Terkait Keluhan Masyarakat soal kamar kosong, ini Respon RSUD Syekh Yusuf Gowa

55

Gowa, bidiknews.net
Sebuah postingan beberapa waktu lalu yang sempat viral di sosial media terkait pelayanan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Syekh Yusuf Gowa; bahwa pihak rumah sakit diduga tidak memberikan fasilitas kamar bagi pasien IGD yang sudah 5 jam menunggu kepastian.

Dalam postingan tersebut, TS menyebutkan, jika anaknya mengalami infeksi saluran kencing dan butuh perawatan serius, namun setelah di cek oleh petugas, kamar untuk pasien dengan penyakit dimaksud ternyata tidak tersedia, mendapat informasi tersebut, TS meminta tolong rekannya untuk mengecek kamar kosong melalui aplikasi BPJS dan ternyata ada.

TS sempat menyinggung, jika dirinya menggunakan BPJS, sehingga kemungkinan tidak dilayani oleh pihak Rumah Sakit Syekh Yusuf, dan menyebutkan jika dirinya bahkan menawarkan untuk dirawat umum, pun pihak IGD masih bertahan, karna tidak adanya fasilitas kamar yang kosong.

Advertise

Baca Juga

 

Menanggapi persoalan ini, Kepala Pelayanan Medik RSUD Syekh Yusuf; dr. Suryadi membenarkan kejadian tersebut, dan mengaku mengetahui persis persoalannya. Melalui pesan WhatsApp pada Rabu, (08/01/2019) Kepada media ini, dr. Suryadi menjelaskan duduk persoalannya. Berikut penjelasannya;

“Di Rumah Sakit itu kan ada beberapa ruang perawatan. Jadi Perawatan I misalnya untuk perawatan penyakit paru paru, perawatan II untuk pasien anak, perawatan III untuk penyakit kandungan dan kehamilan, perawatan V untuk penyakit bedah, Saraf, THT, Kulit dan Perawatan VII untuk penyakit dalam”, terangnya. Lanjut beliau

“Ini yang biasa kurang dipahami oleh masyarakat, misal dia pasien bedah kelas II. Mungkin saja di aplikasi BPJS ada kelas II yang kelihatan kosong, tapi belum tentu itu di perawatan V untuk pasien bedah… tapi bisa saja di perawatan I untuk penyakit paru paru misalnya. Nah inikan tidak bisa digabung antara pasien bedah yang tidak infeksi dengan pasien paru paru. Nanti sudah diobati penyakit bedahnya, tapi pulang malah tertular penyakit paru paru” sebut dr. Suryadi menjelaskan.

Lebih lanjut dr. Suryadi menyebutkan, “Jika kamar kosong yang ditampilkan oleh aplikasi BPJS, adalah rekap dari seluruh unit perawatan yang tersedia di Rumah Sakit. Sehingga walaupun terdapat kekosongan pada kelas dan perawatan yang sama, namun tetap beda klasifikasi penyakit, maka ditakutkan justru terjangkiti penyakit yang lain. Dan hal ini yang tidak terbaca oleh sistem BPJS. Sehingga berpotensi menimbulkan kesalah pahaman Masyarakat”. Ungkap dr. Suryadi.

Namun dr. Suryadi meminta maaf atas kerisauan masyarakat, dan mengakui jika hal itu merupakan kelemahan timnya dalam berkomunikasi (menjelaskan), sehingga menimbulkan kesalahpahaman publik. Namun, tidak tinggal diam, pihak Rumah Sakit juga telah memasang Monitor LCD di Ruangan IGD sebagai pusat informasi kamar kosong per ruang perawatan dan klasifikasi penyakitnya. Sehingga masyarakat bisa mengetahui langsung kamar kosong, sesuai spesifikasi penyakitnya.

Redaksi Bidik News