Rubrik Islami: Kesederhanaa Abu Dzar Alghifari

31

Oleh : Abdullah Sartono
Editor : Sya’ban Sartono

Kita belajar dari sahabat Nabi, Abu Dzar Al-Ghifari misalnya, Ia di kenal sebagai Sang pelopor hidup sederhana sekaligus orang yang Istiqomah yang pernah dimiliki oleh umat sejak masa Muhammad dan sahabatnya. Nabi pernah berkata,

“Tak akan pernah lagi dijumpai di bawah langit ini, orang yang lebih benar ucapannya dari Abu dzar.”

Memang ia sangat pantas dijadikan idola dalam pola kesederhanaan. Hidupnya di waqafkan untuk kekayaan peradaban, sekalipun ia harus menderita padahal kesempatan untuk hidup mewah dan bermegah-megahan sangat terbuka baginya.

Advertise

Baca Juga

Abu Dzar ketika masa Khalifah Utsman bin Affan mendatangi pusat kekuasaan dan kekayaan untuk menemui para pembesar dan mengingatkan mereka akan firman Allah (QS- At-Taubah: 34-35), yaitu tentang orang-orang yang menumpuk harta dan tidak membelanjakannya di jalan Allah.

Perjalanan Abu Dzar ini ternyata terdengar oleh masyarakat dan memintanya untuk berpidato. Beliau di mana pun berada, selalu menyampaikan ayat di atas, diantara yang menjadi sasaran nasehat utama beliau adalah kekuasaan dan gudang raksasa kekayaan masyarakat Syiria yang di pimpin Gubernur Mu’awiyah bin Abi Sufyan.

Muawiyah yang mulai merasa gerah dengan pidato Abu Dzar, ia pernah melayangkan surat kepada Utsman Bin Affan yang isinya menyebutkan, Abu dzar telah merusak orang-orang Syiria dan Utsman pun menjawab surat itu dan meminta Abu dzar untuk segera kembali ke Madinah, Abu dzar pun kemudian menemui Utsman bin Affan.

Dengan kelembutannya, Utsman bin Affan memberi tawaran kepada Abu Dzar untuk tinggal di dekat istananya di Madinah. Begini kata Utsman, Wahai Abu Dzar Tinggallah disini, disampingku, disini akan di sediakan Unta bagimu yang gemuk, yang akan mengantarkan susu setiap pagi dan sore.

Apa sikap Abu Dzar? Ia menolak semua fasilitas yang ditawarkan karena ia sadar bahwa semua itu akan membatasi ruang baginya untuk menyampaikan kebenaran dan untuk menjaga Muru’ah (kehormatan dan harga dirinya) . Konon, Abu dzar menolak ketika ditawarkan untuk menjadi Gubernur di Irak lho?.

Selamat tinggal bagi kemewahan dan kesenangan kilah Abu Dzar, setelahnya beliau minta untuk tinggal di Rabadzah konon lampu minyak saja sulit untuk didapatkan. Dan tidak kemudian menjadi penghalang baginya untuk tetap melanjutkan Risalah dan kerja – kerja Kenabian.

Saat sakaratul maut, di beri kuasa oleh-Nya untuk bercakap dan bertanya pada isterinya mengapa kau menangis?. Isterinya menjawab,

“Saya menangis karena sehelai kain kafanpun tidak kamu miliki”.

Dan saat Abdullah bin Mas’ud, salah satu sahabat Rasul menghampiri jasad sahabatnya, ia pun membenarkan perkataan muhammad SAW, tentang kesederhanaan Abu Dzar Algifari yang pernah ia sampaikan dahulu bahwa “Tak akan pernah lagi dijumpai di bawah langit ini, orang yang lebih benar ucapannya dari Abu dzar.”

Kesederhanaan Muhammad Shallallaahu’alaihi Wasallam,
Bagaimana dengan kesederhanaan Rasulullah Muhammad SAW?. Beliau Pemimpin penuh inspirasi, meski beliau dikenal sebagai seorang pedagang yang sukses, namun ia senantiasa hidup dengan sederhana, contoh kesederhanaannya ia rela tidur di atas pelepah kurma hatta badannya memberi bekas atasnya.

Muhammad SAW, hidup sederhana bukan karena beliau miskin, Ia bisa saja hidup dengan mewah kalau mau, karena beliau mampu memberi kambing sebanyak satu bukit kepada seorang pemimpin suku yang masuk Islam, yakni yang mulia Malik bin Auf.

Kesederhanaannya dapat memaksimalkan harta yang beliau miliki untuk kesejahteraan Rakyat yang di pimpin juga untuk kepentingan perjuangan dan untuk menunaikan Risalah yang ada pada pundaknya, tidak cukup goresan untuk kemudian memberikan komentar padanya dan untuk kita belajar dari sikap Qana’ah Rasul yang Mulia ini. Allahuma Sholli ‘Alaa Muhammad.