Mengubur Pancasila

181

BIDIKNEWS.id, Opini - Tak bedanya dengan Soeharto, rezim kekuasaan Jokowi juga mengagungkan Panca Sila namun tidak melaksanakannya. Nasionalisme cukup sebatas dibibir saja. UUD 1945 dan NKRI biarlah menjadi slogan dan jargon.

Kalau dulu Soeharto dikenal sebagai diktator otoriter, dengan tangan besi terhadap rakyat namun membiarkan asing melalukan eksplorasi dan eksploitasi kekayaan sumber daya alam pada Amerika dan sekutunya. Kini Jokowi melakukan hal yang sama, cuma beda afiliasi atau porosnya saja.

Kelihatannya negeri tirai bambu itu yang lebih dominan. Bak banjir bandang, pengaruh China yang diikuti investasi berupa teknologi, pemberian hutang dan serbuan TKA, seakan membuat Indonesia seperti menjadi negara boneka China. Eksistensi negara dan rakyat China terus meningkat secara masif, sistematik dan terstruktur, dari aspek kuantitatif maupun kualitatif.

Seperti menjadi kenyataan pahit yang tidak bisa dihindari. Negara China memiliki semacam tradisi dan tujuan nasional bahwa di dalam negeri menjadi negara yang kuat dan besar, juga makmur di negeri orang lain.

Sementara, semenjak kejatuhan Soekarno yang memainkan "New Emeging Forces" (nefos) dan memimpin kekuatan non blok, Indonesia menjadi jongos di negerinya sendiri.

China memang bangsa yang hebat, salah satu negara adidaya dengan kekuatan ekonomi dan militer yang mendunia. Apalah kita bangsa Indonesia?. Hanya mampu menggugat China dan kekuatan asing lainnya seraya tak berdaya mengikuti kemauannya. Dalam belenggu pusaran kapitalisme dan komunisme.

Semua nilai-nilai Panca Sila dimanipulasi oleh perilaku dan kebijakan politik. Konstitusi yang dibeli dengan uang menjadi alat ampuh dan efektif mengatur regulasi dan hajat hidup orang banyak. Seiring demokrasi lansung yang liberal, aparatur negara nyata-nyata mengkhianati sila ke 4. Soal persatuan kita tahu, semu dan artifisial.

Bangsa ini gandrung bertengkar. Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan dan keadilan sosial menjadi barang usang bagi penyelenggara negara, sambil tetap meneriakannya dalam kekerdilan jiwa dan kebohongan kepemimpinan.

Mafia pengusaha dan mafia hukum menjadi bos dari birokrasi pemerintahan RI. Pancasila disanjung sekaligus dibendung.

Oleh : Yusuf Blegur
Penulis, Pekerja Sosial dan Pemikir Rakyat Jelata