JANGAN BIARKAN PERSMA MUNDUR LAGI

8
Perjalanan sebuah organisasi layaknya menempuh sebuah bahtera kehidupan. Ada hiruk pikuknya, terkadang sepoi menyapa, kadang juga kencang menerpa. Sepak terjang sebuah organisasi bergantung pada Menejemen keorganisasian dan kepemimpinannya.

Pemimpin yang amanah dan fathanah sungguh sangat dibutuhkan dalam mengemban amanah kepemimpinannya. Pemimpin adalah pelayan bagi yang dipimpinnya. Pemimpin haruslah memiliki multi jurus untuk menyabet suasana dan keadaan. Bagaimanapun runyamnya sebuah situasi, tidaklah menimbulkan komunikasi yang disosiatif jika inisiatif dan kretifitas seorang pemimpin baik.

PERSMA. Persatuan Mahasiswa Alor yang berdomisili di Makassar, sebuah ORMAWA yang didirikan dengan tekad falsafah leluhur TARAMITI TOMINUKU pada 2006 silam telah berkiprah lebih kurang tujuh tahun dengan berbagai rintangan dan cobaan perjuangan. Pemimpin demi pemimpin silih berganti, masalah demi masalahpun timbul dan larut dalam kebersamaannya. hingga puncaknya kefakuman pada seorang Leader tangguh Rais Syukur Timung.

15 juli 2017 dentuman gong pembaharuan di tabuh. Suhardi Karim Gorang dinobatkan sebagai Nahkoda PERSMA hasil Musyawarah Besar. Sejarah baru ditorehkan dengan tinta peluh. Meramu kembali persatuan memang sulit. Terkadang harus memelas dalam memimpin. Tak bisa mengaung bak singa sang raja hutan. Suka dan duka dipetik sebagai hikmah kehidupan. Kebersamaanpun kian waktu kian lunglai.

Advertise

Baca Juga

Sekret Himpunan Pelajar Mahasiswa Nuha Nebo (HIPMAN), menjadi sejarah dikibarkannya lembaran baru PERSMA. Kekompakan dua lembaga kecil Ikatan Pelajar Marica Baranusa IPMABA dan HIPMAN turut andil dalam memproklamirkan eksistensi PERSMA dengn suasana baru kala itu. Mantan ketua Rais Syukur Timung tak lekang mendampingi PERSMA. Beberapa senior dari berbagai daerah asal Alor yang di Makassarpun turut andil dalam merekonstruksi batang tubuh PERSMA baru.

Detik, menit, jam dan hari silih berganti, ramalan kehancuran PERSMA membayang dalam cekam, akankah terjadi lagi duka lara dahulu?. Miris memang, diakui atau tidak sayap sayap penopang PERSMA telah tercerei berei. Adakah seorang kesatria penyelamat yang terpatri jiwa plural tertanam dalam dadanya yang ingin menyelamatkan PERSMA?. Ataukah semua pada mempertahankan ego dan nafsu person serta suku dan marganya?.
Sudahlah kawan. Cukuplah aral dan cobaan mendewasakan kita dengan problem. Jangan memperkeruh situasi, Marilah bergandengan tangan melanjutkan tongkat estafet perjuangan ini.

Penulis :  Sya’ban Sartono Abdullah
Mahasiswa Fakultas Hukum UMI