Opini : Jati Diriku

60

Oleh: Derhana Bulan Dalimunthe, S. Pd. I., M. Pd.
Editor : Sya’ban Sartono

Hembusan angin menyapa pagi yang cerah. Embun mulai hilang meninggalkan bumi. Jalan mulai berpolusi. Suara keributan pun mulai terdengar dan membangunkanku dari tidurku. Rumput hijau mulai menyepa pagi. Bebatuan seolah ikut merasakan kedamaian yang kurasakan. Mata memandang jauh melintasi luasnya laut hingga sampai pada sebuah danau yang bersimbolkan jari yang lima.

Pertanyaan dalam hatiku mulai muncul. Jari lima kenapa harus lima?, Bukit yang menjulang tinggi dihiasi tebing-tebing yang begitu dalam. Pohon-pohon tinggi seolah ingin mengucapkan ini adalah aku. Matahari yang mulai tenggelam sedikit demi sedikit perlahan menuju haribaannya. Sungguh keindahan yang luar biasa.

Advertise

Baca Juga

Tatapan yang semakin tajam terarah dari laut besebrangan. Ombak pun mulai menggulung benda-benda disekitarku hingga tak terasa malam telah munutup siang. Matahari itu tenggelam seolah berjalan dengan kedamaian dan kesabaran. Ucapan syukur pun terucap dalam bibirku. Pasir putih menjadi saksi sebuah kerisauan, menyapa laut dengan ombaknya yang semakin mendekati kakiku. Semakin jauh ku berjalan tapi masih saja ombak itu mengejarku.

Rasa ketakutan menghampiriku dengan mitos-mitos yang ada disekitarku. Lampu berjalan ku melihatnya sekilas bahwa itu lampu yang berwarna warni menghiasi laut dengan mengikuti arah ombak yang menghempaskannya Warna warni itu membuat keindahan dalam hatiku, seolah ia sedang mencoba merayuku dan menghiasi mataku dengan warna warni yang ia pancarkan untuk ku.

Kulihat ada bukit disekitarku, akupun memutuskan untuk mendaki sampai dimana bukit itu akan berhenti. Akhirnya aku melihat sebuah pemandangan yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Matahari yang begitu selalu sabar menerangi bumi dan kali ini kufokuskan pikiranku untuk mengikuti arahnya kemana ia akan pergi.

Matahari itupun tenggelam dalam pandanganku dan akupun mulai hanyut dalam sebuah harapan dan keyakinan bahwa ia masih sabar menerangiku. Bukit itu begitu tinggi hingga aku bisa melihat betapa kuasanya Dia. Bebatuan yang mengelilingi langkahku menyapa dengan begitu halus agar aku tidak terluka. Namun, kakiku mulai merasa sakit dengan tajamnya batuan itu.

Aku memutuskan untuk turun dan sampai kepada sebuah kegelapan, seoalah aku lupa bahwa ia telah pergi meninggalkanku dan apakah ia masih mau kembali. Bintang yang hilang diawan. Hujan yang mulai turun secara rintik-rintik. Jalan pun mulai terasa licin. Kembali lagi kecemasan itu menghampiriku. Sejenak ku pejamkan mataku untuk mendengar ombak laut yang mulai menggulung lebih cepat benda disekitarku dan akupun mulai hanyut dalam ombak itu. Tiba-tba sebuah kayu menghampiri kakiku hingga aku terbangun dan bertanya apa yang harus kutuliskan?.

Ombak itu mulai lebih sedikit melipat benda-benda sekitarnya seolah menyuruhku untuk menghela napasku pelan-pelan. Rindu siapakah itu? Dalam ketenangan dan pejaman mata yang hanyut dengan ombak yang semakin berbicara dengan diriku mengungkapkan kerinduan ataukah hanya sebuah khayalan yang menjadi sebuah impian. Cuaca yang mulai tidak bersahabat kembali menyapaku. Tapi kali ini kebingungan itu bercampur ketenangan.

