Opini: Dramaturgi Sasaran Pandemi CoViD-19 dalam menghadapi Stigma Sosial

260

Oleh : Muhammad Makro Ma’arif Sulaiman, S.Sos.
Editor : Sya’ban Sartono

Virus Corona atau lebih tenar dengan istilah CoViD-19 yg berpangkal dari Wuhan Tiongkok sejak Desember 2019 telah menyebar ke berbagai belahan dunia dan lebih dari 200 negara telah melaporkan kasus terpapar COVID-19, tak terkecuali Indonesia.

Di Indonesia, kasus pertama terjadi pada awal Maret 2020 pada dua orang dan terus terjadi penambahan kasus meskipun pemerintah telah memberikan imbauan bahkan larangan bagi masyarakat untuk tidak melakukan berbagai kegiatan yg melibatkan banyak orang atau kerumunan dan bepergian serta kembali ke tempat asal kecuali dalam keadaan mendesak atau darurat.

Advertise

Baca Juga

Data terakhir yg diperoleh dari kompas.com (04/04/2020) menyebutkan bahwa kasus positif COVID-19 di Indonesia mencapai jumlah 1.986 dimana 134 orang dinyatakan sembuh dan terdapat 181 pasien yg meninggal.

Selama masa pendemi yg mengglobal ini, terdapat produksi pengetahuan yg mengkategorikan orang-orang yg terpapar virus ini, dimana kategori tersebut meliputi Orang Dalam Pemantauan (ODP), orang yg dicurigai terpapar virus setelah bepergian dari luar negeri atau luar daerah, Pasien Dalam Pengawasan (PDP), orang yg menderita gejala-gejala yg mengindikasikan terpapar virus dan kategori pasien positif CoViD-19 yg merupakan orang yg telah diperiksa sampel darahnya oleh otoritas kesehatan dan dinyatakan positif terpapar CoViD-19.

Masalah sosial yg dihadapi baik oleh ODP, PDP dan Pasien positif COVID-19 ialah stigma sosial atau labeling sebagai sumber penularan COVID-19 karena kepanikan dan ketidaksiapan masyarakat akan goyahnya tatanan sosial disebabkan wabah penyakit.
Baik ODP, PDP dan pasien positif COVID-19 memiliki kemampuan dramaturgi dalam menghadapi stigma yg muncul dalam struktur sosial masyarakat.

Dramaturgi menurut Ervin Goffman menitikberatkan pada Aktor yg mengendalikan kesan yg disajikannya selama pertunjukan (Poloma, 2010 : 236).
Pertunjukan dalam konteks ini bermakna kehidupan sosial yg melibatkan hubungan sosial dan emosional dengan komunitas sekitar atau pada bagian front stage menurut Goffman.

Pada front stage, ODP berusaha melakukan pengelolaan kesan self atau diri pribadi dalam bentuk tindakan seperti menjaga jarak fisik minimal satu meter dengan orang lain bilamana harus terpaksa berada di luar rumah dan tentu lebih aman ialah isolasi atau swakarantina di dalam rumah demi menjaga keselamatan dirinya dan keselamatan sosial atau berada pada bagian back stage menurut Goffman, dan hal tersebut juga berlaku bagi masyarakat yg belum menjadi ODP. Sedangkan bagi PDP dan pasien positif Corona, tentu wajib menjalani karantina di dalam rumah sakit.

Selama menjalani karantina di dalam rumah sakit sebagai institusi total dalam pandangan Goffman, PDP dan pasien positif COVID-19 melakukan dramaturgi dalam bentuk pengelolaan kesan sikap terhadap dominasi pihak rumah sakit dalam memperlakukan mereka, dimana pengelolaan kesan tersebut dalam wujud kepatuhan sepenuhnya terhadap prosedur medis dan sikap yg bersahabat dengan dokter maupun petugas medis lain agar terjadi pelayanan medis yg ramah dan humanis.

Namun, disisi lain, masih menurut Goffman, terdapat proses awal dimana PDP maupun pasien positif COVID-19 mengalami masa transisi berada di dalam rumah sakit.

Masa transisi itu dapat berupa pengubahan citra diri pasien secara paksa oleh petugas, melalui ritual atau cara-cara lain – suatu proses yg disebut Goffman sebagai “kematian diri” (mortification of the self), bukan mati secara jasmani, dan sebagai contohnya, pasien baru mungkin mengalami pelecehan (dipermalukan) ketika awal masuk institusi seperti dilucuti pakaian dan digeledah, setelah itu pasien diajar untuk patuh total kepada petugas medis di rumah sakit (Jones, 2009 : 151).

Sikap yg dialami pasien demikian tak jarang menimbulkan rasa malu, takut dan membunuh self di masa awal karantina serta mendorong dibentuknya identitas baru yg lebih sesuai untuk memenuhi kebutuhan institusi.

Tindakan yg dilakukan oleh petugas medis tersebut sebagai bagian dari respon lebih lanjut dari stigma sosial terhadap PDP dan pasien positif COVID-19 sebagai sumber keguncangan sosial bila tidak ditangani sesuai prosedur medis yg tetap.

Sumber Referensi :
– Jones, Pip. 2009. Pengantar Teori-Teori Sosial. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.
– Poloma, Margaret. 2010. Sosiologi Kontemporer. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
-https://www.google.com/amp/s/amp.kompas.com/nasional/read/2020/04/04/07234641/3-april-ada-1986-kasus-covid-19-di-indonesia-pemerintah-tambah-fasilitas.