Opini: Paradoks antara Curah Hujan dan Tanggung jawab Manusia

244

Oleh: Rais Syukur Timung, S. IP
Aktivis Literasi

Curah Hujan Tinggi = Tak ada Kuasa Manusia.
Dampak Curah Hujan = Tanggung jawab Manusia (Paradoks).

Akal harus mengurai, Mengapa Curah Hujan bisa tinggi, sampai pada proses terjadinya Hujan?. Sehingga proposisi “Tak ada Kuasa Manusia” bukan pelarian/pengkambing hitaman terhadap Keadaan, Alam bahkan Tuhan (Musibah). Lalu, “dampak curah hujan yang tinggi”, segelintir orang saja merasa paling bertanggung jawab atas itu, padahal hal ini merupakan rentetan mata rantai kealpaan semua Manusia.

#Diskursus Ilmiah
Proses terjadinya Hujan karena Penguapan energi panas yg dimiliki matahari : membuat air laut, sungai, danau dan semua sumber air dipermukaan bumi lainnya mengalami penguapan.
Penguapan merupakan proses terjadinya air yg berwujud cair ke Gas sehingga air berubah menjadi uap2 air dan memungkinkannya untuk naik ke atmosfer Bumi.

Advertise

Baca Juga

Semakin tinggi panas Matahari maka jumlah air yg menjadi uap2 air yg naik ke permukaan atmosfer bumi semakin besar.

Uap2 air yang naik pada ketinggian tertentu akan mengalami proses pengembunan, karena uap2 air berubah menjadi partikel2 es berukuran sangat kecil.
Perubahan wujud uap air menjadi es tersebut karena pengaruh suhu udara rendah dititik ketinggian. Partikel2 es yg terbentuk akan saling mendekati dan bersatu sama lain sehingga membentuk awan.

Semakin banyak partikel yg bergabung, awan yg terbentuk akan semakin tebal dan hitam.

Sedangkan Hujan terjadi karena Proses mencairnya awan akibat suhu udara yang tinggi. Awan yg terbentuk kemudian mengalami perpindahan dari satu titik ke titik yg lainnya dlm satu garis Horizontal akibat arus angin dan perbedaan tekanan udara. Semakin besar ukurannya karena menyatu dgn awan lainnya.

Butiran2 Es yg ada pada Awan akan tertarik oleh gaya Gravitasi bumi hingga jatuh ke permukaan bumi. Ketika jatuh butiran2 Es ini akan melalui lapisan udara yg hangat didalamnya sehingga merubah butiran es menjadi butiran air.
Hangatnya lapisan udara sehingga membuat butiran air tersebut sebahagian menguap keatas dan sebahagian lainnya terus turun ke permukaan bumi (Hujan).

#Pendekatan Teks (Qalamullah).
“Apakah kamu tidak memperhatikan bhwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, lalu menyerapkannya kedalam permukuan air tanah kedalam sumber mata Air dibumi kemudian ditumbuhkannya dengan air itu tanaman-tanaman yg bermacam-macam warnanya lalu ia menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan kemudian dijadikannya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yg demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. (Q.s az-Zumar :21).
Pesan ini, diulang dalam Q.S Ar-Rum : ” dan diantara Tanda-tanda kekuasannya, dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk menimbulkan ketakutan dan harapan, dan menurunkan air hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada demikian itu terdapat tanda2 bagi kaum yang menggu akan Akalnya. (Q.S Ar-Rum: 24).

“Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan diantara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih2, maka kelihatanlah oleh hujan diantara celah-celahnya dan Allah juga menurunkan butiran2 Es dari Langit, kami mengirimkan awan2 sebanyak gunung2, maka ditimpakanNya (butiran-butiran) Es itu kepada siapa yg dikehendakinnya dan dipalingkanNya dari siapa yang dikehendakinnya. Kilauan kilat itu hampir menghilangkan penglihatannya. (Q.s. An-Nur :43).

“Dan kami mengirimkan angin yang menyuburkan/mengisi (lawaqih) dan kami turunkam hujan dari langit, lalu kami memberikan kamu air dengan ukuran tertentu, dan sekali-kali bukanlah kamu yg menyimpannya (Q.s. Al-Hijr:22).

Jadi Al-Qur’an menggambarkan siklus penuh dari air.
Bagaimana Air menguap?.
Membentuk awan bergerak ke daratan, caranya turun hujan dan cara kembalinya ke lautan dalam beberapa Tahap. Dan masih banyak ayatnya lagi.
Secara garis besar dari sekian pola Siklus hujan yg kemudian dirumuskan menjadi sebuaj kajian Ilmu pegetahuan ilmiah.

#Jadi, penyebab Curah Hujan yg tinggi karena Semakin Panasnya Matahari. Dan hal itu tidak bisa dilepaskan begitu saja dari Drama Kuasa Manusia yang melampaui batas2 Keseimbangan Cosmik. Manusialah penyebab tunggal Banjir, Bukan Alam apalagi Tuhan.

Jika hendak diurai lebih radikal lagi maka pertanyaannya ialah Apa sebab semakin Panas Matahari sehingga lapisan udara menjadi Tidak Seimbang (Equilibrium) ?.

Jumlah penduduk bertambah, lahan Hunian semakin banyak dibutuhkan,
Konsekuensinya ialah daerah serapan air berkurang (efek rumah kaca). Pohon ditebang, produksi massal kendaraan tidak tertahan, lapisan Ozon berkurang, temperatur udara tidak seimbang, kemarau semakin panjang (pemanasan Global).

Karena : Membuang sampah/limbah sembarang, tanpa sanksi karena keberpihakan.
Membangun bangunan tanpa analisis lingkungan, dibiarkan atas nama keberpihakan.
Sungai yg dangkal, tidak diperlebar dan diperdalam, atas nama keberpihakan.
Bangunan2 liar diatas bantaran sungai yg membuat kuantitas dan kualitas fungsi sungai berkurang, juga atas naman keberpihakan.
Relokasi yg ditolak dan dipolitisir.

Apa semua itu bukan Kuasa Manusia?. Semua demi mengejar predikat kota Metropolitan bahkan desa hendak dikotakan dengan Program desa membangun.
Semua demi pemodal. Demi Korporasi. Demi kapital. Demi otak serakah dan ambisi manusia.

Padahal, Prasyarat utama moderenitas, tidak terletak pada pembangunan Infrastruktur yang sangat Massif dan lalu mengeksploitasi ekosistem alam semesta.

Lalu, Lsm lingkungan, aktivis Lingkungan, pemuda Mahasiswa, pekik teriakannya berujung kompromi diatas meja kopi.
Diskursus Enviorimental Ethics, terpasung diruang kampus.
kelompok-kelompok agamawan, sibuk urus Muktamar dan Kongres. Agama sekedar Teks yang berakhir dimenara Gading.

Sedangkan Banjir adalah Tontonan awal Tahun yang menggahar Nurani, bukan setahun dua tahun, sudah bertahun-tahun. Bahkan kabarnya telah menjadi Habitus awal Tahun.

Apakah kita benar-benar manusia dgn bekal Akal yg tidak Maksimal (cacat) berfungsi (berpikir).

Sebelum kita benar-benar tenggelam, Masih ada Harapan membenahi Nalar yang Catat, memperbaiki kelonggaran kebijakan dan Menjadi Manusia. Sebab Manusia adalah Pusat Orbit Ekosistem Alam Semesta. Monumen Kebaruan (pergantian Tahun), mestinya menjadi proses perpidahan Kesadaran (Trans Human). Atau dalam Istilah Murtadha Muthahari menapaki Tangga2 Ego menuju Ego Kesemestaan.