Prostitusi lahan basah Bisnis, peran Pemerintah dipertanyakan

248

Oleh: Kiki Zaskia, S. Pd.
(Pemerhati Sosial)

bidiknews.id – Bisnis lendir selalu menjadi pembahasan yang tentu sangat menyesakkan dada. Seolah formulasi untuk memutus mata rantai bisnis ini nyaris tak ditemukan. Di sisi lain, memandang prostitusi bukanlah semata tentang orang-orang yang tuna susila. Kini, prostitusi tengah dan akan berkembang menjadi sebuah jaringan bisnis perdagangan tubuh dengan perkembangan teknologi yang semakin mutakhir. Tanpa lapak, bukan berarti aktivitas bisnis lendir tak ada seperti maraknya prostitusi online.

Disisi lain, upaya lokalisasi prostitusi yang digadang-gadang sebagai bentuk pengontrolan pengguna jasa bisnis lendir sia-sia dan sekadar dalih. Dalam kenyataannya, penyakit HIV/AIDS masih saja mengancam masyarakat. Prostitusi tengah menjadi bisnis eksploitasi tubuh yang sistemik baik secara offline maupun online yang memerlukan upaya-upaya yang sepadan apabila serius untuk dientaskan.

Advertise

Baca Juga

Beberapa kebijakan yang dianggap mampu mengatasi prostitusi bahkan sampai pada penutupan lokalisasi dari pemerintah setempat, hingga dari berbagai LSM. Misalnya, Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) Seks dengan berbagai media dalam agenda penanggulangan HIV/AIDS. KIE Seks dengan jargon ABC Stop, dimana A: Anda tidak melakukan Seks, B: Bersikap saling setia dengan pasangan, C: Cegah dengan kondom, dan Stop yang berarti tak menggunakan napza dan suntik.

Di Kota Kendari lokasi eksekusi bisnis prostitusi ini tak terpusat di satu titik saja, melainkan tersebar di berbagai titik kawasan Kebi seperti taman dan juga kafe-kafe yang berjejer rapih sepanjang garis pantai Kebi. Dari pernyataan PSK yang ditelusuri salah satu wartawan lokal bahwa tarifnya bervariasi, mulai dari Rp5 ratus ribu sampai dengan Rp1 juta.

Merespon hal tersebut, Aliansi Perempuan (Alpen) Sultra melakukan sosialisasi dan pendampingan tentang kesehatan reproduksi di tempat-tempat hiburan. Kegiatan yang dilakukan oleh Alpen Sultra ini, yakni memberikan edukasi mengenai penyuluhan kesehatan reproduksi yang aman atau KIE Seks.

Prostitusi: Kekerasan dalam dunia Sekularisme

Keberadaan aktivitas prostitusi ialah buah endapan kekerasan dalam dunia sekularisme. Pemisahan agama dari kehidupan serta pengaturan sosial, ekonomi, politik hingga pendidikan yang gagal adalah kalkulasi yang membuat individu yang lemah akalnya memilih jalan kelam menjadi WTS atau PSK. Di sisi lain, sebab gaya hidup hedonis tak jarang demi kepuasan materi dan popularitas. Jalan kelam ini juga dijalani oleh kaum-kaum yang berkecukupan.

Sudah tak asing lagi publik figur yang juga terjerembab dalam bisnis lendir.
KIE Seks hingga penutupan lokalisasi masih perlu dicermati. Butuh formulasi untuk memberikan penyadaran pada ekosistem bisnis lendir hingga steril. Edukasi dan penutupan lokalisasi dibersamai dengan upaya pemerintah memberikan lapangan pekerjaan yang layak atau beralih profesi.

Apabila hanya sekadar menutup lokalisasi namun tak memberikan pengontrolan hingga jaminan kemandirian ekonomi maka bukan hal tidak mungkin lokasi baru bisa dibuka kembali.

Selain itu, diperlukan pula upaya-upaya teknokratis pengamat masalah sosial yang mutakhir, mengingat perkembangan dunia siber yang mampu memberikan peluang lebih efisien bisnis lendir; prostitusi online.
Syariat Islam Memelihara Jiwa.
Prostitusi adalah bentuk masalah cabang atau masalah derivat dari penerapan sekularisme. Mengatasi akar-akarnya adalah hal utama yang perlu dimaksimalkan.

Membasmi sekularisme adalah agenda utama untuk mengatasi masalah sosial, salah satunya prostitusi. Agenda ini tentunya memerlukan sinergitas baik skala mikro hingga makro.

Pertama, bangkitnya pemikiran individu dengan akidah Islam sebab hanyalah Islam yang sesuai dengan fitrah manusia serta memuaskan akalnya.
Kedua, adanya sikap konsisten yang berasal dari komunitas masyarakat yang menjadikan ajaran Islam sebagai perasaan, pemikiran dan peraturan dalam amal-amal kehidupan yang mampu beramar ma’ruf nahi munkar.
Ketiga, hadirnya negara yang utuh sebagai perisai melindungi rakyatnya bukan sekadar regulator.

Syariat Islam menjaga kemuliaan setiap jiwa. Laki-laki dan perempuan wajib menuntut ilmu agar akalnya tak lemah pada realitas. Pendistribusian ekonomi yang adil juga turut menjamin kehidupan. Di sisi lain, sistem pergaulan yang sesuai dengan fitrah manusia, menjadikan insan menjadi tenang. Islam Rahmatan Lil’ Alamin, maka suatu kerugian besar apabila ragu menjadikannya sebagai solusi-solutif atas segala problematika kehidupan.

Wallahu ‘alam bisshawabs