Mantan WAKETUM PERSMA; PERSMA Lahir Sebagai Solusi Sukuisme Mahasiswa Alor Makassar

8

Anter, begitu sapaannya, santun dan plural kepada siapapun dan dimanapun begitulah ia dikenal. Sosok yang juga pernah menjabat sebagai Sekretaris Umum Persatuan Mahasiswa Alor Makassar ini memiliki rasa sosial dan kepedulian yang tinggi.

PERSMA baginya adalah rumah dimana awal ia memupuk cinta dan asa arti sebuah kerukunan, tempat dia mengenal perbedaan yang diramu dalam persatuan serta dekapan kasih yang diolah dalam rumah semboyan leluhur. “Taramiti Tominuku”, semboyan yang juga merupakan Tag Line Persatuan Mahasiswa Alor ini adalah tafsir dari Bhineka Tunggal Ika yang menjadi Falsafah Bangsa Indonesia.

Alor, negeri seribu Peradaban sudah sepantasnya menjadi kewajiban bersama untuk dirawat, guna menunjang pendidikan dan pengetahuan regenerasi kedepan. Alor yang merupakan Kabupaten dengan Bahasa terbanyak di Indonesia ini penuh dengan misteri peradaban masa lalu. Hal ini ditandai dengan banyaknya bahasa yang digunakan disana, sehingga tak heran jika sesama orang Alor namun tidak saling mengerti bahasa antara yang satu dan yang lainnya.

Advertise

Baca Juga

Disana pula, di semenanjung timur indonesia itu, ditemukan masyarakat plural yang kebersamaannya sudah berlangsung berabad abad yang lalu. Tak jarang juga kita jumpai dalam membangun rumah ibadah agama tertentu dikerjakan oleh selain agama pemilik rumah ibadah tersebut. Bahkan menghadiri acara ceremonial keagamaanpun selalu dihadiri oleh tokoh tokoh lintas agama.
Disanalah pancasila terasa hidup, kebersamaan terjalin, kebhinekaan terjaga dengan utuh.

Taramiti Tominuku, karena falsafah hasil sumpah serapah leluhur inilah, Persatuan Mahasiswa Alor Makassar dideklarasikan untuk menutup keran keran sukuisme Mahasiswa Alor yang berada di Makassar. Kerinduan akan kebersamaan yang jua merupakan kodrat dan panggilan hati setiap manusia ini yang kemudian di akomodir oleh beberapa Founder untuk menyatukannya dalam sebuah wadah yaitu PERSMA. Triswanto Bala, Rais Syukur Timung, mereka inilah orang orang awal yang meyemai bibit ini. Sehingga sampai detik ini masih terdengar gaungnya.

Mengutip sebuh pernyataannya (Anter) “Darimu (PERSMA) red_ Saya belajar tentang bagaimana cara menjaga persatuan, darimu saya belajar tentang menghargai perbedaan… Beliau juga menyayangkan munculnya organisasi organisasi yang mengatasnamakan suku atau golongan golongan tertentu.
“PERSMA berdiri untuk merangkul seluruh Mahasiswa Alor yang berada di Makassar, sehingga munculnya organisasi yang mentasnamakan suku atau golongan sangat disayangkan oleh kami”. Namun lanjut beliau Itu merupakan dinamika yang sudah terjadi sehingga perlu adanya kedewasaan dalam menyikapi persoalan ini, Tutup beliau.

Post By : DIVISI HUMAS PERSMA