Opini: Demokrasi dan Kekhawatiran akut. (Menjawab Tulisan Abdullah Sunarjo Leky)

90

Penulis: No Name
Aktivis Gender Alor

Akhirnya, segala perbedaan harus disikapi dengan bijak, tanpa ada katakutan apapun, Apalagi antar anak Bangsa. Toleransi bukan hanya antar agama, tapi juga antar pemikiran dan pemahaman terhadap sebuah konsep kehidupan, iTULAH  ke-Bhinekaan

Menjawab status Facebook Abdullah Madrid-Mrc (Abdullah Sunarjo Leky) yang dijadikan opini pada media ini, sebenarnya sangat simpel. Masih banyak yang perlu diperbaiki, baik dari segi penalaran terhadap masalah sosial, hingga pada substansinya.

Penulis yang juga adalah tim sukses 01 yang dalam tulisannya masih sangat syarat dengan penggiringan opini yang justru malah membawa pada pergaulan sosial yang dissosiatif. Dalam kehidupan Demokrasi, perbedaan pendapat dan tindakan adalah hal yang lumrah dalam kehidupan kebangsaan. Karna demokrasi menyediakan ruang ruang diskursus yang konstruktif.

Advertise

Baca Juga

Boro boro, penulis sok bijak seolah berdiri di tengah mengambil kebijakan yang bijaksana. Namun penuh dengan tendensi rivalitas politik kemarin yang tidak berkesudahan. Tapi sudahlah, demokrasi meng-iyakan hal itu. Bahkan memfasilitasi perbedaan perbedaan tersebut.

Bahasa yang dilontarkan oleh Abdullah Sunarjo Leky dalam tulisannya;

…Riak dan dinamika yang mengandung makian turut melebur dalam panggung politik Desa, Seolah sudah menjadi trah dan brand politik baru. Bagaimana tidak?, Adanya polarisasi antar pendukung yang terjadi dengan segala dinamika yang ada, tidak terlepas dari peran masyrakat secara total general dalam suksesi pilkades kayang, hingga menimbulkan chaos politik berkepanjangan…

Bahasa diatas menandakan penulis tidak paham dan mengerti tentang negara Demokrasi. Sehingga memahami perbedaan itu sebagai suatu bentuk ketakutan yang akut. Akhirnya, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia di kapling oleh pemikirannya sendiri, sehingga selain dari ideologi dan pemikiran mereka salah. Hal ini yang tidak diinginkan oleh demokrasi Bangsa kita.

Sistem demokrasi bangsa kita adalah “Nasionalisme”, sedangkan Nasionalisme adalah Ideologi moderen. Hasil rasionalisasi pemikir Eropa atas solusi terhadap perang Agama yang berpuluh puluh tahun mendera Benua biru. Tetapi Nasionalisme (kebangsaan) indonesia ini tidak seperti Nasionalisme ala Michael Havlac yg mendirikan Partai Bus sebagai penanda kebangkitan yg berimpresi sekuler. Kebangsaan kita adalah kebangsaan yg Religius, tidak memisahkan antara negara dan agama.

Akhirnya, segala perbedaan harus disikapi dengan bijak, tanpa ada katakutan apapun. Apalagi antar anak Bangsa, Toleransi bukan hanya antar agama, tapi juga antar pemikiran dan pemahaman terhadap sebuah konsep kehidupan.