Perihal Pembakaran Bendera Tauhid, Ini Nasehat Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga

15


Oleh Derhana Bulan Dalimunthe Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

 Konsentrasi Hermeneutika Al-Qur’an


Tepat tanggal 22 oktober 2018 Indonesia mendapati hari besar yaitu hari santri nasional.  Hari santri adalah hari yang di tunggu-tunggu oleh para pejuang di pondok pesantren. Dimana hari itu adalah bentuk cinta terhadap bangsa dan negara. 

Hari itu resolusi jihad dikeluarkan oleh Hadratus Syaikh KH. Hasyim As’ary, dan tidak bisa dipungkiri bahwa santri adalah salah satu kekuatan negeri ini dalam menjaga NKRI bahkan sampai hari ini. Seperti biasanya hari bahagia ini disambut dan dirayakan dengan berbagai kegiatan. Mulai dari sholawatan, lomba-lomba ceramah, karnaval dan berbagai ekspresi lainnya dalam memeriahkan hari perjuangan itu. 
Berbeda halnya di tahun 2018 ini, Indonesia dikejutkan dengan pembakaran bendera yang bertuliskan kalimat Tauhid yang dilakukan oleh oknum Banser. Sosial media mulai ribut, mulai dari IG, FB, Twiter, bahkan grup-grup WA. Berbagai pendapat diperdengarkan, ada dalam bentuk marah, lemah lembut, dan ada juga yang sampai mengkafirkan satu dengan yang lain. Hal ini tentu saja wajar melihat mayoritas Indonesia adalah Muslim, kemudian melihat pembakaran tersebut dilakukan oleh organisasi besar di Indonesia. 
Pertanyaan mulai bermunculan di story-story WA tentang mengapa mereka melakukan itu. Memang sangat kita sayangkan kejadian ini. Penulis sendiri tidak yakin bahwa semua santri setuju atas pembakaran bendera ini. terlepas  daripada perdebatan ini bendera Rasulullah atau tidak?  Namun, Islam mengajarkan untuk menjujung tinggi akhlaq. 
Rasulullah diutus ke bumi untuk memperbaiki akhlaq manusia. Bahkan dikatakan akhlaq masih berada diatas ilmu. Penulis akan melihat kejadian ini dari kacamata akhlaq yang diajarkan Rasulullah. Akhlak tidak hanya di tuntut kepada makhluk hidup melainkan kepada semua benda-benda yang berada disekitar kita. Saling menghormati dan saling menjaga keharmonisan sesama. 
Sebuah riwayat menceritakan bagaimana Mush’ab bin Umair yang gugur dalam perang Uhud dan tetap mempertahankan bendera yang ia pegang. Ketika musuh bernama Ibnu Qumaiah menunggang kuda dan menebas tangan kanan beliau hingga putus. Beliau lalu memindahkan bendera tersebut ke tangan kiriya hingga tangan kirinya juga putus ditebas oleh penunggang kuda itu. lalu beliau melindungi bendera tersebut ke bawah dadanya. Dan untuk yang ketiga kalinya Ibnu Qumaiah menusuknya dengan tombak hingga gugurlah beliau sebagai mahkota para Syuhada. 
Dari kisah ini terlihat dengan jelas bagaimana bendera tersebut begitu digenggam dan dijaga bahkan sampai akhir hayatnya. Sebenarnya santri memahami ini dengan baik, tapi apakah tidak mungkin santri tidak pernah berbuat salah dan lupa, penulis rasa kita manusia yang jauh dari kesempurnaan itu. Terlepas dari itu bendera Rasulullah atau HTI, namun di dalamnya terdapat kalimat suci yang harus dijaga dan dimuliakan. 
Dalam menyikapi suatu permasalahan sering sekali manusia hilang control sehingga hilangnya akhlaq sesama manusia. Bukankah setiap permasalahan punya solusi? Bukankah al-Qur’an mengajarakan cara-cara yang damai dalam menyikapi suatu permasalahan, hingga terhindarnya saling pengkafiran atau bahkan mengeluarkan kata-kata kotor. Ibarat kita sedang menyapu lantai yang kotor dengan sapu yang kotor, dan dapat dipastikan akhirnya kotor semua. Kali ini memang berbicara tentang kalimat yang suci. 
Tapi bukankah Nabi tidak pernah mengajarkan hal-hal yang tidak terpuji. Penulis rasa di sini terdapat beberapa hal yang harus digaris bawahi; Pertama, akhlaq lebih utama daripada ilmu. Kedua, akhlaq tidak hanya terhadap makhluq bahkan benda-benda yang berada disekitar.  Wallahu a’lam