Opini : Memetik Nilai dari CoViD-19

86

Oleh : Hasanuddin Kasim
Editor : Sya’ban Sartono

Gempuran yang membabi buta dari sang Mahkota (Covid-19) yang tiada ampun, perlahan-lahan satu per satu negara di dunia berjuang untuk bertahan dan bahkan memeranginya. World Health Organization (WHO), administratur kesehatan, sampai pada pemerintah setempat pun menerapkan berbagai macam kebijakan untuk mencerah penyebaran covid-19 menjadi lebih luas.

Pandemi Covid-19 bermula hanya berdampak pada aspek kesehatan, kemudian meluas kepada aspek ekonomi, pendidikan, keagamaan, pemerintahan, dan pangan. Menemukan hikmah sejalan dengan tugas menjalankan ibadah bulan Ramadhan, tentu tugas kita ialah bagaimana menemukan hikmah dari bencana ini.

Advertise

Baca Juga

Aneka program donasi melalui media sosial berkembang secara spontan. Telah meningkatkan kesadaran kolektif bahwa musibah ini harus dihadapi bersamasama. Solidaritas sosial ini merupakan modal sosial yang luar biasa. Masyarakat modern yang telah terspesialisasi berhubungan dengan sesama atas dasar ikatan kontraktual, kini tergerak untuk bersama-sama atas dasar ikatan moral dengan jiwa kemanusiaan makin tumbuh.

Krisis saat ini terutama tentang menyeimbangkan prioritas nilai-nilai mana yang paling penting dalam situasi apa, namun pada kesempatan ini, penulis akan mendeskripsikan tentang sikap dan tanggung jawab moral dalam menghadapi Pandemi Virus Covid-19 dengan menggunakan analisis 3 hirearki nilai:

Nilai Kerohanian
A. Carrel salah seorang ahli bedah Prancis (1873-1941 M) dan peraih hadiah nobel dalam bidang kedokteran, menulis dalam bukunya Pray (Doa) tentang pengalaman-pengalamannya dalam mengobati pasien. Rilisannya “banyak diantara mereka memperoleh kesembuhan dengan jalan doa”.

Menurutnya doa adalah suatu gejala keagamaan yang paling agung kepada manusia karena pada saat itu jiwa manusia terbang menuju Tuhannya. Sementara ulama melukiskan bencana yang turun dari langit sedangkan doa membumbung ke atas. Keduanya bertemu. Pertemuan itu bisa mengakibatkan terhalangi atau bergesernya bencana sehingga tidak menimpa yang berdoa/didoakan atau berkurangnya bencana dan bisa juga bencana tetap jatuh tapi jatuhnya di tumpukan jerami.

Jika relasi antara agama dan penyakit ini dipahami dengan benar seharusnya tidak perlu mempertentangkan keduannya. Karena manusia yang tersusun dari unsur rohani dan jasmani sudah pasti tidak akan kebal dengan penyakit. Sebagai manusia yang beragama seharusnya menghadapi suatu penyakit secara holistik (menyeluruh).

Apapun jenis penyakitnya khususnya penyakit virus corona ini tidak bisa didekati secara parsial. Tidak cukup hanya dengan pendekatan medis saja, sebaliknya tidak pula hanya dengan pendekatan rohani (spiritual).
Kini telah dikaruniai akal dan hati.

Mari kita gunakan untuk menginstal ulang tata kehidupan sebagai wujud syukur kita dengan tetap didasarkan keyakinan bahwa kita bukan siapa-siapa di hadapannya. Ikhtiar ini penting sebagai sikap kita yang tunduk pada QS Ar-Ra’d:11 “sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu sendiri yang mengubah apa yang ada pada diri mereka”.

Nilai Kehidupan
Setahun yang lalu, pada saat Pilpres kita merasa orang yang paling agamis dan pancasilais, hal tersebut berbanding terbalik dalam kasus jenazah pasien Covid-19 yang ditolak di berbagai wilayah yang seolah-olah melumpuhkan doktrin agama dan pancasila. Padahal momen saat ini nilai-nilai agama dan pancasila dapat kita wujudkan dalam berbangsa yang saling membantu dan gotong royong.

Manusia tidak mampu hidup, maupun hidup dalam kebebasan dan tanggungjawab kecuali jika mereka menanggung perjuangan kolektif tidak tertahankan. Sekali lagi perlu diingat bahwa musibah adalah keniscayaan hidup, semua kita mengalaminya dan semua kita dianugerahi kemampuan oleh Allah untuk memikulnya.

Ujian tidak pernah melampaui kemampuan yang diuji. Yang gagal adalah yang tidak mempersiapkan diri atau tidak menggunakan potensi yang dianugerahkan Allah kepadanya. Tata sosial dan budaya masyarakat kita terkenal dengan ramah tamanya, bertemu bersalaman, cipika cipiki senyum sapa hangat yang selalu terpancar. Tapi apa yang terjadi sekarang senyum itu seakan hilang tertutup masker yang beraneka ragam bentuk dan warna. Kita seolah-olah dipaksa jaga jarak akibat wabah ini.

Nilai Kejiwaan
Dampak psikologis dan sosiologis juga semakin meresahkan publik. Namun, saat ini situasinya berbeda puncak kepanikan warga semakin mencuat karena data positif Covid-19 kian hari bertambah. Kepanikan warga semakin tersulut dan tidak terkontrol.

Dibeberapa wilayah penolakan atas jenazah pasien Covid-19 terjadi. Sikap demikian melumpuhkan hal yang paling asasi dalam diri kita. Yakni rasa kemanusiaan dan akal sehat. Apa yang diungkapkan oleh Sosiolog UI itu tak tercermin dari sebagian warga negara kita. Justru kepanikan tersebut semakin memberi jarak batin bernegara kita. Hendak kemana perginya kemanusiaan kita?.

Fenomena seperti ini dalam sudut pandang sosiologi disebut sebagai “kepanikan moral”. Stanley Cohen dalam karyanya Folk Devils and Moral Panics: The Creation of the Mods and Rockers menuturkan ihwal kepanikan moral. Ia mendefinisikan kepanikan moral sebagai suatu kondisi yang muncul ketika muncul ancaman bagi nilai dan kepentingan masyarakat. Jenazah pasien Covid-19 dianggap sebagai ancaman bagi kehidupan masyaraka yang menganggap bahwa jenazah tersebut dapat menularkan virus setelah dimakamkan.

Hal demikian terjadi karena kurang efektifnya komunikasi dari pemerintah kepada masyarakat atau mengedukasi masyarakat dari isu-isu yang berseliweran. Stanley mengatakan dalam situasi dan kondisi seperti ini, yang paling berperan ialah media karena media sebagai pemain kunci dalam melerai keresahan dan kepanikan warga dengan mengedukasi masyarakat dengan berita.

Hasanuddin Kasim adalah
Pegiat Literasi dan Mahasiswa Pascasarjana di Universitas Negeri Makassar (UNM).