Jejak Khilafah Yang Tak Terbantah

12

Oleh: Dewi Sartika
(Komunitas Pemerhati Ummat)

BIDIKNEWS.id, Opini – Khilafah kini menjadi perbincangan di tengah-tengah masyarakat, tidak hanya dikalangan umat Islam saja, tetapi juga di tengah-tengah kalangan orang-orang non muslim.

Khilafah adalah sistem pemerintahan Islam yang bersumber dari Alquran, as-sunnah, ijma’ sahabat dan qiyas, dimulai sejak pengganti Rasulullah diangkat untuk mengurusi urusan umat mulai dari Abu Bakar berganti dengan Ali Bin Abi Thalib, kemudian silih berganti setelahnya setelah 1300 tahun.

Advertise

Baca Juga

Selama itulah kaum muslim di dunia berada dalam lindungan, ayoman sistem Khilafah. Selama itu pula khilafah melindungi dan mengayomi hingga tiga benua yaitu Afrika, eropa, hingga membentang luas ke ujung benua Asia dan sampailah ke nusantara.

Islam masuk ke Indonesia pada awal abad hijriah, bahkan pada masa Khulafaur Rasyidin memerintah. Islam sudah memulai ekspedesinya ke Nusantara ketika sahabat Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib memegang kendali sebagai amirul mukminin.

Menjelang seperempat abad ke-7, sudah berdiri perkampungan Arab Muslim di pesisir pantai Sumatera. Di perkampungan-perkampungan ini diberitakan, orang-orang Arab bermukim dan menikah dengan penduduk lokal dan membentuk komunitas-komunitas Muslim.

Hubungan Khilafah dengan nusantara ada sejak kepemimpinan khalifah Islam di mulai dengan dikirimnya surat persahabatan antara raja Sri Indravarman, raja di Kerajaan sriwijaya di Sumatera. Dengan Khalifah umar bin Abdul Aziz. Pada abad 8 Masehi raja Sriwijaya meminta untuk dikirimkan seseorang untuk mengajarkan Islam.

Isi suratnya sebagai berikut
“Saya telah mengirimkan hadiah yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak banyak tetapi sekedar tanda persahabatan, dengan setulus hati saya meminta kepada anda untuk mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan islam kepada saya dan menjelaskan hukum-hukum nya” ( Dikutip dari buku al iqd al farid).

Surat tersebut langsung ditanggapi oleh sang khalifah, dengan dikirimkannya seorang ulama untuk datang ke Sumatera dan mendakwahkan Islam kepada raja Sri Indravarman. Ulama tersebut diperintah langsung oleh umar bin Abdul Aziz. Dan dengan izin Allah sang raja sriwijaya pun masuk islam.

Hubungan antara Raja Sriwijaya dan khalifah Umar bin Abdul Aziz berlangsung pada tahun 918 Masehi. Dengan pemerintah Islam di Arab menjadi babak baru islam di nusantara.

Selain di Sriwijaya, juga terdapat di Buton sulawesi Tenggara. kesultanan Buton terletak di kepulauan buton sulawesi Tenggara. Pada awalnya Buton memiliki kerajaan sendiri yaitu kerajaan Buton. Raja pertama bernama wa kaa kaa, raja kedua bernama Bulawambuna keduanya adalah seorang perempuan. Sedangkan Raja ketiga seorang lelaki bernama banca patola yang bergelar Bata raguru. Tua rade dalah raja ke empat dan Mulae adalah raja ke lima.

Sejarah masuknya islam dibuton hingga kini masih simpang siur, ada yang mengatakan berawal dari datangnya Sayid Jamaluddin Al kubro dipulau buton pada tahun 815 H/ 1412 M. Lebih kurang seratus tahun dulanjutkan oleh Syeikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman Al fathani yang berasal dari johor.

Kedatanganya tersebut berhasil mengislamkan raja Buton yang ke 6 sekitar tahun 948 H / 1538 M. Namun dalam pendapat yang lain, yang melantik sultan Buton yang pertama masuk islam bukanlah syekh Abdul Wahid tetapi guru beliau yang didatangkan dari Patani. ( Wikipedia)

Pada masa kesultanan Buton yang bercorak sistem pemerintahan Islam pada masa itu sangat dikenal dan diakui oleh negara kesultanan yang lain di Nusantara. Bahkan, dijaringan ke khilafahan kesultanan yang ada di dunia. Sehingga sultan Buton di anugerahi gelar khalifatul khamis oleh khalifah Utsmaniah. Gelar yang umum digunakan oleh jaringan ke khilafahan Utsmaniah.

Hubungan Kesultanan dengan Kekhilafahan sangatlah erat. Ini dapat kita saksikan dari peralatan Perang seperti meriam, pedang, benteng dan alat alat lainnya yang kebanyakan berasal dari Kekhilafahan Utsmani. Demikian juga adat dan Budaya banyak diwarnai budaya dan tradisi para khalifah. Termasuk dalam cara berpakaian. Bagunan fisik pun nampak sekali pengaruh dari kekhilafahan, seperti bentuk bangunan istana, benteng, masjid. Dari bentuk, warna dan ornamen nampak ada pengaruh kehilafahan.

Fakta yang tak terbantahkan adalah terjadinya perubahan Sistem Pemerintahan. Ada perubahan besar dalam pemerintahan yakni dari sistem Kerajaan menjadi Kesultanan.

Dengan adanya fakta diatas, jadi sangatlah jelas bahwa Jejak dakwah khilafah dinusantara pernah ada. Nanun sayangnya, fakta ini saat ini seolah ingin dikubur dan hilangkan dari ingatan umat di negeri ini.

Namun, dengan adanya film Jejak khilafah di Nusantara seolah membuka kembali lembaran sejarah yang telah lama terlupakan, serta memberikan oase segar akan tegaknya kembali khilafah islamiyah. Wallahua’alam Bisshawab.

Editor : Redaktur Bidik News