KONTRIBUSI ADALAH INDIKATOR KEBERHASILAN

8

Oleh :
Pahlawan Minta, S.Si
Ketua Umum HMI Cabang Alor
Dalam sebuah perjuangan tentu membutuhkan usaha yang terstruktur dalam tahapan setiap proses.  Untuk meperolehnya tentu melibatkan seseorang bahkan sekelompok orang, dimana ada yang memposisikan diri sebagai penonton dan ada juga yang hadir sebagai pemain. Seorang penonton hanya mampu melihat dan mengikuti proses dari kejauhan tanpa mengambil peran penting didalam nya sehingga terkesan menjadi bagian dari perjuangan tersebut. Sementara pemain, selain mengikuti juga menjadi bagian didalam proses tersebut dengan berbagai bentuk usaha yang dihadirkan demi perjuangan tersebut. Namun, ada tipikal pemain yang hadir hanya sebagai partisipan dan yang bahkan menjadi kontributor. 
Semua kita, tentu dapat menyimpulkan posisi mana (partisipan atau kontributor) yang memiliki pengaruh yang signifikan dalam sebuah perjuangan.
Penulis sedikit mencoba mengingatkan kita tentang perbedaan antara partisipasi dan kontribusi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) partisipasi adalah keikutsertaan atau berperan serta, sementara kontribusi berasal dari bahasa Inggris yaitu contribute, yang artinya keikutsertaan, keterlibatan, melibatkan diri maupun sumbangan. Sehingga dapat dikatakan bahwa kontribusi bisa berupa materi atau tindakan seseorang dalam sebuah perjuangan yang memberi dampak tertentu didalamnya. 
Partisipasi lebih cenderung hanya melibatka diri tanpa melakukan apa-apa, sementara kontribusi selain melibatkan diri juga memberikan sumbangsi moril maupun materil dengan segala kemampuan dan kompetensi yang dimilikinya semata-mata untuk tercapainya tujuan dari sebuah perjuangan. Sampai pada titik ini, coba kita refleksi bersama siapakah kita dan dimanakah posisi kita dalam sebuah perjuangan ? apakah kita hadir dalam sebuah perjuang adalah menjadi partisipan ataukah kita hadir menjadi pemain yang kontributor !?
Dalam tatanan kehidupan social, semua kita adalah makhluk social. Hal ini pun serupa dengan pemikiran yang dihadirkan oleh seorang pemikir filsuf terkemuka Aristoteles bahwa manusia adalah Zoon  Politicon yang berarti hewan yang bermasyarakat. Dalam pendapat ini Aristoteles menerangkan bahwa manusia dikodratkan untuk hidup bermasyarakat dan berinteraksi satu sama lain. Sedangkan menurut Adam Smith, mengistilahkan makhluk social dengan Homo Homini Socius yang berarti manusia menjadi sahabat bagi manusia lainnya.
Jika dikaji dari segi agama, sering kali penulis mendengar dan mengikuti kajian dari salah seorang senior yang juga merupakan mantan Ketua Umum HMI Cabang Kupang, Kanda Abdul Syukur Oumo menjelaskan bahwa ada 3 istilah manusia yang dijelaskan dalam Al-Qur’an yaitu Basyar, Al-Insan dan An-nas. Beliau menjelaskan kata Basyar mengandung makna lahiriah yang memiliki makna kebiasaan makan, hubungan seks dan berjasmani artinya manusia sebagai makhluk biologis. Konsep Insan selau dihubungkan pada sifat psikologi atau spiritual manusia sebagai makhluk yang berpikir, diberi ilmu dan memikul amanah. 
Dalam sebuah ayat dalam Al-Qur’an pun dijelaskan bahwa “Tidaklah kami ciptakan Jin dan Manusia, melainkan semata-mata hanya untuk menyembah kepada-Ku”. Sedangkan kata An-Nas dijelaskan manusia sebagai makhluk social, yang dimaknai bahwa manusia tidak dapat melakukan apa-apa tanpa yang lain. Dari ketiga kosakata tersebut tentu menuntut kita untuk tetap membangun hubungan baik antar manusia dengan Tuhan (Habluminallah) dan manusia dengan manusia (Habluminannas).
Untuk membangun hubungan baik dengan sesama kita (manusia) tentu ada hal yang perlu kita lakukan yang dapat memberi manfaat kepada sesama. Dalam sebuah hadist Nabi Muhammad SAW, dikatakan bahwa “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk sesama”. Asas manfaat yang dihadirkan itu kemudian diharapkan dapat berdampak positif dalam sebuah proses perjuangan. Disinilah posisi seorang kontributor sangat diperlukan dan menjadi pemeran penting dalam sebuah perjuangan.
Menjadi kontributor adalah sebuah keniscyaan bagi setiap kita yang telah menginfaqkan diri dalam sebuah jalan perjuangan, karena itulah sebuah tanggung jawab seorang manusia (Al-Insan dan An-Nas). Jika, semua menyadari akan tugas dan tanggungjawab maka proses dalam pencapaian tujuan dari sebuah perjuanganpun dapat dicapai dengan mudah, baik itu perjuangan dalam kelompok-kelompok besar seperti perjuangan dalam memajukan, mencerdaskan dan mensejahterakan sebuah bangsa maupun sampai pada tingkatan kelompok-kelompok kecil seperti sebuah organisasi ataupun komunitas bahkan perjuangan seseorang untuk memperoleh keberhasilan.
Sebagai makhluk yang berakal kita tentu menyadari dan berpikir seberapa besar kontribusi seseorang dalam sebuah kelompok tertentu. Adanya kontribusi seseorang dalam sebuah kelompok akan berdampak positif pula terhadap perjuangannya. Penulis adalah orang sampai saat ini masih percaya terhadap perkataan seorang senior HMI Kanda Moh. Efendi Tupong yang didalam diskusi/kajiannya sering memberi sebuah bahasa motivasinya yaitu Beri Maka Dapat. Hal ini tentu berbanding lurus dengan besaran kontribusi seseorang terhadap dampak dari perjuangannya.
Dari gambaran diatas, realitanya banyak yang kita temui dalam sebuah kelompok hanya menjadi partisipan bahkan sekedar menjadi penonton. Sebagai contoh, dalam urusan perjuangan politik, misalnya untuk menjadi seorang pemimpin daerah atau wakil rakyat, tentu membutuhkan sebuah perjuangan dan setiap mereka pastinya adalah bagian dari sebuah kelompok atau kalangan tertentu yang siap berjuang untuk meningkatkan kapabilitas diri bahkan kelompoknya dimata publik. Bentuk perjuangannya adalah baik dalam upaya memperoleh dukungan maupun doa oleh semua orang terutama orang-orang terdekat. Tanpa disadari terkadang orang yang hanya sekedar sebagai partisipan bahkan hanya penonton tetapi memiliki besar harapan akan keberhasilannya dalam sebuah perjuangan. Sehingga pada akhirnya yang disalahkan adalah orang-orang terdekatnya.
Salah satu indicator terbesar keberhasilan perjuangan seseorang adalah seberapa besar kontribusinya terhadap sesama. Oleh karenanya, jadilah seorang pemain yang kontributor untuk diri sendiri maupun sesama manusia, karena siapa yang memberi maka dialah yang layak untuk mendapatkannya. Jadilah orang yang reflektif dari setiap kegagalan dalam sebuah perjuangan. Yakinlah bahwa sebuah usaha dan perjuangan akan sampai manakala kita senantiasa memberi manfaat terhadap sesama. YAKUSA………!!!