MENAFKAHI ANAK LAKI-LAKI MUKALLAF DAPAT BERNILAI WAJIB

16

Oleh:Ust. Fauzil Adhim

Ada tiga hal yang apabila terkumpul pada diri seorang anak, maka dia sudah termasuk mukallaf. Apa saja itu? Al-bulugh, muslim dan tidak gila maupun idiot. Al-bulugh maknanya anak sudah baligh. Ini dapat tercapai pada usia 10 tahun, 12 tahun atau usia sesudahnya.

Jika tanda-tanda fisik belum juga tiba, maka para ulama sepakat bahwa penentunya adalah usia, yakni usia 15 tahun qamariyah menurut jumhur ulama atau 18 tahun menurut ulama Hanafiyah serta sebagian ulama lain yang semisal. Secara sederhana ini menunjukkan bahwa anak sudah dapat menjadi mukallaf di usia akhir SD, awal SMP ataupun awal SMA.⁣

Saat baligh, sepatutnya anak telah memiliki sa’ya (ٱلسَّعْىَ), yakni kesanggupan melakukan upaya produktif berkenaan dengan mencari penghidupan. Ini bukan berarti secara otomatis anak telah memiliki istitha’ah alias kemampuan memenuhi kebutuhan dasarnya yang menjadikannya diserukan untuk menikah apabila telah datang pada al-ba’ah (dorongan kuat terhadap lawan jenis). ⁣

Ketika anak laki-laki sudah mukallaf, orangtua tidak wajib lagi memberinya nafkah. Tetapi tidak wajib bukan otomatis haram. Ini penting untuk kita perhatikan. Membelikan istri HP atau mengajaknya ke luar negeri misalnya, tidak wajib bagi suami. Tetapi suami tidak berdosa melakukannya jika ke luar negeri itu dalam rangka kebaikan, sekurangnya bukan untuk mengerjakan yang haram. Umrah bersama istri misalnya, meskipun tidak wajib, ia merupakan kemuliaan yang sangat baik. ⁣

Tetapi menafkahi anak laki-laki mukallaf bisa terjatuh kepada hukum wajib jika ia sedang menuntut ilmu-ilmu syar’i atau ilmu yang tergolong fardhu kifayah. Syaikh Ibrahim al-Baijuri menerangkan dalam Hasyiyah Al-Baijuri:⁣

لو كان مشتغلا بعلم شرعي ويرجى منه النجابة والكسب يمنعه فتجب حينئذ ولا يكلف الكسب ⁣

“Jika anak yang telah mampu bekerja ini sedang mencari ilmu syara’ dan diharapkan nantinya akan menghasilkan kemuliaan (dari ilmunya) sedangkan jika ia bekerja maka akan tercegah dari rutinitas mencari ilmu, maka dalam keadaan demikian ia tetap wajib untuk dinafkahi dan tidak diperkenankan (bagi orangtua) untuk menuntutnya bekerja.”⁣

Penjelasan serupa juga disampaikan oleh Ibnu Taimiyah serta para ulama lain. Artinya, jika anak sedang menuntut ilmu-ilmu syar’i di pesantren misalnya, bukan hanya boleh menafkahi mereka (anak laki-laki mukallaf), tetapi bahkan wajib hukumnya. Begitu diterangkan oleh para ulama ahli fiqh.⁣

Berkenaan dengan hal ini, penting sekali untuk merenungi hadis yang riwayat Tirmidzi sebagaimana kita dapati dalam Riyadhus Shalihin:⁣

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ أَخَوَانِ عَلَى عَهْدِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَكَانَ أَحَدُهُمَا يَأْتِى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- وَالآخَرُ يَحْتَرِفُ فَشَكَا الْمُحْتَرِفُ أَخَاهُ إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ لَعَلَّكَ تُرْزَقُ بِهِ⁣

Dari Anas bin Malik, ia berkata, “Pada masa Nabi ﷺ ada dua orang bersaudara, yang satu suka datang menemui Nabi ﷺ (untuk menuntut ilmu agama) dan yang lainnya giat bekerja (supaya saudaranya bisa mendapatkan rezeki). Kemudian orang yang giat bekerja mengadu kepada Nabi ﷺ tentang keadaan saudaranya itu. Lantas beliau bersabda, “Boleh jadi engkau mendapatkan rezeki karena sebab saudaramu (yang sedang menuntut itu).” (HR. Tirmidzi. Kata Imam Nawawi sanadnya shahih sesuai syarat Muslim).⁣

Para ulama menerangkan bahwa perkataan “boleh jadi kamu/semoga kamu” (لَعَلَّكَ) dalam hadis menunjukkan kepastian. Hadis ini sekaligus menunjukkan keutamaan menafkahi laki-laki yang sedang menuntut ilmu syar’i, meskipun yang menanggung adalah saudaranya.⁣

Jika kita telah mendidik mereka dengan iman dan membekali mereka dengan pokok-pokok agama, maka ‘dinafkahi’ tidak menjadikan ketergantungan dan kemanjaan.⁣

Janganlah mencampur-adukkan orang-orang yang tidak dididik dengan bekalan iman yang baik –meskipun pengetahuan agamanya mungkin luas—dengan mereka yang benar-benar telah dibekali agar senantiasa menghadapkan wajah mereka kepada agama yang hanif ini dengan hanif.⁣

Dari sinilah kita dapat memahami mengapa di masa awal Islam, kita menjumpai anak laki-laki yatim, mukallaf, tetap dinafkahi ibunya dari bekerja memintal. Mereka bukan tak memahami agama, bahkan mereka sangat taat. Kelak kita mengenal anak laki-laki itu dengan sebutan masyhur Amirul Mukminin fil Hadis. Dialah Sufyan Ats-Tsauri rahimahuLlah Ta’ala, faqih besar generasi tabi’ut tabi’in, satu dari tiga generasi terbaik yang dijaminkan oleh Rasulullah ﷺ.⁣

Apakah Sufyan Ats-Tsauri tidak memahami agama ini? Apakah ibunya tidak memahami agama ini? Sungguh, seandainya segenap manusia di zaman kita berkumpul, boleh jadi keutamaan Sufyan Ats-Tsauri bahkan tak dapat kita dekati. Apalagi jika digabungkan dengan keutamaan ibunya. Tetapi ibunya tetap menafkahi Sufyan Ats-Tsauri agar dapat menuntaskan menuntut ilmu syar’i.