Opini : Rakyat Rindu Keadilan di Negeri ini

30

Oleh : Abdullah Apa
Editor : Sya’ban Sartono

Pemerintahan daerah, Bupati dan Wakil, Gubernur dan Wakil maupun Pemerintahan pusat Presiden dan Wakil Presiden adalah produk demokrasi yang diatur berkala lima tahunan, termasuk Kabinet yang dibentuknya. Rakyat bermimpi tidak hanya punya pemerintah (Kabinet) itu ada, Namun jauh dari itu bagimana pemerintahannya bisa membawa perubahan baik pembangunan dan kesejahteraan rakyat yang dipimpin mereka baik dari tingkat daerah sampai pusat.

Rakyat hanya berfikir sederhana, ada pemerintah maka bisa sejahtera, menjamin rasa aman dan adil. Dan kesederhanaan berfikir rakyat menjadi inspirasi dan mainan politik lewat janji-janji manis para jawara politik, begitu terpilih maka rakyat menjadi jualan politik yang menjanjikan untuk menarik investor dan atau hutang. Rakyat sama sekali diberlakukan dengan tidak adil dan keadilan menjadi barang mewah dan mahal untuk di dapat.

Advertise

Baca Juga

Keadilan terlalu mulia untuk menjadi “cek kosong” bagi institusi hukum tertentu. Apalagi jika institusi dan aparatnya dikendalikan oleh semangat hegemoni. Maka jangan salahkan Rakyat jika muncul keadilan perasaan dan kesadaran untuk lebih memilih dan atau menggantikan pemimpin yang baru dan itu sudah lama dirindukan.

Citra, tepuk tangan dan parade pujian kadangkala mengabaikan kewajiban terhadap keadilan oleh pemerintah itu sendiri. Namun sebagai masyarakat kami butuh keadilan di negeri ini, oleh karena itu negeri ini bermimpi dan berkeinginan lahir nya pemimpin -pemimpin muda, lebih enerjik, lebih responsif, lebih memimpin, melayani dan mengayomi rakyatnya.

Nah, salah satu tugas pemerintah baik itu Bupati, Gubernur dan Presiden yang baru kedepan nantinya nanti adalah harus mengembalikan makna keadilan di tempat yang adil, kerena keadilan sangat mahal dan langka di rezim saat ini. Keadilan tidak boleh lagi dikuasai secara hegemonik oleh institusi/orang tertentu, Itu berbahaya.

Keadilan seharusnya dikembalikan pada alamat asalnya yakni arena yang bebas, merdeka dan demokratis. Yang lebih penting, tidak tergoda menyalahgunakan tangan kuasanya untuk memukul orang tak berdosa. Baik dengan cara terbuka bergaya “Ini dadaku!” ataupun dengan metode “pukul pinjam tangan”.

Kalau itu persoalan politik, lihatlah secara politik. Tandinglah secara ksatria di lapangan politik. Tidak elok “pinjam tangan” aparat hukum dan keamanan untuk menghukum dan atau membungkam rakyat karena kritis. Mereka petugas negara, bukan petugas rezim kekuasaan. Justru pemimpin sejati adalah aparat keadilan. Itu mandat utamanya.

Harapan saya semoga para calon-calon Bupati, Gubernur dan Presiden yang baru kedepannya tidak perlu harus menjadi Ratu Adil. Cukup menempatkan keadilan pada martabat yang sebenarnya. Negeri kita ini butuh pemimpin muda, respek dan sensetif terhadap persolan rakyat apa lagi masalah keadilan karena rakyat benar-benar rindu keadilan. Rakyat berharap, Rakyat punya mimpi.

Semoga Allah memberkati Negeri kita Indonesia kedepannya.