Kupejamkan mataku dengan penuh harapan bahwa ia akan datang menghadiri dan menyapaku. “Sejenak saja” aku bersandar dan memejamkan mata untuk menghilangkan kebimbangan ini. Tapi, itu belum juga bisa kudapati. Malam yang menutupi siang hingga kuputuskan untuk berhenti berjalan sebentar saja hingga aku bangun lagi dan berjalan lagi. Rindu itu telah hilang bersama terbenamnya matahari.

Keyakinan akan rindu yang baru akan datang menjadi sebuah harapan. Dia telah mengalah, atau bahkan dia telah lari dari sebuah ancaman yang membuat dia jatuh dan tak ingin bangkit lagi. Kabar yang mulai hanyut dalam berlangsungnya angin menjadi sebuah bukti bahwa dia sudah mulai mengalah dalam sebuah perjuangan. “Yaaa tepatnya mengalah, hingga dia tak muncul lagi dalam pagi hari, menyapa pagi yang selama ini merayu dalam tidur dan mulai berbicara tentang masa depan masing-masing”.

Apakah angin masih berhembus seperti biasanya?, Sebuah lika liku yang membuat hati ini semakin lelah dan rasanya ingin berakhir dengan senyuman. Namun, itu adalah hal yang tak mungkin ku lakukan. Kecewa, marah, lelah. Yah itu adalah kata-kata yang saat ini ingin ku bisikkan. Namun, mengapa ombak itu masih saja tenang dengan perjalanannya.

Lika liku yang menjadikanku semakin bingung. Masihkah ia setia dengan sejuta keyakinan yang diberikan?, ataukah keyakinan itu sudah hancur begitu saja. Rasanya ku ingin berteriak sekuatnya memendam rasa rindu yang tidak bisa ku ungkapkan dengan kata-kata hingga aku hanya ingin berkata, “izinkan q tidur dipangkuanmu sejenak saja, dan akan ku biarkan engkau pergi jauh melintasi laut yang engkau mau”.

Tidak ada yang setia. Tidak ada yang bahagia yang ada hanyalah pura-pura. Terlalu percaya dengan sebuah kata-kata rindu yang dia ucapkan membuat sebuah kekecewaan yang mendalam hingga aku takut tak sanggup bangun lagi. Sampai kapan? Jika mau mengakhiri maka sekaranglah hingga aku bisa bangkit lagi dan mengatakan “aku bisa”. Tapi izinkanlah aku tidur sejenak saja menghapus lelah dalam pikiranku.

Capek, engkaupun tau itu, keyakinan yang bertahun-tahun apakah hanya sampai disini? Mana power yang engkau tawarkan? Rasa percayaku itu telah hilang karena hakekatnya engkau sanggup tanpaku. Sedangku entah lah rasanya aku terjerumus dalam sebuah jurang yang membuatku ingin pulang sebentar saja. Kerinduan itu telah hilang dan aku belum juga sanggup kembali kepada diriku. Aku hilang dalam sebuah kekecewaan.

Keyakinan, hemmmm… ternyata itu hanya mimpi seorang anak kecil, tidak ada kepastian, yang membuatku yakin dengan sebuah kehancuran. Kehancuran mana lagi yang engkau tuju?. Nyaman adalah hal yang sulit kulakukan. Namun, ku paksa diri ini untuk berpura-pura bahagia dengan apa yang ada di hadapanku. Aku kehilangan diriku dan aku tak tau sampai dimana aku akan hilang. Berpura-pura bahagia adalah hal yang ku kulakukkan dalam beberapa hari terkahir kau menghilang dari hidup ku, hemmm seperti tak ada yang terjadi hingga banyak orang yang merasa tersakiti dengan keadaan ku.

Keyakinan untuk bertahan adalah hal yang terjadi dalam hari-hariku. Penjagaan, hal yang ku tak tau sampai dimana, ujungnya apa? Hingga banyak yang berkata, “engkau berhak bahagia.” Bahkan aku pun menulis sesuai dengan jariku bahwa aku berhak bahagia. Namun, sayang rindu itu telah hilang dan ku tak tau apakah rindu itu masih kembali seiring waktu?, Ataukah aku akan tetap seperti ini?, kehilangan arah. Namun, tenanglah, tersenyum adalah hal yang biasa kulakukan di depan semua orang sekalipun itu hanyalah sebuah kepura-puraan.