JALAN YANG TAK SAMPAI

4

Oleh Derhana Bulan Dalimunthe Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Konsentrasi Hermeneutika Al-Qur’an Email: derhanabulan1995@gmail.com 
Deru ombak yang mulai menggerutu hujan yang mengiringi langkah yang tidak tau tujuan, menjadi sebuah teka-teki sepanjang perjalanan. Butiran pasir menjadi saksi sebuah kebimbangan, hati pun mulai ribut seiring derasnya ombak laut itu, seoalah tenggelam dalam dasar lautan hilang entah kemana. 

Sejenak ku teringat “oh ternyata inilah hidup”. Namun, aku belum tau apa artinya hidup. Kebimbangan selalu mengikutiku sepanjang perjalanan ini. Tersesat dimanakah aku? Pertanyaan itu kian menggerutu. Berenang mengikuti arah laut yang mulai semakin dalam dan sangat dalam. Namun, aku belum juga terbangun, suara itu semakin kuat terdengar dan semakin mengimbangi derasnya ombak. Namun, aku belum juga terbangun. Seoalah aku hilang entah kemana. 

Perjalanan menjadi bukti kebimbanganku terhadapku. Ombak itu, seolah-olah dia tau apa yang kucari. Tapi sayangnya, kubelum juga tau apa yang aku cari dan dimanakah aku? hujan yang mengguyur jalan semakin membuatku merasa bingung, kenapa ini bisa terjadi? sebuah teka teki yang aku tak tau harus mencari kemana jawabannya. 

Perjalanan mengikuti arah air turun dan kemudian sampai kepada ombak yang menghentikan keheningan di dalam pikiran ku. Sepintas, aku mulai berpikir “ohh ternyata aku sudah sampai”. Namun, masih saja pertanyaan itu timbul dalam pikiranku. Apakah aku sudah sampai? Ataukah rindu itu sudah sampai? oh ternyata ku mulai sadar bahwa ini adalah lika liku sebuah kerinduan. Ternyata aku belum sampai, hingga aku masih saja harus terus berjalan sampai kakiku meminta untuk berhenti, “sebentar saja hingga aku mendapat ketenangan.” 

Kerinduan itu mulai lagi mengikutiku. Namun, aku masih saja bertanya kerinduan apa yang aku harapkan? Aku mulai berguru dengan sekitarku melihat mereka menikmati hidup mereka berharap aku bisa menemukan jawaban yang sedang ku cari. Namun, aku belum menemukan ketenangan hingga aku masih memutuskan untuk terus berjalan hingga kaki ini meminta untuk berhenti lagi “ sebentar saja”. Namun ku mencoba melawan bisikan-bisikan itu, hingga kali ini langkahku semakain cepat mengikuti arah angin menuju sebuah gurun pasir, aku terjatuh lagi dan terus berusaha bangkit dengan sebuah keyakinan adanya rindu yang menungguku. 

Aku terus melangkah dengan penuh harap dengan sebuah kerinduan itu. Namun, aku jatuh lagi dan mencoba bangkit lagi untuk melihat keindahan alam itu. Burung itu terbang kemana saja yang ia mau, ohh sejenak aku berfikir ingin mengikutinya. Namun, dia begitu cepat sehingga aku kehilangan arah. Ternyata aku sadar bahwa langkahku masih jauh dan aku bisa bebas sepertinya. 

Suara itu mulai lagi mengikutiku seoalah membisikkan kata rindu di telinga ku. Namun aku belum tau suara apa itu, dan kerinduan apa yang ia maksud. Aku pun mulai berhenti sebentar. Secangkir cappucino panas untuk menghilangkan rasa kedinginan yang mulai merasuk dalam jiwa ku. Kumulai mendapatkan ketenangan dan kupandangi ke seluruh alam, lalu aku dapati lagi sebuah kegelapan dengan suara teriakan yang sama. 

Kegelapan yang tidak pernah ku lihat sebelumnya dan tak dapat kumengerti teriakan apa itu. Teka-teki selalu saja mengiringi langkahku. Dimana aku dan apa yang aku cari. Dimana-mana terasa begitu gelap, hanya ada satu yang terang disekitarku dan aku terus memperhatikan dari mana asal cahaya itu. Namun, sayangnya ku belum juga bisa menjumpainya. Hari semakin terasa dingin yang bersangatan, sehingga aku hanya terduduk menahan dinginnya malam. 

Sekitar 5 menit kutahan kedinginan itu dengan penuh harap aku mendengar suara itu lagi dan bisa menemukannya. Waktu pun terus berlalu rasanya, kata berhenti mulai menghantuiku. Seolah aku ingin berkata, “q ingin berhenti sejenak saja”. Namun, aku saja tidak tahu sejenak itu berapa detik, menit, bahkan jam, hari dan tahun. Tapi rasanya aku hanya ingin mengatakan bolehkah aku berhenti sejenak saja? suara itu kian menghampiriku kembali seolah ia mengatakan kamu mau berhenti dimana? Teruslah berjalan hingga waktu nya telah tiba dan yang menunggu akan merasa apa yang di tunggunya telah sampai. 

Pertanyaan kembali lagi menghantuiku siapa yang menungguku? Teka-teki ini semakin hari semakin membuatku jatuh dan terus mencoba untuk bangkit lagi. Pepohonan bergerak mengikuti arah angin. Malam mulai menutupi siang. 

Gelap pun kembali menghiasi dunia. Aku menanti suara itu kembali, tapi sayang nya kali ini suara itu tidak datang menghampiriku. ohh terbisik dalam hatiku mungkin dia sudah mulai lelah mengikutiku. Aku mulai terduduk sebentar dan berfikir, Kenapa dia berhenti mengikutiku? Tapi tak sampai disitu, hingga aku memutuskan untuk terus melangkah. 

Kembali ku mengikuti arah angin yang berhembus dengan penuh harap suara itu akan kembali lagi. Rasa ketakutan, kehawatiran, tiba-tiba muncul dalam diriku seiring ku perhatiakan rumput yang bergoyang dan mulai layu lalu jatuh. Ketakutan yang semakin kuat dan aku masih menunggu akan suara itu, berharap sekejap bisa menenangkanku. 

Kuperhatikan air disekitarku semakin deras, hujan pun mulai membasahiku seolah memberitahuku untuk berhenti sebentar. Namun, ku tetap memutuskan untuk terus berjalan hingga kaki ini meminta untuk berhenti. Hujan yang mengguyur kota menjadi saksi sebuah kebimbangan. Langkah yang terus q jalani tanpa aku tau tujuan yang aku cari. Berjalan mengikuti arah angin. Dibasahi hujan yang begitu deras. 

Petir yang mulai menyambar pohon-pohon disekitarku. Dunia mulai gelap dengan rasa takut yang selalu menghantuiku. Hujan yang mulai reda dan membuka mata ku untuk melihat dunia kembali dengan penuh harapan kudapati jawaban kerinduan itu.