Kasus Selfina Etidena, antara Memperjuangkan Kemanusiaan dan ajang Jual Nama

6


Oleh: Sya’ban Sartono Leky

Mahasiswa Fakultas Hukum UMI Makassar
(Pegiat media sosial)

Viralnya berita pencekalan Mahasiswa STT Galilea Indonesia; Selfina Marsyia Etidena oleh Satuan Tugas (Satgas) Human Traficking Dinas Nakertrans NTT di Bandara El Tari Kupang, menjadi perhatian tersendiri bagi Mahasiswa asal Alor dan Pemerhati Kemanusiaan yang berada di Kupang. Bagaimana tidak, Selfina dikabarkan ditahan oleh Satgas Human Traficking pada Jum’at, 04/01/2019 lalu, karna diduga sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) ilegal. Untuk meyakinkan Petugas, Selfina memperlihatkan KTP, namun usahanya sia sia. Ia juga mengaku baru menyelesaikan Praktek Kerja Lapangan (PKL) pada Agustus 2018 lalu di Alor, namun lagi lagi petugas tetap tidak memngizinkan Selfina untuk terbang ke Jogja.
Alih alih Selfina berbelit dalam memberikan keterangan, dan diduga kuat adalah TKW ilegal yang ingin bepergian keluar negeri untuk bekerja, petugas ngotot tetap menahan keberangkatan Selfina. Sepuluh hari kurang lebih Selfina terkatung katung tanpa kepastian, hingga petugas Nakertrans dinilai menelantarkan Selfina. Peristiwa ini pun menuai kontroversi di media sosial, ada yang membenarkan bahwa Selfina adalah Mahasiswa STT Galilea, namun ada juga yang masih meragukan status kemahasiswaannya, lantaran tidak sinkronnya Nama Asal daerah Selfina di Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) dan KTP, serta Alamat STT Galilea yang simpang siur.
Karna merasa kemanusiaan dan Keperempuanan Selfina dijatuhkan, Mahasiswa Alor-Kupang menunjukkan eksistensi Kemahasiswaannya dengan menggandeng 12 Organisasi yang mengatasnamakan Aliansi Peduli Kemanusiaan turun ke jalan menyampaikan aspirasinya ke publik tentang tidak manusiawinya cara penanganan Satgas yang telah menelantarkan Selfina tanpa peduli pada Senin, 14/01/2019.
Plt. Kadis Nakertrans NTT tetap bersikukuh, bahwa yang dilakukan oleh Satgas dibawah pengawasannya itu sudah sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP), Walaupun, setelahnya beliau telah meminta maaf  atas kegaduhan yang timbul akibat kesalahpahaman prosedur yang diberlakukan oleh Stagas Nakertrans dan meminta agar Laporan Polisi atas masalah ini dicabut. Tapi, apa boleh buat, nasi telah menjadi bubur. Permintaan maaf diterima sebagai sifat kemanusiaan, namun Proses hukum harus tetap berjalan, sebagai tanda negara ini bernaung dibawa panglimanya, yaitu Hukum itu sendiri.
Disisi lain, di Makassar, telah dikabarkan bencana Banjir bandang dan tanah longsor menerjang pemukiman sebagian Masyarakat Alor dan meluluhlantahkan beberapa rumah mereka, dan masih banyak lagi permasalahan mendasar yang terjadi di Alor. Masih banyak Problem yang syarat dengan substansi Kemanusiaan yang perlu disuarakan. Kemanakah Aktivis Alor ketika lapangan pekerjaan yang masih sempit, sehingga Sarjana Strata 1 Alor masih banyak yang  terkatung katung mencari pekerjaan?, kemanakah Aktivis Alor, ketika Anggaran belanja untuk Sewa Rumah DPRD Alor yang sangat membengkak hingga mengeruk APBD Alor?. Lagi lagi ini soal Kemanusiaan, sebagaimana misi kita bersama.
Aktivis harus sadar. Toh, Selfina sudah bebas, Plt. Kadis Nakertrans juga sudah mengakui kesalahannya, seharusnya Selfina dijadikan Duta Human Traficking, sebagai tanda bahwa berkat kasus Selfina, maka dapat menekan Kasus perdagangan Manusia di NTT. Seharusnya itu substansinya, karna jika Plt Kadis Nakertrans yang digonggongi, maka otomatis Gubernur NTT juga diseret, jika Victor Laiskodat diseret dan beliau tetap bertahan bahwa permaslahan itu bahwa sudah sesuai SOP, maka konflik horisontal antara penyelenggara Daerah dan aktivis berbenturan dengan sesuatu yang hanya bersifat sensasi. Jika ini yang tetap berjalan, maka penyelesaian maslah masalah serius lainnya tertutupi oleh sensasi Masalah ini.
Bergeraklah aktivis, masih banyak tangan yang menengadah menunggu uluranmu, berharap dapat melerai mereka dengan sekat sekat problema. Masih banyak bidang pengembangan nilai nilai luhur bangsa yang masih tertimbun, galilah, kembangkanlah dan jadikan itu sebagai dasar perjuanganmu, agar Pengorbananmu tak sekedar sensasi, melainkan Esensi.