Opini: “Memoar of Khaddafi” (Amerika dan Rusia sama saja)

81

Oleh: Rais Syukur Timung, S. Ip
Editor: Sya’ban Sartono Leky

Sepertinya Khaddafi benar, Amerika dan Rusia sama saja. Yang satu Imperialis, yang satunya Atheis.

Di pekan pekan terakhir  bulan juni 2011. Delapan tahun yg lalu, Qaddafi mulai “sempoyongan”. Anak ideologis Nasser yg terkenal dgn ungkapan; “Amerika serikat dan Rusia, sama saja. Yang satu Imprealis, lainnya atheis”, ini pada akhirnya menyerah pada Tuntutan zaman.

Terlepas suka atau tidak suka pada Moammar Khaddafi, tapi apa yg berlaku padannya, pada Juni 2011 itu sungguh membuat kita teringat dengan dialog monumental antara Alexander Agung penguasa Macedonia dan seorang Nelayan kecil.

Advertise

Baca Juga

“Mengapa kamu mengambil ikan di laut kekuasaan saya”, kata Alexander anak Philipus.

“Anda Mencaplok wilayah saya karena anda kuat maka kamu dianggap pahlawan. Sedangkan saya hanya mengambil sedikit untuk menopang kehidupan hari2 dan saya dicap penjahat. Kata nelayan kecil tersebut.

Dan dibulan juli 2011, NATO (dengan ujung tombaknya Amerika serikat), ibarat Alexander Agung dan Nelayan (kecil) adalah Khaddafi.

Di Timur tengah, tidak ada yang mengalahkan lamanya Khaddafi berkuasa. Tidak Housni Mubarak, tidak juga Ben Ali serta Pemimpin negara Arab lainnya seperti di Yaman atau di Aljazair. Tapi riak Jasmine revolusi dan egypt revolusi seakan telah memicu konflik horisontal di libya.

Atas nama Demokrasi, Obama dan NATO yg kental dengan “kepentingan minyak” dan pemberontak dilibya menyerang mereka. Ia diserang dari empat penjuru mata angin. Khaddafi “sempoyongan” kemudian rebah dan berdarah. Padam!…

Melihat kondisi timur tengah hari ini, apa yg bisa kita ambil dari Khaddafi?

Menjelang kejatuhannya, saya pernah membaca tentang Khaddafi disebuah portal online tentangnya.

Moammar khaddafi, tidak lebih dan tidak kurang adalah pribadi yg responsif dan spontan. Ia beda dengan Anwar Saddad dan Housni Mubarak, apalagi bila disandingkan dengan Al-Hafeez El- Saddad yg kala hidupnya termasuk tokoh yg paling berpengaruh di Timur tengah. Khaddafi memiliki dunianya sendiri yg kadang kontradiktif.

Merindukan arab yg bersatu disatu sisi, pada sisi lain dengan mudahya ia melecehkan sultan-sultan konservatif Timur tengah. Khaddafi yg menyedot kekaguman saya untuk pertama kali lewat cover majalah Tempo, mengklaim dirinya sebagai anak ideologis Nasser.

Saya ingat dgn penggalan wawancara wartawan Tempo (pasca peristiwa peledakan pesawat terbang Pan Am di Lockbery) dengan khaddafi. Ketika berhasil menurunkan Raja Idris, bertanyalah Raja Hassan dari Maroko pada khaddafi, “Apakah kamu anak sosialis partai beath?”, kata khaddafi; “tidak!, saya adalah anak revolusi Nasser”.

Khaddafi mungkin bukan pribadi yg kompleks seumapama Nasser. Kontradiktif memang, boleh dibilang begitu. Khaddafi merupakan pribadi yang puritan dalam dunia yg kompleks. Baginya, selain Islam tidak ada alternative lain. Dan ini, ia tuangkan dalam buku ideologisnya yg terkenal, buku hijau, sebuah buku “mirip” Das Kapital bagi kaum Marxis.

