Stube HEMAT Bersama Para Sahabat di Indonesia Timur (Alor) Menjawab Permasalahan Sosial

112
Salah satu Pengurus Stube HEMAT, Pdt. Em. Bambang Sumbodo, S.Th., M.Min, dan Direktur Eksekutif Stube HEMAT, Ariani Narwastujati saat sesi foto bersama kelompok belajar di Desa Delaki, Kecamatan Pantar Tengah, Alor-NTT

 

BIDIKNEWS.id, Alor - Pergerakan anak muda sangat menentukan derap dinamika pembangunan bangsa Indonesia, untuk itulah Stube HEMAT hadir mendampingi dan memberi peluang anak-anak muda khususnya mahasiswa untuk melihat permasalahan sosial yang ada di sekitarnya untuk melahirkan kesadaran atas permasalahan sosial di sekitarnya dan ikut andil mencari solusi.

Bermula di Yogyakarta pada tahun 1993, Stube HEMAT terus bergerak melayani mahasiswa yang datang ke Yogyakarta dari berbagai daerah dengan menyiapkan pelatihan-pelatihan yang bisa diikuti sesuai minat dan panggilan. Berbagai pelatihan tersebut antara lain, Pelatihan Pertanian Organik, Kesetaraan Gender, Kewirausahaan, Social Entrepreneurship, Permasalahan Masyarakat Urban, Pengelolaan Sampah, dan masih banyak lagi.

Advertise

Pelatihan-pelatihan ini diikuti oleh para mahasiswa dari berbagai latar belakang studi dan dari berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta. Sesuai dengan namanya Stube (Studenten Begleit dalam bahasa Jerman) yang berarti tempat pencerahan. Pelatihan-pelatihan ini berfungsi menambah wawasan pengetahuan dan pemahaman atas kehidupan yang diharapkan membantu mempersiapkan mahasiswa agar siap pulang ke daerah masing-masing setelah selesai studi di Yogyakarta dengan Motto HEMAT yang memiliki makna Hidup-Efisien-Mandiri-Analitis-Tekun.

Mahasiswa menyadari bahwa hidup manusia sangatlah singkat, sehingga harus efisien dalam memanfaatkan hidup, menumbuhkan kemandirian, kritis akan segala sesuatu yang terjadi, dan tekun untuk menggapai cita-cita, tidak mudah putus asa apabila menemui kesulitan.

Tahun 2008, pelayanan Stube HEMAT merambah ke Pulau Sumba dan tahun 2017 pelayanan bertambah ke Bengkulu. Mulai tahun 2020, pelayanan dibuka di beberapa tempat meliputi Lampung, Raja Ampat dan Alor. Bertambahnya pelayanan ini adalah program multiplikasi Stube HEMAT yang dibawa karena semangat dari para alumni aktifis yang ingin membuat pelayanan serupa ke daerahnya, menyapa mahasiswa dan anak muda daerah untuk belajar dan memahami permasalahan sosial yang ada di daerah.

"Program multiplikasi Stube HEMAT di Alor dibawah koordinasi Petrus Maure, S.Kom dengan program berjangka waktu 3 tahun dengan topik-topik yang meliputi; Pembangunan Karakter dan Kewirausahaan (2020-2021), Sumber Daya Manusia & Tantangan Global, Permasalahan Kesehatan di Alor (2021-2022), dan Demokrasi dari Zaman ke Zaman serta Social Entrepreneurship (2022-2023)," ujar Direktur Eksekutif Stube HEMAT Indonesia, Ariani Narwastujati, S.Pd., S.S., M.Pd., dalam rilis yang diterima Bidik News, Kamis (2/12/2021).

"Program-program pelatihan yang ada bisa dimanfaatkan oleh mahasiswa dan anak muda Alor untuk memperdalam topik-topik yang tersedia dengan konteks daerah Alor. Bernard Liwang (Bernadus Z. Weniliwang) merupakan aktifis alumni Stube HEMAT Sumba, yang memiliki semangat membawa pelayanan serupa untuk daerah khususnya di Desa Delaki, Pantar Tengah," pungkasnya.

Salah satu Pengurus Stube HEMAT, Pdt. Em. Bambang Sumbodo, S.Th., M.Min, dan Direktur Eksekutif Stube HEMAT, Ariani Narwastujati saat meninjau lokasi pertanian Anak Muda Desa Delaki.

