Kepahlawanan dalam Rahim Islam Progressif

42

Oleh : Yusuf Blegur

BIDIKNEWS.id, Opini – Sepuluh November 1945, genap 75 tahun yang lalu. Sebuah peristiwa heroik mengiringi kemerdekaan Republik Indonesia yang baru saja diproklamirkan.

Begitu mencekam, penuh konflik dan keharuan, tragis dan menyayat hati setiap sanubari yang terlibat didalamnya. Rakyat sipil dan tentara menyatu, tak peduli orang tua, para pemuda bahkan anak-anak ikut bertempur membuat Kota Surabaya membara.

Rakyat Surabaya tak sekedar menunjukkan perlawanan, mereka rela menumpahkan darah dan meregang nyawa untuk membuktikan kecintaan kepada Kota Surabaya sebagai bagian dari tanah air Indonesia. Arek-arek Suraboyo itu juga mengobarkan militansi dan mental revolusioner menentang penjajahan asing.

Tragedi peperangan sekaligus peristiwa patriotik itu, begitu historis dan menggoncang dunia yang era itu banyak diliputi peperangan. Menarik dan istimewanya, peristiwa 10 November sesungguhnya menggambarkan peperangan yang tidak seimbang. Selain menghadapi Belanda yang ingin menguasai kembali Indonesia, rakyat Surabaya juga harus menghadapi tentara Inggris yang didukung sekutu.

Belum lagi perlawanan rakyat Surabaya yang sedikit jumlahnya dibandingkan musuh, mereka juga digempur oleh persenjataan yang lengkap dan modern dari negara-negara fasis yang notabene ikut menggerakkan perang dunia ke-2. Sementara tentara keamanan rakyat bersama penduduk Surabaya menggunakan senjata sederhana dan bambu runcing yang fenomenal.

Namun peristiwa yang dipicu perobekan bendera Belanda oleh pemuda Surabaya dan tewasnya jenderal Inggris serta ultimatum Inggris yang ditolak rakyat Surabaya. Telah memunculkan gerakan Fisabilillah di kalangan umat Islam.

Para ulama menyerukan jihad yang membangkitkan dan menggelorakan perlawanan terhadap imperialisme dan kolonialisme berwajah penjajahan. Melalui Ijtima ulama, lahirlah seruan Hubbul Wathan Minal Iman (mencintai tanah air sebagian dari iman) hingga menggerakkan revolusi yang ditopang umat Islam.

Seorang pemuda bernama Soetomo (Bung Tomo), setelah mendapat petunjuk dari para kiyai dan ulama berpidato berapi-api dengan Takbir “Allahu Akbar” dan pekik
“Merdeka atau Mati”.

Rakyat Surabaya seperti memiliki amunisi dan tenaga yang menakjubkan, sebuah perlawanan yang mengintimidasi dan menggetarkan musuh. Bahkan para pelajar dan santri tak luput menunjukkan ghiroh dalam pertempuran melawan kaum kafir penjajah itu.

Pemimpin dan Islam Progressif Revolusioner

Setelah 75 tahun berlalu, setiap peringatan hari pahlawan sebelumnya seperti senyap dalam kesunyian. Kehilangan makna dan nilai-nilai terhadap nasionalisme dan patriotisme. Kemerdekaan yang dulunya diperjuangkan dan dipertahankan dengan pengorbanan yang begitu besar, seakan meredup, perlahan hilang tak berbekas.

Kemerdekaan Indonesia yang dihasilkan oleh perjuangan seluruh rakyat dan atas Berkat Rahmat Allah itu, seakan tidak dihargai dan dicampakkan oleh bangsanya sendiri. Tidak negara, tidak juga para pahlawan mendapat perlakuan dan penghormatan yang layak.

Negara dulu dijajah, kini negara yang diurus oleh segelintir politisi dan pejabat tak ubahnya berlaku sebagai penjajah bagi rakyatnya sendiri. Begitu juga dengan para pahlawan terdahulu, mimpinya, harapannya, cita-cita dan warisannya seperti sia-sia dan tak berujung.

