidak disediakan oleh negara.

Hal lain juga yakni, sumber keuangan negara hanya ditopang oleh dua hal; pajak dan hutang luar negeri. Segala yang berkaitan dengan kesehatan menjadi mahal karena pendidikan dan fasilitas kesehatan saat ini sangat mahal sehingga hanya kalangan tertentu yang bisa mengaksesnya dan akhirnya sulit mencetak rumah sakit dan tenaga medis yang berkualitas.

Hal ini berbanding terbalik dengan sistem Islam, sumber tetap pemasukan Baitul Mal berupa fa’i, jizyah, kharaj, seperlima harta rikaz dan zakat, Seluruh pemasukan ini dipungut secara tetap, baik diperlukan atau tidak.

Harta berupa benda-benda alam yang memiliki manfaat, seperti barang tambang, sumber air, sumber mineral dan lain-lain itu diolah untuk didistribusikan pada kepentingan rakyat, tidak seperti saat ini, dimana kekayaan alam bebas dimiliki oleh swasta baik lokal maupun asing.

Jaminan kesehatan rakyat yang benar benar hak, hanya akan terwujud dalam sistem Islam. Terbukti dalam masa kejayaan Islam, daulah Islam pernah mercusuar di bidang kesehatan dengan banyaknya ilmuwan-ilmuwan beserta penemuan-penemuannya yang saat ini menjadi rujukan utama berasal dari dunia islam.

Khilafah menjadi letak dasar penemuan di bidang medis Seperti Jabir Al-Hayyan beliau menemukan tekhnologi destilasi, pemurnian alkohol untuk disinfektan, serta mendirikan apotik pertama di dunia. Ammar Ibnu Ali Alalmawsili menemukan jarum hypodermic untuk operasi katarak, Abu Al-Qasim Al Zahrawi bapak bedah modern yang menemukan berbagai alat untuk pembedahan termasuk plester, 200 alat bedah dan anestesi atau pembiusan dan masih banyak lagi yang lain.

Islam kini berada dalam seburuk buruknya sistem, jangankan memberikan pelayanan terbaik, menyediakan layanan kesehatan saja tidak mampu dilakukan oleh pemerintah di sistem hari ini. Karena sistem sekarang bersumber dari akal manusia yang lemah dan terbatas sehingga hanya kerusakan dan kebobrokan yang dihasilkan.

Sekiranya sistem Islam dipinjam untuk dipergunakan hanya dalam bidang ini, niscaya hal ini mampu membantu mensejahterakan rakyat. Selain karena karena bersumber dari Allah, sang pengatur dan pencipta alam semesta, juga karena sistem ini telah teruji, terbaik diantara berbagai sistem.