Menyingkap Fakta Tambang Galian C PT Wae Kuli di Manggarai Timur

110

BIDIKNEWS.id, Manggarai Timur– Tambang pasir galian C milik PT Wae Kuli yang terletak di Desa Watu Mori, Kecamatan Rana Mese, Kabupaten Manggarai Timur (Matim) belakangan menjadi sorotan media massa. Hasil investigasi Bidik News belum lama ini, terdapat fakta-fakta mengejutkan dibalik aktifitasnya yang diduga cacat prosedural.

Berikut fakta-fakta yang berhasil dihimpun Bidik News.

1. PT Wae Kuli beroperasi sejak Tahun 2017, menurut pengakuan Vendi Trisno yang merupakan Direktur Utama, saat dikonfirmasi Bidik News Tanggal 9 Oktober lalu.

Advertise

Baca Juga

2. Sejak berdirinya Tahun 2017, PT Wae Kuli hanya mengantongi izin eksplorasi dan belum sampai pada tahap produksi.

3. Pantauan Bidik News Jum’at 9 Oktober lalu, terdapat mesin-mesin produksi di lokasi tambang. Patut diduga, PT Wae Kuli sudah lama beroperasi tanpa ijin alias ilegal.

4. Jalanan menuju lokasi tambang melewati perkampungan dan lahan pertanian seperti sawah dan kebun warga Kampung Ikong Kilo, Desa Watu Mori, Kecamatan Rana Mese. Patut diduga, PT tersebut belum mengantongi izin Analisis mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).

5. Lokasi Tambang berdekatan langsung dengan Daerah Aliran Sungai (DAS) Wae Laku.

6. Aktifitas produksi galian C milik PT Wae Kuli dikabarkan sudah ditutup sementara waktu, sambil menunggu keluarnya izinan produksi dari Dinas ESDM Provinsi NTT.

Tanggapan WALHI NTT

Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) angkat bicara soal aktivitas galian C yang terletak di Desa Watu Mori, Kecamatan Rana Mese, Kabupaten Manggarai Timur, NTT.

Dikonfirmasi Via Telepon belum lama ini, Yuvensius Stevanus Nonga, Deputi Walhi NTT, meragukan dokumen Amdal atau Upaya Kelestarian/Pelestarian Lingkungan (UKL/UPL) yang dikeluarkan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Manggarai Timur.

Ijin tersebut, Kata Dia, sangat minim kajian dan patut diduga adanya konspirasi antara DLH matim dan pemilik tambang.

“Jika lokasi galian berdekatan langsung dengan permukiman warga, aktifitas tambang menyebabkan polusi udara dan pencemaran lingkungan akibat debu, sebaiknya tambang itu harus ditutup terlepas dia punya izin atau tidak,” tandas Yuvensius.

Terkait penutupan sementara PT Wae Kuli, Ia berharap, Masyarakat dan media pro aktif mengkawal jalannya proses perizinan hingga nantinya dinyatakan legal, dan tentunya melalui kajian sesuai kondisi di lapangan.

Laporan: Biro NTT _ Nardi Jaya
Editor    : Redaktur Bidik News