Opini: Corona dan Kuliah Kesederhanaan

103

Oleh : Abdullah Sartono
Editor : Sya’ban Sartono

Virus Corona atau atau bahasa elitnya CoVid – 19 memaksa kita untuk tunduk sementara, kembali sedikit merenung bahwa ternyata kita sangat tak berdaya sama sekali di hadapan makar dan kuasa Ilahi Rabbi. Corona mengajak kita kembali untuk menyimak pesan – pesan cinta sekaligus peringatan-Nya yang datang melalui dalil – dalil naqli maupun aqli

Sungguh Corona mengembalikan kesadaran untuk percaya pada janji Rabb dan menemukan jati diri kita sebagai makhluk ciptaan-Nya yang lemah, tak berdaya walau melawan makhluk yang tak kasat oleh kita. Virus itu, kini memaksa para pemangku jabatan dan kuasa untuk mempertimbangkan kembali arah kebijakan yang konon untuk memberikan kesejahteraan untuk Rakyatnya, sebagaimana yang kita umbaran janji manis para politikus.

Advertise

Baca Juga

Corona seperti memaksa pemimpin besar negeri untuk mengurangi konferensi akbarnya, karena di khawatirkan dapat mempercepat laju rantai penyebaran Covid 19?. Memaksa kita semua harus berserah diri dan berdo’a memohon perlindungan hanya pada-Nya. Konon, mereka yang tidak percaya dengan Tuhannya, kini ramai bermunajat mohon bantuan dan pertolongan dari penguasa kerajaan ini.

Kekacauan hidup manusia saat ini mirip dengan suasana ketakutan ketika Perang Dunia I atau wabah virus flu Spanyol pada 1918 ketika akal manusia sudah tak berdaya lagi menghadapi ganasnya virus yang merajalela tersebut. Mungkinkah baru sadar?. Kita sebenarnya sekumpulan makhluk lemah tak berdaya. Toh kita tak dapat mengandalkan logika biasa atau pun kecanggihan kecerdasan teknologi manusia tanpa pertolongan dan bantuan Allah Ta’ala.

Sebelumnya kita telah mengkhayal, di tahun 2020 masyarakatnya sudah harus serba modern, segala sesuatu yang terkait dengan kebutuhan yang terkoneksi dengan IPTEK harusnya serba wow dan mewah bahkan. Namun sayangnya kita kembali diminta untuk belajar cuci tangan dan cara bersuci yang benar. Bahkan kita sepertinya lebih merasa istimewa ketika bisa menikmati suasana kehidupan seperti hidup di zaman batu, ya hidup serba alami dengan memanfaatkan apa adanya dari alam bebas.

Bahkan, bisa jadi budaya luhur nenek moyang kita yang melepaskan ketergantungan mereka dengan IPTEK itu hidupnya lebih istimewa. Saya jadi ingat masyarakat yang hidup di lingkungan Ammatoa Kajang Hitam yang terletak di Desa Tanah Toa Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan, mereka menikmati betul serba apa adanya dari alam dan menghindari kerumunan manusia, dan mereka fine saja.

Terkait poit kesederhanaan, seorang dosen tamu pernah bercerita perbedaan pandangan bagaimana menjadi pribadi sederhana. Satu peserta perkuliahan mengatakan, sederhana itu seperti Muhammad SAW yang hidup dengan tidak begitu mementingkan duniawi. Bila tiba harta di tangannya, tak sampai esok semua harta itu telah habis dibagikan pada sahabatnya.

Peserta perkuliahan yang satu lagi mengatakan, Nabi itu makannya kurma terbaik, minumnya susu kambing, konsumsinya daging kambing terbaik, pakaiannya pun wangi dan kendaraannya pun paling gagah. Perbedaan sudut panang tentang sederhana itu pun terus berlangsung dan tidak ditemukan titik temu tentang bagaimana sebenarnya menjadi pribadi yang sederhana.

Namun, oleh Buya Hamka dalam bukunya Falsafah Hidup, kata beliau orang yang sederhana adalah mereka yang tidak terlalu condong, tidak juga terlalu rebah. Maksudnya tidak berlebihan apalagi perperilaku berlebihan dan tabdzir (menghamburkan harta).

Bagaimanakah dengan fakta masyarakat dunia Hedon?

Masyarakat yang kapitalis memahami bahwa kebahagiaan sesungguhnya selalu diukur pada banyaknya materi yang dimiliki. Bahkan sebagian kalangan masyarakat seolah berpikir bahwa hidup belumlah menjadi paripurna apabila belum memiliki rumah mewah, kendaraan dan berbagai fasilitas yang fantastis dan segala kebanggaan lainnya.

Hura – hura dan konsumtif sepertinya telah menjadi satu budaya bahkan sudah sangat mengakar dalam kehidupan orang – orang berdasi dan masyarakat yang tidak tercerahkan dengan prinsip – kesederhanaan.

Memang harus di maklumi, perilaku hidup sederhana sangat bertentangan dengan pola hidup konsumeris. Dalam pola hidup konsumerisme, kebahagiaan individu hanya bisa dicapai dengan cara mengkonsumsi, memiliki dan membeli apapun yang diinginkan meski hal itu melebihi batas kemampuan dasar yang dimiliki.

CoViD-19, terlepas dari beragam perspektif bahwa apakah ia bagian dari by design atau by acciden, atau bagian dari propaganda dan alat perang dagang yang di mainkan oleh Rusia dan China untuk merusak tatanan dunia dan untuk membuat dunia baru. Atau ia adalah tentara dan atau ayat dari sisi Tuhan untuk di jadikan pelajaran dan nasehat untuk penghuni bumi yang sudah jauh dari fitrah kemanusiaannya dan telah merusak bumi.

Sebagai orang awwam saya berlepas diri dari semua perspektif yang bisa memberi kesimpulan – kesimpulan yang tidak bisa saya pertanggungjawabkan. Namun apa salahnya bisa kita ambil sedikit pelajaran dan hikmah dari persoalan Covid 19 ini. Saya meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi apapun jalan ceritanya adalah pasti ada pelajaran berharga, yang oleh orang beriman patut menjadikannya ia sebuah Maddah dan I’tibar untuk mereka kembali menata pola hidup yang lebih sesederhana mungkin.

Saya sedang memimpikan suatu saat kelak semua orang bisa menghargai harta sebagai hadiah istimewa untuknya dan sekaligus nikmat sebagai sarana untuk mamantapkan pengabdian kepadaNya, bukan menjadikan harta dan kemegahan dunia sebagai Tuhan untuk ditunduki.

Saya juga sedang membayangkan kelak orang tidak lagi menghamburkan hartanya dalam acara tasyakuran dan pesta pora mereka. Baik pesta rakyat kelas bawah, pesta pora kelas elit dan konglomerat, pesta pora para pejabat dan politikus.

Politikus dan penguasa semestinya dengan segala kewenangan dan kekuasaan yang ada padanya, bisa menjadikan semua kekayaan negara yang di kelola untuk kemaslahatan bangsa dan untuk kesejahteraan penghuni bumi ini.

Abdullah Sartono adalah
Pegiat Rumah Produktif Indonesia.
Fasilitator SLRT Kemensos RI.
Pengelola PTQ Shohwatul Islam Sulawesi Barat.