Tahun “Baru” dan Akal Sehat

4

Refleksi Akhir Tahun
Oleh; Munir Sara (Aktivis Literasi)

Sejak hari ini, miliaran orang di dunia, wa bil khusus para politisi (caleg) mengalami surplus ucapan SELAMAT TAHUN BARU. Bayangkan, kalau waktu itu makhluk seperti manusia, tentu dia merengkuh berkah bukan main berlipat, karena masyarakat dunia termasuk para caleg di Indonesia, mengucapkan selamat padanya (waktu). 
Yang menjadi aneh adalah, mengapa waktu yang menjadi objek penyelamatan dangan ucapan “SELAMAT TAHUN BARU.” Waktu adalah entitas kosmos yang tidak butuh segala rupa doa keselamatan padanya.

Kita mau doa atau tidak pun, waktu tetap bersiklus menurut hukum-hukum kodrat-Nya. Dia tetap menjadi entitas jagad raya, yang secara mekanis berrotasi menurut hukum-hukum ruang dan waktu (sunatullah). Manusia tidak perlu repot-repot atau bersusah payah menyelamatinya dengan segala rupa doa upaya dan ucapan selamat pada tahun.

Advertise

Baca Juga

Tidak ada yang baru dalam waktu; karena tahun yang kita sebut baru, hanya tanda dari siklus ruang dan waktu yang teratur; pengulangan. Siklus hanyalah perputaran waktu yang berulang. Begitu dan seterusnya.

Bayangkan, jika waktu adalah materi, karena berkait dengan benda kosmos, lalu mengapa manusia begitu getol memberinya ucapan keselamatan dengan berupa-rupa cara pada ruang dan waktu yang bersiklus itu?

Sebagaimana dengan manusia, benda-benda jagad raya seperti bulan, bintang, matahari, planet dan satelitnya, dia tak memiliki dimensia ruhiah seperti manusia. Oleh karena itu, manusialah entitas kosmos, atau makhluk terbaik jagad raya, (QS : At-Tin : 4). Oleh karena itu, siklus kesadaran manusia secara mikrokosmoslah yang paling sempurna.

Karena salah meletakkan objek penyelamatan, maka terkadang, manusia salah mengartikan siklus waktu. Siklus bukan pergantian. Namanya juga siklus, sebagaimana kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), disebut; siklus adalah putaran waktu yang di dalamnya terdapat rangkaian kejadian yang berulang-ulang secara tetap dan teratur; daur.

Karena salah mengartikannya, maka ritual atau kelakuan untuk menyambutnya (tahun) pun aneh-aneh. Dari segala rupa perayaan hedonis, hingga plesir sana sini menghambur-hambur uang. Padahal tiap hari, ia berada dalam proses siklus waktu itu sendiri !

Lucunya adalah, yang dia sebut BARU dan perlu diberi berkah keselamatan dengan ucapan dan tingkah laku itu adalah suatu SIKLUS; pengulangan. Bukan sesuatu yang baru yang bersifat esensi !

Agar nalar kita tidak aneh permanen, maka sebaiknya, kita pentingkan dulu siklus kesadaran. Jika waktu bersiklus menuju titik konstan, maka demikian pun siklus kesadaran manusia terus menuju keseimbangan ragawia dan spirituality. Disini semestinya nalar kita berada.

Yang patut dilakukan manusia adalah menangkap realitas di balik siklus waktu. Pada-Nya keselamatan manusia disandarkan. Demikianlah akal sehat digunakan untuk memahami realitas kosmos!

Wallaahu a’alam bishshowaab….