Opini: Amir Sjarifuddin Harahap, Perdana Mentri yang Hilang di Belantara Sejarah Orba

70

Oleh: Rais Syukur Timung, S. IP
Aktivis Literasi (Nalar Pinggiran)

Ketika tembok CHINA selesai dibuat, kemanakah para pekerja disembunyikan?”.
(Lut Szun)

Inilah gambaran pertanyaan yang pas untuk menyebutkan keadaan Amir Sjarifuddin, sang Pahlawan penyelamat Bangsa, yang diangkat untuk menampik tuduhan Belanda soal Indonesia “Boneka” Tokyo

Dipertengahan bulan Desember 1948, Amir Sjarifudin, pergi.

Advertise

Baca Juga

Bila melihat Album, mata akan terfokus pada tokoh yg kita kenal baik. Setiap Provinsi merasa mesti memiliki Pahlawan. Tidak hanya daerah tingkat 1, kabupaten kota pun berlomba mengusulkan pahlawan mereka. Ini terjadi di masa akhir orba.

Setelah era reformasi, perlombaan ini menyurut. Pahlawan yg berjumlah seratusan orang itu seakan memiliki kelas. Ada yg sering disebut, ada pula yang tidak pernah disinggung dalam pidato ataupun pelajaran sekolah. “Amir Sjarifudin”, adalah termasuk orang yg tak pernah di sebut, mungkin saja sudah dilupakan.

Dulu, ada Guru Madrasah Tsanawiyah saya bertanya, “kenalkah kalian pada Amir Sjarifuddin?”.
Tidak satupun yg bisa menjawab, termasuk saya.

Setelah selintas membaca, beberapa kliping sejarah. Amir Syarifudin yang diceritakan adalah Ia yang entah dimana dalam belantara sejarah anak bangsa (baca: sejarah Formal).

Amir berasal dari keluarga Batak Islam bercampur Kristen. Kakeknya, Ephraim adalah seorang jaksa beragama Kristen. Ayahnya, Soripada juga seorang jaksa yg beralih ke agama Islam setelah menikah dgn seorang Gadis Batak Muslim. Amir Sjarifudin Harahap merupakan seorang Perdana Mentri RI yg di eksekusi Bangsanya sendiri tanpa proses Hukum.

Sebagaimana yg dikisahkan sejarawan, Aswi warman Adam, pertengan Desember tahun 1948 : tengah malam di Desa Ngaliyan-Solo, 20 orang warga disuruh tentara menggali lubang sedalam 1,7 meter. Amir: Berpiyama putih-biru, bercelana panjang berwarna hijau dan membawa buntelan sarung, bertanya pada kapten yg ada disitu: “saya ini mau di apakan?”.

Amir Bersama 10 orang lainnya di tembak satu persatu.

Konon, menjelang ia dieksekusi, Amir Sjarifudin masih terus membaca buku. Ia pecinta buka, Gemar Membaca.

Amir Sjarifuddin adalah salah seorang tokoh yang berjasa mempertahankan eksistensi Negara pada awal kemerdekaan indonesia. Amir Sjarifuddin pernah menjadi perdana Mentri. Diangkat untuk menampik tuduhan belanda bahwa Indonesia adalah Boneka Tokyo, karena Soekarno-Hatta dianggap berkolaborasi dgn saudara Tua dari Negeri Matahari terbit.

Dari empat Tokoh Nasional yang menduduki jabatan tertinggi diawal Indonesia merdeka (Presiden, Wakil presiden, dua orang perdana Menteri periode awal). Tiga orang yg menjadi pahlawan Nasional : Soekarno, Hatta dan Sjahrir. Sedangkan yg satunya lagi, Amir Sjarifuddin, jangankan diberikan bintang jasa, Biografinya saja tdk beredar dimasa Orba.

Pada Tahun 1984, Penerbit Sinar Harapan sempat mencetak Tesis Frederick Djara Wellem di sekolah tinggi Theologi Jakarta: “Amir Sjrafuddin, Pergumulan Imannya dalam memperjuangkan Bangsa”. Namun buku itu terpaksa dimusnahkan karena Jaksa agung tidak berkenan.

Dalam Sejarah indonesia, Amir Sjarifuddin Tak hanya di buang dan dilupakan, tetapi juga tidak diakui.

Referensi :
Aswi Warman Adam (2002 & 2006)

Editor: Sya’ban Sartono Leky