Opini: Belajar dari Kasus “Sidharta Gautama”

112

Penulis :  Abdul Syukur Oumo
Editor    :  Sya’ban Sartono

Pada titik inilah, kita merasa bahwa demokrasi ini anjlok dalam titik nol, kita tinggal menghitung waktu mundur, bersiap diri, bahwa dua, tiga atau lima tahun kedepan, negeri ini kembali dipimpin rezim bertangan besi, dua atau lima tahun kedepan, kita akan jalani sistem otoritarian, dimana dasar-dasar sistem tersebut, telah diletakan dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir ini.

Ada cerita yg melegenda di Agama Budha, adalah Suddhodana; Bapak yang menyembunyikan Sidharta dari keadaan negatif dan tidak elok. Sidharta dijauhkan dari melihat orang tua kecuali ibunya dan semuanya serba elok, cantik, tampan, kaya, indah, makmur dan tajir.

Konklusinya semua kenikmatan duniawi dipaparkan di hadapannya. Alhasil, Sidharta malah muak dengan keadaan yang serba sempurna itu. Sidharta bosan oleh kepalsuan dan lari tunggang langgang dari kepalsuan akibat mengetahui realitas empiris yg terjadi di luar surga yang disediakan oleh Ayahnya.

Advertise

Baca Juga

Kepalsuan mengusir kenyamanan Sidharta, ia lalu berlari meninggalkan kesenangan semu itu. Kesunyian dalam pelarian memang menyakitkan, dunia yang semula riuh mendadak senyap. Teman yang tadinya ada, tiba-tiba menghilang.

Sendirian, ia dipaksa dengan kehidupan baru, tempat baru, hal-hal baru yang tidak pernah ia kenal. Dalam berbagai kesempatan, ia tidak bisa bergaya layaknya orang kebanyakan. Tapi Sidharta sudah terlanjur mengambil jalannya, bahwa kepalsuan harus diakhiri

Coba lihat rakyat Indonesia sekarang, selalu saja diperlakukan seolah Suddhodana memperlakukan Sidharta. Laporan ekonomi, pembangunan, daya saing, kesejahteraan rakyat semua digambarkan baik-baik saja.

Ditutupinya kenyataan bahwa pertumbuhan ekonomi bukanlah berarti pemerataan ekonomi, Ketimpangan semakin menganga lebar, kesenjangan ekonomi antara yang kaya dan yang miskin semakin jauh jaraknya

Saat ada rakyat yang sudah merasa jenuh dengan kondisi ini lalu bangun dan melawan, apa yg terjadi? Para pengkritis yang menyadari kesalahan sistem yg diulang-ulang semacam ini justru dibungkam.

Yang berani angkat suara mengungkap fakta justru dianggap tak waras oleh yang lebih punya kuasa, lalu mereka dituduh dengan pasal-pasal palsu. Para kritisi hanya menghadapkan cermin pada wajah-wajah sistem yang salah dan memang tak ideal, namun cermin tersebut dipecahkan karena telah memantulkan bayang bayang buruk yang tak diinginkan oleh penguasa.

Pada titik inilah, kita merasa bahwa demokrasi ini anjlok dalam titik nol, kita tinggal menghitung waktu mundur, bersiap diri, bahwa dua, tiga atau lima tahun kedepan, negeri ini kembali dipimpin rezim bertangan besi, dua atau lima tahun kedepan, kita akan jalani sistem otoritarian, dimana dasar-dasar sistem tersebut, telah diletakan dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir ini.

Rakyat jangan ditarik paksa untuk beradaptasi dengan keadaan yang jelas-jelas salah. Jika ada yang ingin melawan sesuai prosedur konstitusi, berikan ia ruang. Sebab ia sedang mengamalkan demokrasi yg sudah terlanjur kita petik di 20 tahun lampau.

Menilik narasi sejarah yang panjang, kita belajar bahwa kebenaran dan kekeliruan memiliki tempat-tempatnya yang khusus dalam setiap titik waktu. adalah kemenangan-kemenangan heroik atas kebenaran lama inilah akhir cerita yang khas dalam sejarah manusia.

Menjadi bagian dari 20 tahun perjalanan reformasi, kita percaya bahwa akhirnya kita dapat mengecap demokrasi yang sejati. Di masa-masa sebelumnya, kedaulatan rakyat hanya tinggal nama yang tak pernah terwujud nyata. Tak ada keleluasaan untuk bertindak, untuk memilih, untuk berekspresi, untuk berbicara.

Dan setelah segala kuasa otoritarian tumbang, ternyata kini kita sedang dalam proses membangun sebuah sistem yang mengulang masa-masa otoritarian dengan senyap, menangkap saat pengap, lalu dijerat pasal-pasal orba gaya baru.

Ingat! Saat tirani dan sang tiran hadir untuk menggugat kebebasan seluruh warga bangsa. Bangsa ini akan mengundurkan diri dari pentas sejarah. Tirani di manapun adalah akar dari seluruh dosa sejarah peradaban dan politik.

Naiknya iuran BPJS, TDL, LPG 3 kg. Adalah fakta bahwa rezim ini sedang menggali lubang sedalam-dalamnya untuk mengubur rakyat miskin di dalamnya. Di saat yang bersamaan, kita justru menonton ketidakberdayaan rakyat atas perlakuan semena-mena eksekutif

Sampai kapan kita terus begini?, bersepakat untuk tidak bersepakat soal mengeluarkan rakyat dari kemiskinan. Di permukaan kita lihat seolah-oleh bekerja, tapi bukan untuk rakyat miskin. Ambil saja contoh pembangunan jalan tol, siapa yang paling banyak menikmati? Dijual lagi ke swasta, tarif dinaikkan. Sedikit banyak akan berdampak pada siklus ekonomi di bawah

Problem paling besar saat ini adalah kita seolah nyaman dengan permainan elit. Lihat saja kasus jiwasraya, puluhan Triliun hilang begitu saja. Jokowi justru meresponnya dengan memanggil pimpinan parpol kualisi. Sebagai pemegang saham mayoritas di Jiwasraya pemerintah harus bertanggungjawab membayar kerugian nasabah.

Pertanyaannya uangnya dari mana? Sedang pemerintah menaikkan iuran BPJS karena merugi dan tertumpuk hutang. Hal yang begini tidak butuh terlalu pintar untuk memahami setiap lekuk problem bangsa. Pemerintah saat ini sedang dalam proses Sidharta-isasi. Menyajikan yang baik-baik padahal secara faktual tidak demikian.

Apa kita harus begini terus?…. Sampai kapan?….