Opini: Fanatisme Agama Merebak di rumah Mahatma Gandhi

191

Oleh: Rais Syukur Timung, S. Ip
Editor: Sya’ban Sartono Leky

“Bumi adalah panggung yang teramat kecil ditengah luasanya Jagat Raya. Renungkanlah sungai darah yang ditumpahkan penguasa dan para Jendral sehingga dalam keagungan dan kemenangan mereka dapat menjadi penguasa yang fana disepotong kecil titik itu”.

Otak kita tak besar. Otak merupakan organ tubuh yang paling menakjubkan. Dalam bukunya yang luar biasa “Misteri Manusia”, ahli biologi sekaligus Filosof Humanis, pemenang 2 (Dua) kali hadiah Nobel , “Alexis Carrel” menjelaskan bgaimana otak manusia itu berkerja; Sekitar seratus Milyar Neuron saling bekerja sama. Terus menerus tanpa jeda. Tanpa istirahat, non stop 24 jam sehari semlam.

Otak kita telah bekerja saat kita berada dalam kandungan, dalam rahim sang bunda terkasih. Kerja otak akan berhenti saat kita mati.  Dan otak juga akan berhenti bekerja saat “kebencian” dan “Fanatisme” yang membuta tuli.
Di setiap agama, Fanatisme atas nama agama selalu ada. Sejarah menukilkan kisahnya:
“Karena sebahagian kecil kelompok Budha Fanatik di Myanmar (etnik Rohingya) menjadi terlunta-lunta tanpa negara”.

Advertise

Baca Juga

Karena sebahagian kecil kelompok Hindu Fanatik, sejarah India sampai hari ini sangat intoleran. Bahkan munculnya negara Pakistan, tidak bisa dilepaskan dari kehadiran kelompok-kelompok Hindu fanatik tersebut. Kini sedang Berlangsung Lagi, pembantaian terhadap kelompok Muslim.

Lalu, Suriah dan Irak. Cukuplah memberikan Fakta, bagaimana sebahagian kecil kelompok Fanatik atas nama agama Islam, meninggalkan cerita yang mengerikan.
Kelompok kecil Fanatik atas nama agama juga terdapat dalam agama Kristen, tentang Kisah Pilu Kaum Bosnia-Herzegovina terus akan di kenang dalam sejarah peradaban ummat manusia.

Agama Yahudi?
Silahkan, di baca sejarah kelahiran Israel Theo State yang kental dengan Diksriminasi dan kisah sedih masyarakat Muslim dan kristen.
Kawan..!
“Fanatismelah yang membuat kehadiran agama begitu menakutkan bagi pemeluk yang satu ketika berhadapan denga kelompok agama lain. Bukan karena agamannya, tetapi karena pemeluknya.

Jangan biarkan Damai ini hilang, Kata Crisye. Saya suka mendengarnya lagi setelah di Cover Felix.

Agama yang saya Yakini Islam adalah agama yang cinta damai. Tugas Azali Manusia adalah Pemakmur bumi (Khalifah). Pencipta peradaban untuk kemaslahatan ummat manusia diatas bumi ini. Dan begitulah yang saya pahami ketika membaca Riwayat hidup Nabi Muhammad, yang murah senyum dan berhati bening.

Tunjuk, ajari saya. Jika salah.
Olehnya itu, Saya teringat dengan seorang Fisikiawan “Carel Sagan” pernah menulis dalam Pale Blue :
“Bumi adalah panggung yang teramat kecil ditengah luasanya Jagat Raya. Renungkanlah sungai darah yang ditumpahkan penguasa dan para Jendral sehingga dalam keagungan dan kemenangan mereka dapat menjadi penguasa yang fana disepotong kecil titik itu.

Renungkanlah kekejaman tanpa akhir yang dilakukan orang-Orang disatu sudut titik ini terhadap  orang-orang yang tak dikenal disatu sudut titik yang lain. Betapa sering mereka salah paham, betapa kejam mereka membunuh satu sama lain, betapa dalam Kebencian mereka. Sikap kita, keistimewaan yang semu, khayalan bahwa kita memiliki tempat penting dialam semesta ini, tidak berarti apapun dihadapan cahaya redup ini. Planet kita hanyalah sebutir debu yang kesepian dialam yang besar dan gelap. Dari sudut pandang kosmis semua orang itu berharga. Apabila seseorang tidak setuju terhadapmu, biarkan ia tetap hidup sebab di ratusan Milyar galaksi, anda tidak akan menemukan yang lain”.

Saya Juga Ingat, Syair Rumi yang Maulana Itu :
“Harusnya,
DiBumi ini,
Ditanah ini,
Yang kami tanam bukanlah benci”.

Akhirnya, saya mulai menyadari dengan apa yang disampaikkan “George Bernard Shaw” bahwa Satu-Satunya orang yang perilakunya waras adalah tukang Jahit, sebab ia melakukan pengukuran yang baru setiap kali bertemu orang lain. Sementara orang lain mengukur dengan pengukuran yang lama dan berharap pengukuran itu sesuai dengan yang sekarang.

Padahal diIndia ada ajaran Moralisme dan Humanisme Gandhi.