Tangis dan darah tertumpah lagi menghadapi kekuasaan yang acapkali gagal membawa kemakmuran dan keadilan sosial, sembari membungkam kedaulatan rakyat, mengebiri demokrasi dan memusuhi Islam.

Tepat 10 November 2020, ada peringatan hari pahlawan yang tidak biasanya. Seiring dilanda pandemi, kemerosotan ekonomi dan banyaknya perilaku hipokrat para politisi dan pejabat. Publik dikejutkan oleh kepulangan seorang Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab, seorang ulama Indonesia yang mengungsi ke Arab Saudi akibat “tekanan politik dan kriminalisasi” rezim kekuasaan.

Soal kepulangannya biasa saja, yang luar biasa dan menarik adalah sambutan untuk beliau begitu besar dan mendapat antusias yang tinggi dari umat Islam. Hal itu seakan menjadi refleksi sekaligus momentum kesadaran akan posisioning umat dan ulama dalam konstelasi kebangsaan sekarang ini.

Kepulangan HRS seperti mengobati kerinduan umat terhadap kehadiran sosok pemimpin Islam. Apalagi ditengah gempuran rekayasa politik yang mendegradasi nilai-nilai Islam. Selain cap dan stigma radikalisasi, fundamentalisme agama Islam terus digiring pada pencitraan agama teroris oleh pemerintah sendiri maupun dunia barat. Seperti yang baru saja disuarakan presiden Prancis.

Ironisnya, negeri yang tumbuh dan besar dalam rahim Islam melalui perjuangan dan konsensus nasional yang bersumber pada Ijtihad dan Ijma para Ulama. Islamlah yang sejatinya konsisten merawat kemajemukan dan kebhinnekaan Indonesia.

Dalam sejarah ketidakadilan sosial ekonomi, dalam belenggu politik dan keamanan, serta hukum yang memarginalkan umat Islam yang ditulis kekuasaan. Umat Islam tetap istiqomah dan bersetia menjaga keutuhan Indonesia. Justru perilaku kekuasan terlihat sering menyudutkan dan cenderung bertindak bengis terhadap umat dan para Ulama hingga kini.

Pemerintah terus menikmati dan berada dalam zona nyaman dan cenderung menjadikan sekulerisme sebagai harga mati dalam praktek-praktek kenegaraan. Kebijakan liberalisasi dan kapitalisasi menjadi mainstream yang dibungkus jargon NKRI, UUD 1945 dan Panca Sila.

Disisi lain, Islam dianggap sebagai potensi ancaman terhadap keberlangsungan hidup yang berlandaskan materialisme dan hedonisme. Dalam hal ini, birokrasi dan politisi yang menjadi subkoordinat dari pemilik modal dan kelompok “The Have” nyaman dengan wajah demokrasi liberalnya.

Semoga saja, rezim kekuasaan melek dan eling, bahwasanya tekanan dan penindasan terhadap umat dan para ulama semakin membuat pemerintah kehilangan legalitas dan legitimasi dalam institusi negara. Begitupun behavior yang dimunculkan dalam sikap dan tindakan kepemimpinan yang anti Islam hanya akan membawa petaka bagi dirinya, baik dalam tatanan sosial maupun aqidah, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat.

Kalaupun rezim kekuasaan sekarang ini tidak mampu menjadi pahlawan, setidaknya jangan jadi penghianat bangsa dan negara. Kalaupun belum bisa menjadi muslim yang baik dan taat setidaknya jangan menjadi pembenci dan anti Islam. Seperti jargon nasionalisme yang mengusung NKRI dan Panca Sila harga mati.

Demikan pula, yang tersurat dalam, “Al – Islamu Ya’lu Wala Yu’la ‘Alaihi (Islam itu tinggi dan tak ada yang mencapai ketinggiannya) seperti kata Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang dicintai dan diimani umat Islam. Karena umat Islam selain agama yang cinta damai, syariatnya juga menuntun Amar Ma’ ruf Nahi Munkar.

Jangan sampai umat Islam khususnya para ulama menjadi, terbentur-terbentur, terbentuk.