Pemimpin dan Kepemimpinan dalam Perspektif Agama

7

Dalam agama dan ideologi manapun sejatinya menginginkan atau mengkonsepkan Sebuah bangunan Kepemimpinan. Konsep ini menjadi satu dari benerapa pilar utama dalam Pembangunan sebuah tatanan bangsa dan negara. Hingga dalam masalah ini tidak luput agama memberi kontribusi cukup besar.

Semua agama ideologi dan paham yang kita jumpai di dunia ini menganut konsep kepemimpinan, dan hampir seluruhnya menempatkan Kepimpinan sebagai nomor satu dalam garis koordinasinya.

Dalam pandangan Islam Kepemimpinan dikenal dengan Imamah, sedangkan pemimpin adalah Imam, dan yang dipimpin adalah Ummah/Ummat. Kedudukannya sangat penting, maka dalam hukum Islam disebut fardhu Kifayah yang artinya semua Ummat akan berdosa apabila tidak ada seorangpun yang dinobatkan sebagai Pemimpin.

Advertise

Baca Juga

Dalam Theologi Kristen juga tidak kalah pentingnya masalah kepemimpinan. Bahkan telah diatur secara rapih dalam hukum hukum Alkitabiah sampai pada kriteria kriterianya. Pemimpin Kristen harus memahami dasar kepemimpinan bahwasanya ia terpanggil sebagai Pelayan-hamba (Markus 10:42-45). Sebagai pelayan Pemimpin terpanggil kepada tugas, yang olehnya ia menjadi pemimpin. Sebagai hamba ia terpanggil dengan status menghamba kepada Tuhan, yang harus diwujudkan dalam sifat, sikap, kata dan perbuatan.

Hindu dalam pandangannya terhadap Pemimpin sangatlah penting, karena seorang pemompin mempunyai peranan yang sangat berarti baik untuk meli dungi maupun mengarahkan masyarakat yang dipimpinnya agar mempunyai tujuan yang jelas dan terhindar dari rasa takut semua itu dijelaskan dalam Sloka berikut;
“Arajake hi loké smin sarwato widrutebhayat, raksarthamasya Sarwasya rajanamasrjat prabhun”
(Manawa Dharmaçhastra, VII.3)
Artinya: Karena kalau orang orang ini ta pa Raja akan terusir, tersebar ke seluruh penjuru oleh rasa takut. Tuhan telah menciptakan Raja untuk melindungi seluruh ciptaan-Nya. Berdasarkan Sloka diatas dapat dipahami bahwa negara pemerintah (Pemimpin) memiliki Peran penting terhadap Masyarakat yang dipimpinnya.

Pada kehidupan Buddha Kepemimpinan juga merupakan suatu penekanan yang juga cukup luar biasa agar rakyat atau yang dipimpin merasakan kehidupan yang lebih baik. Hal ini telah dicontohkan oleh Raja Asokha pada abad ke 3 SM. Dan dinobatkan sebagai Raja yang baik karena keteladanannya ya g sungguh luar biasa. Keteladanan itu tercermin dalam Sri Dhammananda 2002: 294-295.

Kita sepakat bahwa seluruh agama, sama dalam pandangannya mengenai Pemimpin dan Kepemimpinan. Bahwasanya Pemimpin adalah Pengayom, sehingga ada pemimpin yang cenderung apatis dan otoriter, maka kita juga sepakat bahwa itu merupakan Tirani yang jauh sebelumnya tercatat dalam lembaran Sejarah sebagai pemimpin dengan rekam jejak terburuk.

Di satu sisi kita juga meyakini bahwa Pemimpin adalah cerminan atau menifestasi dari rakyat. Ada sebuah peribahasa yang populer dalam dunia Islam ” Kaifa Maa Takuunu, Yuwalla ‘alaikum”
Kurang lebih artinya “Bagaimana keadaan Kalian, maka akan diberikan pemimpin juga seperti itu”.
Bagaimana tidak, tak jarang rakyat memilih seorang pemimpin marena ada tendensi tertentu, ada kesamaan azas, ideologi maupun yang lainnya, ataukah merasa berhutang karena isi amplop atau entah karena jasa atau yabg lainnya.

Beberapa bulan mendatang, kita dihadapkan dengan beberapa persoalan dan pilihan. Pesta Demokrasi semakin dekat. Setiap orang punya Kemerdekaan dalm menentukan pilihannya. Rival politik diharuskan memiliki cara dan strategi untuk mengalahkan teman politiknya.

Jika lemimpin adalah Pengayom dan Pelayan, maka tak pantas untuk berlaku Dzalim. Dan jika Pemimpin adalah manifestasi Karakteristik Rakyat, maka tidak salah jika yang Pemimpin merupakan gambaran Umum semua watak Rakyatnya.

Sya’ban Sartono Leky
Mahasiswa Semester Akhir Ilmu Hukum Universitas Muslim Indonesia.

  • EPEMIMPINAN dalam Islam dikenal dengan istilah imamah, sedangkan pemimpin disebut imam. Kedudukan seorang pemimpin dalam Islam sangatlah penting. Bahkan keberadaannya fardhu kifayah, di mana setiap manusia akan berdosa apabila tidak adanya seorang pemimpin pun dan pembebanan hukum tersebut terbebas manakala salah seorang dari umat telah terpilih menjadi pemeberadaan seorang pemimpin yang diakui oleh syariat menunjukkan seorang pemimpin itu harus mengerti akan agamanya. Ilmu yang membahas tentang pemerintahan dalam Islam dikenal dengan FiSaidina Ali pernah berkata, “Lebih baik dipimpin oleh orang yang zalim daripada negara tidak ada pemimpin.” Ini menunjukkan bahwa keberadaan pemimpin dalam negara itu mutlak diperlukan. Dalam sebuah pengajian bersama Tgk Marhaban Habibi Bakongan (Waled Bakongan), beliau menjelaskan bahwa memilih pemimpin hukumnya wajib dan setiap insan akan berdosa jika tidak ada pemimpin walaupun cuma sehari. Melihat kenyataan yang seperti ini tentulah tidak ada alasan bagi kita untuk menolak