Refleksi Milad HMI ke 75 Sebagai Ana Pana Peradaban

107
Foto: Alhadi Ulumando

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai anak kandung revolusi sekaligus organisasi terbesar yang ada di Indonesia dan juga organisasi mahasiswa tertua yang berdiri sejak 05 februari 1947 yang masih bertahan sampai dengan hari ini seharusnya mengarahkan pada proses tranformasi paradigma yang ideal, dimana HMI harus senantiasa bergerak maju dengan gagasan-gagasan pembaharu yang bermuara pada sikap dan tindakan kader ketika menghadapi problem keumatan dan kebangsaan sesuai dengan misi HMI itu sendiri.

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai organisasi perjuangan sebaiknya peka dan produktif merespon segala hal. Keberpihakan itu kecenderungan kepada hanif (kebenaran) yang diwujudkan pada konsep tranformasi perubahan sosial kepemimpinan HMI secara simultan dan konsistensi untuk di wujud nyatakan dalam sebuah karya HMI untuk Rakyat Indonesia, maka Solusi Kepimpinan Profetik adalah Ijtihat sekaligus Ikhtiar untuk mengembalikan kembali esensi dan orientasi perjuangan HMI diera Disrupsi 5.0 saat ini, sehingga HMI tak digilas Zaman.

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai organisasi yang beridentitas Islam maka sudah seharusnya menjadikan Islam sebagai nafas perjuangannya. Islam sebagai Agama Rahmatan Lil’ Alamin yang dibawakan oleh sang revolusioner sejati Baginda Rasulullah SAW untuk mengubah moralitas umat manusia dari eksploitasi yang sangat Jahiliyah. Tradisi Islam dibangun secara damai bersama para sahabat-sabahatnya dengan meletakkan prinsip dasar sebagai manusia, bahkan aspek trandental serta sosial budaya, ekonomi, politik bahkan lain sebagainya.

Kepemimpinan Profetik adalah repsentasi kepemimpinan ideal. Ispirasi dari teologis kepemimpinan profetik, menurut Kontowijoyo (2006:87) adalah dari misi Historis Islam yang termaktub dalam Firman Allah SWT berikut: “Engkau adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyeruh kepada makruf dan mencegah dari munkar dan beriman kepada Allah SWT”, ( Q.S Ali Imran (03): 110 ).

Artinya, menurut Kontowijoyo memuat tiga nilai penting yakni; Nilai Humanisme, Liberasi dan Transendensi. Humanisme sebagai padanan Tu’muruna Bil Ma’aruf, Liberasi sebagai padanan Tanhana’an Al-Munkar dan Transedensi sebagai padanan Tu’minuuna Billah. Tujuan dari humanisme adalah tranformasi proses memanusiakan manusia. Keadaan masyarakat yang telah bergeser dari pola hidup petani menjadi masyarakat industri. Tujuan dari liberasi adalah pembebasan manusia dari jeretan-jeretan sosial, pembebasan dari kesamnya kemiskinan struktural, keangkuhan teknologi dan pemerasan kaum pemodal.

Dan kepemimpinan profetik sebagai semangat ingin membebaskan diri dari belenggu yang dibangun sendiri tanpa sadar, maka HMI sebagai salah satu Organisasi yang strategis di bangsa ini harus menginternalisikan spirit kepemimpinan kenabian atau profetik sebagai jalan kearifan serta poros tranformatif HMI untuk merevolusi paradigma kader secara komprehensif dalam proses kaderisasi Himpunan Mahasiswa Islam. Dari sini HMI akan mampu mewujudkan Misi Lima Kaulitas Insan Cita (Insan Akademis, Pencipta, Pengabdi dan Bertanggung Jawab Adil Makmur) untuk mencapai tujuan ber-HMI “Terbinahnya Insan Akademis Pencipta Pengabdi yang bernafaskan Islam dan Bertanggung Jawab atas Terwujudnya masarakat Adil Makmur yang di Ridohi allah SWT”.

Semoga Narasi sederhana ini, bentuk refleksi di momentum Milad HMI Ke-75 Tahun 2022 ini, sekaligus kroyeksi dan proses mentranformasikan nilai Kepemimpinan Profetik di masa depan untuk HMI yang lebih.
YAKIN USAHA SAMPAI
#YAKUSA

Penulis: Alhadi Ulumando
Editor: Redaktur Bidik News