SBY Terpukul, Hasil KLB Sumut

665

BIDIKNEWS.id, Jakarta-– Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengaku sangat terpukul terhadap penyelenggaraan Kongres Luar Biasa (KLB) Demokrat di Deli Serdang, Sumatra Utara (Sumut) yang digelar Jumat 5 Maret 2021.

Hasil KLB tersebut adalah terpilihnya Moeldoko sebagai ketua umum Partai Demokrat versi KLB. Hal ini jelas semakin menyakitkan bagi SBY, pasalnya saat SBY menjabat Presiden, Moeldoko dipilih menjadi Panglima TNI pada periode 30 Agustus 2013 hingga 8 Juli 2015.

Menanggapi hasil KLB di Deli Serdang, SBY merilis sebuah pidato lewat akun Youtube miliknya. Dalam pidatonya tersebut, SBY sempat mengutarakan rasa malu dan rasa bersalahnya pernah memberikan jabatan kepada Moeldoko, orang yang saat ini justru mengacak-acak partai politik yang ia bangun dengan banyak pengorbanan.

“Rasa malu dan rasa bersalah saya yang dulu beberapa kali memberikan kepercayaan dan jabatan kepadanya. Saya memohon ampun kehadirat Allah SWT, Tuhan yang maha kuasa atas kesalahan saya itu,” kata SBY.

“KLB Partai Demokrat abal-abal, KLB yang tidak sah dan tidak legal telah digelar di Deli Serdang, Sumatera Utara. KLB tersebut menobatkan KSP Moeldoko, seorang pejabat pemerintahan aktif berada di lingkar dalam lembaga kepresidenan, bukan kader Partai Demokrat alias pihak eksternal partai menjadi ketua umum Partai Demokrat. Mendongkel dan merebutnya dari ketua umum Partai Demokrat yang sah, yang satu tahun yang lalu telah diresmikan oleh negara dan pemerintah,” lanjutnya.

SBY menambahkan bahwa cara perebutan kepemimpinan partai Demokrat juga terkesan jauh dari sikap ksatria dan nilai-nilai moral. Apalagi melibatkan orang dibina dalam kesatuan TNI.

“Sebuah perebutan kepemimpinan yang tidak terpuji, jauh dari sikap ksatria, dan nilai-nilai moral, dan hanya mendatangkan rasa malu bagi perwira dan prajurit yang pernah bertugas di jajaran Tentara Nasional Indonesia,” terang SBY.

Karena itu, SBY pun mengajak segenap kader sah Demokrat untuk sama-sama berjuang demi tegaknya keadilan. Bahkan SBY secara terang-terangan menggunakan narasi ‘Perang’ demi mempertahankan kedaulatan Partai Demokrat.

“Perjuangan untuk mempertahankan kedaulatan dan kemandirian partai adalah perjuangan yang suci dan mulia. Ibarat peperangan, perang yang kita lakukan adalah perang yang dibenarkan. Sebuah perang war of mases setting sebuah just war, perang untuk mendapatkan keadilan. Semoga Allah SWT, Tuhan yang maha kuasa menuntun langkah kita, serta memberikan pertolongan kepada kita semua,” tegasnya.

Laporan: Kuswanto