Pentingnya Membangun Komunikasi terhadap Anak

93

Oleh : Yulaika Ranu Sastra, S.S., M.Pd.
Editor : Sya’ban Sartono, S.H.

Selama masa pandemi CoViD-19, pemerintah melalui kemendikbud memberlakukan kebijakan bekerja dan belajar dari rumah. Mulai kalangan Sekolah Dasar hingga perguruan tinggi pun belajar dan mengerjakan tugas di rumah untuk memutus rantai penyebaran virus berbahaya itu.

Namun, para orang tua banyak yang merasa kewalahan mengajari anak-anak mereka sebab kurangnya waktu, bahkan minimnya pengetahuan. Hal ini menyebabkan proses belajar di rumah terhambat atau kurang menyenangkan. Timbullah rasa malas dan jenuh terhadap situasi seperti ini. Tentu tidaklah boleh dibiarkan agar anak-anak tidak tertinggal.

Advertise

Baca Juga

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menjalin hubungan yang nyaman antara orang tua dengan anak ialah penggunaan komunikasi yang baik. Hal ini bertujuan agar terciptanya pembelajaran yang efektif dan efisien. Komunikasi merupakan pembicaraan yang melibatkan dua orang atau beberapa orang dalam kegiatan berbicara. Dalam hal ini elemen yang terlibat yakni orang tua dan anak.

Komunikasi yang baik akan melahirkan sikap yang baik pula dari penuturnya. Namun, di dalam berkomunikasi juga harus memerhatikan etika. Seseorang yang menyampaikan pesan, harus dapat membawakan diri melalui mimik wajah, gerak tubuh, dan intonasi kepada lawan bicaranya. Sebagai contoh, seorang anak akan berbicara dengan orang tuanya, anak tersebut haruslah menggunkan intonasi yang lebih rendah.

Hal ini menunjukkan adanya kesusilaan. Lalu, orang tua pun dengan senang hati memberi respons terhadap si anak. Jika menekankan etika dalam berkomunikasi, kemungkinan terjadinya hal-hal yang mengarah kepada tindakan kriminal atau kesalahpahaman akan kecil terjadi. Rasa sakit hati pun dapat diminimalisasi ketika terjadi kesalahpahaman. Begitu pula denga orang tua, meskipun menyuruh atau mengajak anak untuk belajar, janganlah menggunakan intonasi yang keras dan tempo yang cepat, melainkan gunakanlah bahasa yang santun dan lembut.

Lebih lanjut Helmawati (2017) mengemukakan bahwa untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan pada saat berkomunikasi dengan anak, terutama ketika menggunakan bahasa verbal (kata-kata), ada beberapa hal yang secara prinsip perlu diterapkan akan menghasilkan komunikasi yang efektif. Prinsip-prinsip komunikasi efektif tersebut di antaranya (1) fasih, (2) ringkas, (3) mudah dipahami, (4) jujur, (5) dan menarik.

Ketika berlangsungnya proses belajar di rumah, para orang tua hendaklah menyampaikan ujaran berdasarkan prinsip-prinsip komunikasi di atas sehingga anak-anak tidak melakukan penolakan. Orang tua tidak boleh berbahasa dan bersikap kasar, apalagi sampai memaki atau memukul agar anak-anak mau belajar. Perbuatan seperti itu dikhawatirkan akan mengganggu kondisi psikologis anak.

Akibatnya, mereka ketakutan dan tidak nyaman untuk belajar. Selain itu, para orang tua yang sibuk bekerja, meskipun terburu-buru, jangan sampai menyampaikan informasi yang salah dan menggunakan intonasi yang meninggi sebagai petanda tidak suka. Anak di rumah akan takut hingga malas berbicara jika hal ini dibiasakan.

#Menciptakan Pendekatan Psikologis terhadap Anak.

Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa orang tua merupakan madrasah pertama di rumah. Itulah sebabnya, orang tua harus memberikan pengajaran yang baik kepada anak-anak mereka. Rumah menjadi sekolah nonformal, sedangkan sekolah menjadi tempat menimba ilmu secara formal. Helmawati (2017) memaparkan bahwa figur orang tua menjadi model yang ideal bagi anak sejak usia dini. Apakah itu perilaku yang baik atau buruk; anak akan melihat dan kemudian mencontohnya.

Dalam berkomunikasi dan berperilaku, dalam hal ini, orang tua memiliki peran utama terhadap tumbuh-kembang kematangan emosional anak secara psikologis. Orang tua bisa memulai atau menstimulasi anak-anak agar mau belajar dengan sentuhan fisik, misalnya menarik tangannya dengan lembut, mengelus kepala atau menciumnya (berlaku bagi yang masih usia sekolah dasar atau masih anak-anak).

Di samping cara itu, orang tua dapat melakukan sentuhan emosional lewat komunikasi yang halus sehingga anak menjadi nyaman. Komunikasi di sini berfungsi membantu seseorang memecahkan masalah.

Komunikasi dihubungkan bukan hanya dengan kesehatan psikis, melainkan juga kesehatan fisik (Mulyana, 2016). Hal ini karena ucapan lembut seseorang, apalagi orang tua dan guru memiliki kekuatan yang mampu memberikan efek damai dalam diri anak. Mereka tidak mau mendengarkan orang lain yang bukan orang tua atau guru sebab merasa tidak memiliki hak apa-apa, tetapi ketika dinasihati oleh orang tua atau guru, mereka dengan patuh melaksanakannya.

Pada saat membimbing anak hendaknya pendidik tidak selalu mengarahkan secara dogmatik, tetapi juga mengarahkan melalui nalar manusia. Penggunaan akal dan pikiran akan lebih membantu anak sehingga akan timbul kesadaran yang lebih diyakininya. Oleh karena itu, tidak boleh orang tua yang kedua-duanya bekerja (terutama ibu).

Kalaupun ibu harus bekerja karena untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga atau satu dan lain hal, tetap harus mampu membagi waktu untuk membimbing anaknya (Helmawati, 2017).

Cara lain melakukan pendekatan psikologis terhadap anak ialah menanyakan masalah atau kendala apa saja yang dihadapi, kemudian mencari jalan keluarnya. Bandingkan antara sebuah keluarga yang komunikasinya baik dengan yang tidak, tentu akan terlihat lebih akrab dan nyaman sebuah keluarga yang komunikasinya baik.

Selain itu, sesibuk apa pun orang tua, meluangkan waktu untuk mendengarkan keluhan anak atas masalah atau hambatan ketika belajar di rumah amatlah penting, misalnya anak membutuhkan fasilitas seperti gawai dan kalkulator. Orang tua hendaklah terlebih dahulu menanyakan kebijakan apa yang dilakukan oleh sekolah kepada guru sehingga mengetahui apa yang harus dilakukan atau disediakan agar anak tetap bisa belajar.

Tugas orang tua pun bukan hanya membesarkan dan memberikan biaya pendidikan lengkap dengan fasilitasnya, melainkan juga konselor atau psikolog seperti guru yang harus mampu memahami karakter, masalah, dan apa keinginan anak selama itu baik.

Orang tua tidak boleh acuh tak acuh terhadap anak sesibuk apa pun. Peran guru dan orang tua dalam mendidik siswa (anak) sama-sama diperlukan sebab keduanya merupakan motor penggerak generasi. Jika salah satu ada yang tidak sejalan, banyak kasus kekerasan, penyimpangan, bahkan mengarah pada tindakan kriminal akan terus terjadi dan mengotori dunia pendidikan di Indonesia.

Sebaliknya, jika keduanya bisa sinkron mengajari dan memperhatikan anak, nicscaya anak-anak akan tetap semangat belajar. Dengan demikian, selama masa social distancing dan Work From Home (WFH) ini, proses belajar di rumah tetap berjalan dengan baik. Semoga pandemi covid-19 juga segera lenyap.

(Penulis adalah pemerhati dunia pendidikan dan tenaga pendidik yang aktif di dunia literasi, menetap di Sumatera Utara)