Baginya memilih diantara dua kutub ideologi besar; Amerika serikat atau Uni soviet (Rusia) bukan sebuah pilihan yang cerdas. Sebab satunya “Imperialis, satunya lagi Atheis”. Sebuah ungkapan yang terkenal, seperti Tidak barat, tidak timurnya Ayahtullah Khomeini, Kala ia menggugat Nasser saat memilih Rusia/Uni soviet sebagai “teman berdayung” menghadapi israel yg tentunya dibawah bayang bayang Amerika serikat, Nasser kelabakan menjelaskan hubungan hubingan politik-Regional yang tidak hitam dan tidak putih pada Khaddafi.

Puritanisme Khaddafi ini merupakan refleksi dari kesederhanaannya dlm ketenaran. Ia mencintai dunia ini, karena satu Faktor : kedisiplinan. Tapi nalurinya tetap kebebasan ala badui padang pasir. Tidaklah mengherankan bila ia responsif dan spontan. Ia pernah marah besar pada Raja Yordania-Hussien, yang mengobrak abrik kelompok fedayyin: “Raja sinting itu harus diborgol dan dibuang ke luar arab”.

Dengan santainya khaddafi juga memanggil raja raja Arab dengan sebutan saudara. Tentu raja raja konservatif ini tersinggung luar biasa. Khaddafi tidak perduli, apakah ucapannya itu berpotensi menjadi batu penghalang mewujudkan mimpinya akan “persatuan arab”. Dan memang, ide besar yang ia rujuk pada Pan Arabisme Nasser ini, tidak pernah didukung negara-negara Arab yg mayoritas kerajaan itu.

Jauh sebelum khaddafi menjatuhkan Raja Idris di Libya, ia menyaksikan betapa rapuhnya persatuan Arab. Ia miris menyaksikan kehancuran dunia arab, baik dalam perang suez 1955, maupun perang juni 1967 (Yom kippur).

“Semua ini karena persatuan Arab yang bercerai berai”, pekiknya.

Tidaklah mengherankan, tidak sampai hitungan minggu ia berhasil merebut Libya, khaddafi menyampaikkan pesan pada Nasser, Mentornya.
“Beritahukan Nasser, Revolusi ini digerakkan untuknya, karena itu ia boleh ambil apa saja milik kami. Libya punya beratus pantai tengah, punya segalannya. Semuanya itu bisa di pakainya dalam bertempur mewujudkan persatuan arab”, ujarnya.

Gagasan ini tidak ditanggapi Nasser secara serius. Ketika Nasser meninggal dan digantikan Anwar Saddad, Khaddafi juga mengajak suami Jehan Saddat untuk penyatuan arab. Bermula dari penyatuan Libya dan Mesir. Bersama ibu, anak dan istrinya menggerakkan 40.000 rakyat Libya Long Marc dari libya ke Kairo, sebuah perjalanan yang teramat panjang. Qaddafi ingin menunjukkan kesungguhan yang responsive dan spontan.

Anwar Saddat tergugah, pembicaraan kedua negara ini dimulai. Libya akan dijadikan salah satu Provinsi di Mesir. Lalu khaddafi?, siap melaksanakan jabatannya. Tapi ambisi penyatuan dua negara ini tak bertahan lama. Anwar Saddat dan Khaddafi pecah kongsi dan berselisih paham. Bagi Saddat, Khaddafi tidak matang dan tidak memiliki keseimbangan. Ia terlampau spontan dan tidak stabil, menggelora tanpa perhitungan. Sebaliknya, khaddafi menilai Saddat kurang Revolusioner.

Gagal dengan Nasser dan Anwar Saddat, tidak menyurutkan Khaddafi untuk mewujudkan keinginan dan mimpinnya tentang penyatuan arab. Pada awal Tahun 1980-an, ia pernah mengajak negara Aljzair dan Syiria serta maroko bersatu. Tapi karena ia adalah gabungan “militer yg disiplin dan naluri badui”, membuat negara-negara yg diajaknya ini tidak berkenan.

Tapi mimpinya ini setidaknya memberikan catatan bagi sejarah, bahwa solusi terbaik bagi negara-negara ditimur tengah adalah dua, “penyatuan arab” dan selalu mengingat kata-katannya bahwa Amerika serikat dan rusia sama saja.

“Sepertinya khaddafi benar”.