Operasi Intelijen Bersandi “Orgil?”

191

BIDIKNEWS.id, Opini – Alangkah heran alang kepalang, dalam satu atau dua tahun ini “teror orang gila,” mengisi relung-relung kehidupan sosial politik kita. Hingga kini, belum satupun riset, yang mengungkap, kenapa orang gila begitu gregetnya pada masjid, ustadz, kyai atau ulama.

Sebaliknya, pelaku yang sama (Orgil) dengan tindakan serupa tidak terjadi pada rumah ibadah dan tokoh agama lain. Alangkah terfokusnya peristiwa demi peristiwa tersebut. Ini juga yang membuat kita heran, sedikit tercengang.

Apakah ini sebuah operasi bawah tanah yang terencana? Wallahu’alam. Selaku rakyat, kita hanya mampu membaca gejala. Bahwa ihwal demikian, terjadi secara runut dengan pelaku yang persis; ORANG GILA. Istilah kerennya orang cacat mental.

Advertise

Masih ingat peristiwa terbunuhnya presiden Amerika Serikat, John F Kennedy? Lee Harvey Oswald si pembunuh Kennedy terdiagnosa berkelainan jiwa. Cacat mental. Ini sebuah operasi intelijen berskala besar?, Barang tentu.

Entah gila baru, atau gila senior, pokoknya Oswald adalah bagian dari operasi intelijen. Terstruktur dan sistematis. Pasal itu yang membikin, siapa otak di balik aksi Oswald masih sumir hingga kini. Alangkah canggihnya operasi pembunuhan Kennedy.

Tokoh intelijen senior, Soeripto, menyebut, bisa saja Orgil digunakan sebagai alat operasi intelijen. Bagaimana bisa? Tentu bisa. Namanya juga operasi intelijen. Kemampuan berpikir intelijen itu, sudah pasti dua kali di atas pikiran orang awam. Melakukan hal-hal diluar pikiran orang awam.

Menurut pengamat intelijen senior berkepala plontos ini, orang gila, bisa dipantik sisi-sisi emosionalnya. Bagian emosi mana yang reaktif bila dirangsang, maka pada bagian tersebutlah yang digunakan untuk suatu operasi intelijen dengan sasaran tertentu.

Semacam ada psychological engineering pada bagian-bagian psikis orang gila. Pendeteksian bagian emosional yang reaktif itu dimanfaatkan untuk suatu aksi. Seperti yang dilakukan Oswald.

Bisa jadi, dalam kelainan mentalnya, Oswald memiliki sisi psikis yang mudah reaktif dan impulsif, manakala dipantik soal dirinya sebagai seorang Republican dan seterusnya. Unsur-unsur impulsif itulah yang direkayasa secara canggih, hingga Oswald berani melakukan tindakan nekat. Ini seumpama saja.

Atau seperti tragedi penganiayaan ulama, ustadz/kyai yang belakangan marak. Peristiwa berlangsung apik dan Terencana. Mayoritas pelaku cacat mental. Kalau boleh dibilang, seolah ini operasi intelijen bersandi “Orang Gila.”

Manakala kita bayangkan, operasi ini, memiliki data akurat dan detail tentang rekam medis ekonomi keluarga, masyarakat dan orang tua. Kapan dan dimana peristiwa terjadi sudah terencana dengan baik. Bukan ujuk-ujuk.

Setiap operasi intelijen, tentu men- delivery pesan pada khalayak. Ancaman, menebar ketakutan dan intimidasi. Operasi besar, terencana dan sistematis dengan tujuan men- delivery sebuah pesan, hanya bisa dilakukan oleh suatu badan/organisasi dengan infrastruktur yang mumpuni dan berjejaring hingga ke grass root level.

Dari sisi kita, ada dua pesan yang delivered bersamaan. Rasa takut dan judgement. Rasa takut akibat teror orang gila. Bersamaan dengannya, judgement, bahwa pelaku teror bom dan seterusnya adalah kelompok islamis/radikal. Barang tentu perasaan umat Islam saat ini tertekan, dihantui rasa takut, lalu dipojokkan!.

Ada dua pesan yang ter- delivery secara opposite. Pertanyaannya, ini operasi bawah tanah oleh kelompok/organisasi yang sama dan saling bersahut-sahutan seperti tanya jawab? Wallahu’alam.

Sekali lagi, tulisan ini tak menuding siapapun. Sebatas sebuah observasi dan konstruksi pengetahuan. Bahwa setiap peristiwa sosial, tentu memiliki unsur-unsur knowledge yang sekiranya penting ditransfer ke publik. Yang jelas, tidak mudah mengungkap jejaring teror ini. Bisa dilakukan siapa saja. Siapapun bisa menjadi aktor dan mastermind.

***
Di layar TV, tampak onggokan daging yang tercecer di tanah, bergumul debu, bagikan daging yang disuwir-suwir. Tergeletak tak karuan. Ditangkap kamera sumir-sumir. Katanya itu jasad pelaku bom bunuh diri depan gereja Katedral Makassar.

Inisial dan jaringan pelaku secepat kilat terdeteksi aparat. Bukan main cepatnya. Namun terbersitlah pertanyaan, kenapa peristiwa itu tidak terdeteksi dini oleh Badan Intelijen Negara? Dengan infrastruktur yang mumpuni, BIN semestinya bekerja lebih cepat, mendeteksi dini peristiwa dimaksud.

Apapun itu, perilaku ini (bom bunuh diri depan gereja katedral Makasar) adalah nista. Siapapun pelakunya dan apapun motifnya. Perkara pelakunya kelompok mana dan apa motif, tentu itu urusan aparat. Merekalah yang punya infrastruktur untuk mendeteksi. Yang jelas, kedengarannya, pelaku bukan ORANG GILA!.

Penulis : Munir Sara (Pegiat Literasi)
Edito     : Redaktur Bidik News