Rubrik Islami: Memahami Perbedaan Bid’ah di Kalangan para Ulama

28

Oleh: Syarifuddin Liwang, M. Pd. I
Dosen STAI Madani Gowa

Bid’ah harus dipahami berdasarkan ilmu. Menelusuri pemahaman Ulama Mujtahid Mu’tabar. Sebab kalau tidak, akan muncul fitnah dimana mana, akan mudah saling membid’ahkan bahkan saling mengkafirkan. Karenanya, tidak semua ungkapan bid’ah membuat pelakunya menjadi sesat dan masuk neraka. Bisa kita lihat dalam perkataan Imam Ahmad bin Hanbal.
Imam Ahmad bin Hanbal termasuk yang membid’ahkan qunut dalam subuh, namun Beliau memiliki sikap yang menunjukkan ketajaman pandangan, keluasan ilmu, dan kedewasaan bersikap.

Hal ini dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin sebagai berikut:
فقد كان الإمام أحمدُ رحمه الله يرى أنَّ القُنُوتَ في صلاة الفجر بِدْعة، ويقول: إذا كنت خَلْفَ إمام يقنت فتابعه على قُنُوتِهِ، وأمِّنْ على دُعائه، كُلُّ ذلك مِن أجل اتِّحاد الكلمة، واتِّفاق القلوب، وعدم كراهة بعضنا لبعض.
“Adalah Imam Ahmad Rahimahullah berpendapat bahwa qunut dalam shalat fajar (subuh) adalah bid’ah. Dia mengatakan: “Jika aku shalat di belakang imam yang berqunut, maka aku akan mengikuti qunutnya itu, dan aku aminkan doanya, semua ini lantaran demi menyatukan kalimat, melekatkan hati, dan menghilangkan kebencian antara satu dengan yang lainnya.” (Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, Syarhul Mumti’, 4/25. Mawqi’ Ruh Al Islam).

Advertise

Baca Juga

Kalau bid’ah menurut perkataan Al-Imam diatas dan di aminkan oleh Syaikh ‘Utsaimin maknanya adalah menyesatkan dan pelakunya masuk neraka, tentu Imam Ahmad tidak akan menyuruh ummat islam untuk mengangkat tangan berdoa dan mengaminkan di belakang Imam yg sedang membaca qunut. Apapun alasannya!. Jangan sampai kita membid’ahkan suatu hal padahal itu masalah khilafiyah. Sebagai contoh:

1. Azan awal jum’at : syaikh ‘Utsaimin membolehkan tapi syaikh Muqbil membid’ahkan
2. Tarawih 20 rakaat : Jumhur membolehkan tapi syaikh Albani membid’ahkan
3. Bersidekap setelah Ruku’ : Syaikh bin Baz membolehkan tapi Syaikh Al bani membid’ahkan
4. Talqin Mayat setelah meninggal : Syafiiyyah , Hanabilah membolehkan tapi Syaikh Ibn Baz dan Syaikh ‘Utsaimin membid’ahkan
5. Membaca qur’an di atas kuburan, Jumhur membolehkan tapi Syaikh bin Baz, Syaikh ‘Utsaimin membid’ahkan
6. Membaca Al-Qur’an di rumah yg meninggal, Shon’ani dan Syaukani membolehkan tapi Syaikh Bin Baz dan Syaikh ‘Utsaimin membid’ahkan
7. Berdzikir dengan tasbih : Syaikh Al Fauzan dan Syaikh Al Bani membid’ahkan tapi Syaikh Jibrin dan Ibnu ‘Utsaimin membolehkan
8. Membaca do’a khataman Al-Qur’an dalam sholat, Syaikh Al Bani, syaikh Bakr Abu Zaid membid’ahkan tapi Syaikh bin Baz, Jibrin, Al Fauzan, Ibnu ‘Utsaimin membolehkan
9. ‘Asyaul walidain (Do’a selamatan utk orang tua yg meninggal), Syaikh Ibnu ‘Utsaimin membid’ahkan tapi Syaikh Bin Baz, Syaikh Ibnu Jibrin membolehkan
10. Membaca Al-Qur’an untuk membuka acara, Syaikh Bakr Abu Zaid, Syaikh ibnu Utsaimin membid’ahkan tapi syaikh Al Fauzan dan Syaikh Al Bani membolehkan
11. Garis garis untuk meluruskan Shaff : Syaikh Al Bani membid’ahkan tapi Syaikh Bin baz , Syaikh Sholih Al fauzan dan Lajnah Da’imah membolehkan.

Sumber; http://www.scc-kepri.com/
Berdasarkan contoh – contoh di atas seharusnya para Da’i sangat berhati – hati dalam membid’ahkan sesuatu karena boleh jadi ada ulama membid’ahkan suatu hal, tetapi ulama lain membolehkan sehingga masalah tersebut tergolong khilafiah.