Tarian Cakalele Alor Mewarnai Peringatan Ulang Tahun Gereja di Makassar

9

Makassar, bidiknews.net Tarian Perang Cakalele, Tarian adat Khas Alor mewarnai Acara Peringatan 50 Tahun Gereja Protestan Indonesia bagian Barat (GPIB) Jemaat Bethania. Acara yang berlangsung pada Sabtu 8 September 2018 ini diharapkan bisa menjadi motifasi keimanan dalam menjalankan ibadah, Juga mempertahankan nilai nilai kedaerahan yang jua adalah ciri keanekaragaman budaya Nusantara. Kegiatan yang berlangsung di Gereja Bethania Jln Gunung Nona Kec. Ujung Pandang Kota Makassar ini diharapkan agar bisa menjadi lebih baik dalam pelayanannya kedepan, ungkap Icha, sekretaris Panitia kehiatan. Sekitar tujuh Daerah/Suku di Indonesia menampilkan Pertunjukan dari seni budayanya masing masing, Ada Toraja, Ambon, Batak, Papua, Dayak, Bali, Jawa dan Alor dengan Cakalelenya. Pecah haru, ria dan tawa serta Khidmat Pengunjung dan Jemaat menikmati Cakalele yang dipentaskan oleh Pemuda bahkan Anak anak Asli Alor. “Orang Paling riuh dengan Penampilan Cakalele, bagaimana tidak Tarian Perang Cakalele ini adalah Tarian yang menggetarkan, kadang penonton ju takut, dong kira betul dong mau di serang” Ungkap Dekonius, salah satu Pemeran Aksi Tarian Cakalele. Hadir juga dalam acara ini, Ketua Umum Persatuan Mahasiswa Alor, PERSMA NTT Makassar; Suhardi Karim Gorang, S. Pd, beliau berharap Kearifan lokal Alor itu perlu dijaga dan dipertahankan “Cakalele merupakan satu dari sekian budaya Alor, melalui kegiatan kegiatan seperti inilah kearifan lokal Alor itu harus dipertahankan” tutr beliau. Ada dialektika yang digambarkan dalam pentas cakalele kali ini, Gereja GPIB Bethania sendiri dibangun pada masa masa peperangan, sehingga Tarian Perang cakalele ini cocok dan mampu menggambarkan keadaan lahirnya gereja ini. Adapun suku suka yang lain mengingat jemaat gereja ini juga berasal dari berbagai kalangan dan suku yang berbeda, sehingga menampilkan pentas kedaerahan merupakn upaya mempertahankan budaya budaya jemaatnya.