Opini : Corona dan Duka Bangsa dibalik Layar Kekuasaan Global

68

Oleh : Bung Cello (Penikmat Literasi)
Editor : Sya’ban Sartono

Bergoyang kembali Alunan Historis yang mencekam dahulu, penuhi catatan Sejarah kelam Bangsa. Manusia berjatuhan seperti peluru, menembus badai Zaman tak bertuan itu. Pernah menjalar wabah hitam melanda dunia. Kulit abad bertukar, pendemi datang lagi beri tanda Bahaya dengan lahirnya Corona.

Bak Maut menampakan sisi lain wajahnya di Dunia nan Sunyi. Duka ini kami serahkan kepada yang berhak atas nama cinta, sisi lainya sebagai penanda bahwa ada yang lebih berbahaya dan nyata dalam isolasi perputaran waktu dan masa.
Saling menuding di pancaroba,
membawa celaka dan panik Global.

Advertise

Baca Juga

Skenario kambing Hitam sambil tawarkan vaksinasi dan uang Digital.
Ini tetap Propaganda perang dagang
Paman Syam, tutupi panjangnya pertikaian mereka dengan Tirai bambu, yang berefek lumpukan Wuhan, kota Hewan dan Tumbuhan berkawan di negeri nan padat itu.

Tumpukan wacana nasional berbagai media, babat narasi waralaba obat-obatan pencegahan yang basi.
Bak Farmasi kelimpahan Hadiah dari Pandemic. Siapa yang hendak kamu Salahkan dalam Drama ini???…
Otoritas kebijakan petinggi tidak seketat soal Terorisme Agama.

Pandemi hadir untuk kelengkapan potongan kecil bukti bahwa Manusia dan Egoisme Kekuasaan, adalah wadah pencitraan yang kerap membingungkan membuat kelimpungan logika dan nalar. Tempat Ibadah ditutup, namun Tambang Liar bebas meraup untung.
Pekerja asing dan keluarga pejabat sama sama nikmat meletup, tak sepadan dengan Anak Bangsa, Pejuang yang kian dihajar harbabiru.

Lalu siapa yang berani berkata Cukup
Dan mulai angkat suara untuk mengamuk???…. Sekolah libur, Pabrik dan Mall tetap buka, Rupiah terjun bebas bak jatuh tak berdaya ditendang saat terjun payung. Perampasan Lahan dan korupsi melaju, tapi tak sesanter wabah Corona. Peringatan dalam Rekaman “Duduklah di beranda Rumah sambil ngemil cemilan, Syukurilah kisah hidup sebelum wabah menampar di sekelilingmu”.

Akhirnya, Terima kasih Tuhan atas kejadian ini, kami lebih sederhana dan bijak memaknai kematian. Jaga diri dan Jangan Panik, sebab banyak jalan menuju kematian dan Kita sudah berulangkali melewati itu, Anggap saja kita tidak pernah menonton berita tentang kelabunya Pandemic ini.