Kepsek Rewung sebut, pemecatan Kontesia hasil kesepakatan Guru dan Orang Tua Murid

1936

Manggarai Timur, bidiknews.id – Fransiskus Hadu (FH) Kepala Sekolah Dasar Inpres (SDI) Rewung, Desa Tango Molas, Kecamatan Poco Ranaka Timur, angkat bicara, menanggapi pemberitaan media ini, edisi Jum’at (21/8/2020) kemarin. Dihubungi via telepon, FH membantah adanya penyelewengan dana Bantuan Operasi Sekolah (BOS) tahap 1 seperti yang dituding Kontesia L. Rita.

FH juga menyebutkan, pemecatan terhadap Guru honorer yang sudah mengabdi 12 tahun tersebut, hasil kesepakatan rapat dewan Guru dan Orang Tua Murid.
“Semua yang dibicarakan dia itu bohong. Saya dituding menyelewengkan dana. Sementara, masalah ini masih diproses,” tandas FH, Sabtu (22/8/2020).

Terkait laporan fiktif kunjungan ke rumah-rumah siswa selama masa pandemi, FH menegaskan bahwa tudingan tersebut tidak benar adanya. Kata Dia, kegiatan tersebut telah dilakukan oleh guru-guru kecuali Kontesia.

Advertise

Baca Juga

FH mengakui hasil kesepakatan mediasi yang dilakukan di Kantor Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (PPO) Matim. Namun, mengenai pemecatan, Ia berpendapat bahwa itu kewenangan forum Dewan Guru dan Orang Tua Murid.
“Sebagai Kepala Sekolah, saya tinggal membubuhkan tanda tangan Surat Keputusannya,” jelas FH.

Sementara itu, Largus Jerumat, Ketua Komite SDI Rewung membenarkan pemecatan Kontesia L. Rita adalah hasil kesepakatan Orang Tua Murid. Orang tua murid, terang Largus, bersepakat melalui saya sebagai ketua Komite untuk memecat Kontesia.

“Alasannya karena tidak ada lagi Guru yang cocok dengan dia (Kontesia) di Sekolah. Dari pada murid yang jadi Korban, mendingan Dia dipecat saja. Itu saja. Tidak ada alasan lain,” tandas Largus.

Sebelumnya diberitakan, FH, Kepala Sekolah Dasar Impres (SDI) Rewung, diduga melakukan penyelewengan dana BOS tahap 1 tahun 2020. Hal tersebut bermula ketika FH tidak membayar upah Kontesia L. Rita, salah satu guru honorer dan membuat laporan fiktif kunjungan ke rumah siswa selama masa pandemi CoViD-19. Kepala Dinas PPO Matim, Basilius Teto saat dikonfirmasi Bidik News menuturkan, masalah tersebut sudah diselesaikan secara kekeluargaan di Kantor Dinas PPO.

“Saya kurang mengerti mengapa dia (FH) mengangkangi kesepakatan yang sudah kita buat sama-sama. Saya baru tahu Guru yang mengabdi selama belasan tahun itu sudah dipecat oleh dia,” tandas Teto.

Kadis Teto berharap, FH meninjau kembali keputusan pemecatan dan tidak mengangkangi beberapa poin yang telah disepakati bersama-sama saat mediasi.

Laporan : Biro NTT _ Nardi Jaya, S. Pd.
Editor : Redaktur Bidik News