Ariani menjelaskan, kunjungan ke Alor pada 26n November hingga 1 Desember 2021 merupakan kunjungan yang kedua kali. Sementara kunjungan ke Delaki, Kecamatan Pantar Tengah merupakan kunjungan pertama bersama salah satu Pengurus Stube HEMAT, Pdt. Em. Bambang Sumbodo, S.Th., M.Min, Direktur Eksekutif Stube HEMAT, Ariani Narwastujati ingin melihat secara dekat dinamika daerah dan bertemu para aktifis yang ada di Alor dan dan Pulau Pantar.

"Diharapkan dengan memperluas wawasan dengan topik-topik di atas, akan mempertajam dan menyiapkan mahasiswa dan anak muda daerah menyongsong masa depan dan berkontribusi untuk pembangunan dan pengembangan masyarakat," ujar Ariani.

Direktur Eksekutif Stube HEMAT menambahkan, peningkatan kualitas sumber daya manusia harus terus dilakukan, berjejaring dan bersinergi dengan berbagai pihak baik pemerintah daerah, lembaga swasta atau pun lembaga swadaya lainnya.

"(Stube Hemat) bersama masyarakat harus terus terjalin, terutama gereja yang menjadi salah satu basis mayoritas kemasyarakatan memiliki peran penting ikut serta membangun masyarakat yang utuh secara fisik dan spiritual. Terus melangkah maju teman-teman muda di Alor dan Pantar," ajak Direktur Eksekutif Stube HEMAT Ariani Narwastujati.

Bernadus Z. Weniliwang, salah satu aktivis Stube HEMAT Kabupaten Alor di Delaki merasa senang dengan kehadiran salah satu Pengurus Stube HEMAT, Pdt. Em. Bambang Sumbodo, S.Th., M.Min dan Direktur Eksekutif Stube HEMAT, Ariani Narwastujati di Delaki, Kecamatan Pantar Tengah dan Kabupaten Alor secara umum, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

"Saya sendiri mengikuti Stube HEMAT ini di Sumba pas salah satu cabang (Stube HEMAT) ada di sumba, sehingga ketika kembali ke Alor bertemu dengan multiplikator Stube HEMAT Alor Kak Petrus dan mulai membangun jejaring. Kurang lebih sudah satu tahun Stube HEMAT berada di Alor, dan saya yang berasal dari Pulau Pantar, Desa Delaki juga merasa bahwa sebagai aktivis Stube HEMAT perlu melakukan sesuatu di Desa/ Kampung yang dimana sebenarnya memiliki banyak potensi lokal di desa namun tidak dioptimalkan dengan baik, (baik) di bidang pertanian, pendidikan, perikanan dan masih banyak lagi," ungkapnya kepada Bidik News, Rabu (1/12/2021).

"Sehingga dengan niat dan komitmen yang kuat kami membangun kerja sama dengan pemerintah desa melalui wadah karantaruna (Desa Delaki), mulai bergerak melakukan kegiatan pemberdayaan di desa yang targetnya adalah orang muda," cetus Bernad.

Melalui Stube HEMAT kata Bernad, atas bekerjasama dengan Karangtaruna Desa Delaki telah melakukan beberapa kegiatan yang sangat bermanfaat dan mendapat respon dari masyarakat setempat.

"Saya selaku Aktivis Stube HEMAT, bersama Karangtaruna, Pak Deriko Wabang (Ketua Karangtaruna), dan beberapa teman pemuda lainnya mulai bergerak dengan pertama kali mendatangkan Multiplikator Stube HEMAT (Kabupaten Alor) Kaka Petrus Maure untuk memberikan pelatihan minyak kemiri asli dan kemudian dilanjutkan oleh pemuda delaki dengan memproduksi lebih dari 50 kilo dalam jangka waktu berjalan. Selanjutnya kami juga membentuk kelompok belajar (Rumah Baca dan Kelas Bahasa Inggris), membuka pertanian (beragam sayur-sayuran) serta membangun spot foto," bebernya.

"Beberapa program anak muda ini akhirnya menarik perhatian Stube HEMAT Yogyakarta untuk melihat langsung semangat pergerakan anak-anak muda di Desa Delaki (Kecamatan Pantar Tengah, Alor-NTT), sehingga tanpa berlama-lama, kurang lebih 4 bulan kami melangkah, Tim Stube HEMAT akhirnya sampai ke Pulau Pantar, khususnya Desa Delaki. Dua orang tersebut diantaranya Ibu Ariani (Direktur Eksekutif Stube HEMAT) dan Pak Bambang sumbodo (Salah Satu Pengurus Stube HEMAT)," ungkap Alumnus Sekolah Tinggi Teologi Gereja Kristen Sumba (STT GKS).

Laporan: Markus Kari
Editor: Markus Kari