Opini : Dibalik Ketakutan Masyarakat terhadap Pandemi CoViD-19

85

Oleh : Badi Farman D.
Editor : Sya’ban Sartono

Maraknya pandemi CoViD-19, masyarakat se-Antero dunia gregetan dengan hal tersebut, menurut informasi yang terkonfirmasi, virus tersebut sangat mematikan untuk manusia ketika terkontaminasi dengan tubuh mereka.

Dengan datangnya virus ini, dari Negara seberang, telah membuat Indonesia menjadi takut seperti halnya di daerah Sulawesi Tenggara saat ini, untuk keluar rumah saja boleh jadi tidak diperbolehkan karena dengan adanya virus ini. Akhirnya aktifitas sehari-hari agak terhambat, sehingga perputaran ekonomi terhambat pula juga. Ditambah lagi dengan informasi-informasi Hoax. Nah, dengan adanya informasi yang tidak akurat ini masyakat tambah lebih takut lagi.

Advertise

Baca Juga

Terkait persoalan virus ini saya melihat semacam permainan, yang didramakan oleh pemain. Kenapa demikian, di balik adanya virus ini hanya beberapa Negara saja yang terjankit atau tertular seperti halnya China, Italia, Iran, Indonesia dan masi banyak Negara lainya yang terjangkit.

Seperti halnya Indonesia hari ini yang sangat ketakutan sekali dengan adanya virus ini, Sehingga wacana Lockdown akan di adakan di setiap provinsi atau di daerah untuk menghindari terjangkitnya virus tersebut.

Mengutip ulasan singkat oleh Muhammad Makro Ma’arif Sulaiman, S.Sos “Politik Ketubuhan Selama Masa Karantina. Imbauan untuk melakukan lockdown dari Negara yang diterapkan melalui mekanisme top-down maupun bottom-up sebenarnya mengandung muatan politik ketubuhan atau bio power.

Politik Ketubuhan merupakan konsep yang diperkenalkan oleh Michel Foucault; Konsep tersebut mengandung dua arti (Hayatmoko, 2016: 30) yaitu:
1. Penataan tubuh sebagai mesin yang harus diperbaiki dan dibuat patuh. Dalam konteks wabah Covid-19, tubuh dipaksa untuk patuh terhadap seluruh prosedur yang diterapkan oleh rezim medis modern yang berafiliasi dengan kekuasan politik Negara, melalui proses isolasi secara medis di rumah sakit maupun lockdown di area penduduk;

2. Penataan Tubuh sebagai spesias. Spesies memiliki sifat menyebar dan berproduksi, dalam konteks ini, isolasi, karantina atau lockdown bertujuan untuk memandulkan dan memutus mata rantai penyebaran virus Covid -19 antar tubuh manusia.

Politk ketubuhan disatu sisi memiliki dampak positif yakni menekan dan memutus mata rantai penyebaran virus dari satu tubuh ke tubuh yang lain, akan tetapi di sisi lain dapat menimbulkan dehumanisasi dalam penanganan medis, seperti adanya dominasi birokrasi medis yang menghambat dalam percepatan tindakan medis pasien positif Covid-19, Karena tekanan politik yang kuat dari Negara.

Saya mau katakan bahwa “Demokrasi memang kerap di bajak para elit, yang doyan menjual kalimat atas nama rakyat demi kepentingan bangsa dan banyak kalimat suci lainya. Tugas kita adalah membongkar dan menguji kalimat-kalimat itu agar tidak sekedar kalimat dagangan kata-kata, tapi bisa kita tagi sebagai bukti nyata untuk publik dari yang kaya samapai rakyat jelata.