Opini : Ujian dan Fitnah, sebuah kepantasan?

110

Oleh : Abdullah Sartono
Editor : Sya’ban Sartono

Hidup dan segala panaromannya adalah sekolah, ia adalah madrasah. Butuh tempaan dan tentu yang pasti ia Tarbiyah Madal Hayah, (Pendidikan sepanjang masa). Nilai raport nantinya ditentukan oleh kwalitas ketabahan, taqwa ikhlas, iman dan tsabatnya.

Semua tempaan dalam hidup memiliki nilai tarbiyah dan pasti punya makna dan nilai tinggi bagi mereka yang dapat memetik hikmah dan kemuliaan yang akan didapatkannya di hari berikutnya

Advertise

Baca Juga

Memahami ujian kehidupan sebagai sunnatullah dan bersikap dewasa dalam menghadapinya tidak mudah untuk manusia biasa, butuh manusia yang punya basis nilai yang kita sebutkan di awal.

Mereka yang tercerahkan mestinya tetap ikhlas menerima qodar-Nya, dan mereka yakin Allah pasti memberikan kekuatan dan pahala tanpa batas. Sebagaimana janji-Nya bahwa “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. Qs. Az-zumar : 10

Fitnah dan ujian hidup, bencana atau musibah juga segala model penyakit dan kesulitan hidup, apalagi kehilangan mereka yang paling di cintai dalam perjalanan hidup ini merupakan bagian dari skenario-Nya agar kita bisa naik ke kelas berikutnya dan kelak memantaskankan nilai kita di hadapanNya. Kata nabi

“Tidaklah segala sesuatu yang menimpa orang beriman dari kesusahan, sakit, kegundahan, kesedihan dan gangguan, hingga duri yang menusuknya, kecuali Allah menggugurkan kekhilafannya”

So, sejarah telah membuktikan betapa manusia tidak pernah terlepas dari ujian dalam kehidupannya, para Nabi yang merupakan orang paling dekat dan dicintai-Nyapun juga mengalami ujian ujian berat.

Nabi Ibrahim, Ismail, Yusuf, Zakaria, Yahya As., semuanya tak luput dari ujian, demikian pula Nabi Ayyub As., yang berpenyakit akut, sehingga dijauhi semua kerabat kecuali istri tercintanya.

Ibnu Katsir dalam Tafsirnya berkomentar tentang sakit yang di alami Nabi Ayyub;

”… Hingga tidak ada satu senti pun dari tubuhnya yang selamat dari penyakit tersebut kecuali hatinya, dan tidak ada sedikit pun harta yang bisa dia gunakan untuk mengobati penyakitnya kecuali seorang istri yang setia menemaninya…”

Kualitas kehidupan kita kadang diuji dengan berbagai cara, point masalahnya adalah bukan bagaimana cara yang digunakan untuk menguji kita, melainkan bagaimana respons kita terhadap ujian

Kembali ke judul, pertanyaannya kemudian, apakah ujian dan fitnah dalam kehidupan adalah sebuah kepantasan???,

“Ya…. Ia pantas dan harus di berikan pada semua kita untuk menaikkan level kita, menguatkan visi dan memantaskankan diri kelak di hadapan-Nya dengan membawa segala macam keluhan dan curhatan perjuangan”.

Abdullah Sartono adalah Pengelola Pesantren Tahfidzul Qur’an (PTQ) Shohwatul Islam – Sulawesi Barat.